Berita

Al Muqtatofat: Kitab Kajian Rutin Warga Krapyak

Admin MSN | Kamis, 26 Oktober 2017 - 20:08:44 WIB | dibaca: 142 pembaca

Kitab Mukhtashar al Muqtathofat li Ahl al Bidayat (Ringkasan Untaian untuk Para Pemula) karya KH. Marzuki Mustamar

Kitab Mukhtashar al Muqtathofat li Ahl al Bidayat (Ringkasan Untaian untuk Para Pemula) karya KH. Marzuki Mustamar –berisi dalil-dalil amaliyah warga nahdhiyyin– menjadi salah satu kitab rutin yang dikaji oleh masyarakat Krapyak Wetan Bantul Yogyakarta. Pengajian rutin mingguan ini digelar setiap Jum’at ba’da sholat maghrib (malem sebtu) bersama H. Umaruddin Masdar di masjid Kamaluddin. Sebagai mukaddimah sebelum mengaji kitab Al Muqtathofat, beliau selalu tawassul kepada para founding father NU dan ulama’ sekitar, dan membaca sholawat.

Kiai Umar pada Jum’at (13/10) minggu lalu memaparkan pentingnya dzikir bagi seorang muslim sebagaimana termaktub dalam kitab Al Muqtathofat (bab ke-3 tentang jenis-jenis dzikir, nomor 4), sembari memtamsilkan pemuda yang ahli ibadah dan dzikir adalah pemuda yang istimewa. “Ucapan e kadang mboten dangu tapi maknane, ganjarane katah, nggeh niki wau subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah, paling rampung setengah menit, jenengan maos niku luweh apik tinimbang dunyo lan sak isine” tutur Koordinator Nasional Pendidikan Khusus Da’i Ahlussunnah Wal Jamaah Nahdhatul Ulama (Koornas Densus 26 NU).

Beliau melanjutkan bahwa ibadah dan dzikir yang dilakukan sendiri akan terasa berat dan lama namun jika dilakukan berjamaah akan terasa ringan , “ngoten niku berkah e jamaah, sholat jamaah keroso lebih ringan tinimbang sholat dewe, lek jama’ah nopo-nopo mawon niku keroso entheng, mobil mogok dorong dewe abot, tapi lek jamaah enteng, jenengan traweh 22 rokaat lek deweean abot, tapi lek jamaah ra kroso, rampung, jenengan tahlilan lek dewean, suwi, abot, tapi lek pas jamaah enteng, nopo maleh jenengan ngantuk, tangi-tangi entuk berkat, kroso enteng”, kelakarnya. Kemudian penulis buku “Agama Orang Biasa” ini menghimbau jamaah masjid Kamaluddin agar membiasakan ibadah dan dzikir dengan berjamaah.

Pada malem sebtu (20/10) beliau melanjutkan hadits riwayat Abu Hurairah R.A. dalam kitab Al Muqtathofat (bab ke-3 tentang jenis-jenis dzikir, nomor 5) yang mempunyai arti: “Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu lahulmulku walahulhamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodir 100 kali dalam sehari maka baginya seperti telah memerdekakan 10 budak, dicatat 100 kebaikan, dihapus 100 keburukan, dijaga dari godaan syaitan di hari ia membacanya, dan tiada orang yang lebih utama darinya kecuali orang yang telah membaca lebih dari 100 kali”.

Hal yang paling utama dalam mengaji adalah praktik, karena sebagian dari makna manfaat terletak pada aplikatifnya. Sehingga oleh Bapak Sekretaris Wilayah DPW PKB Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini kemudian mengajak seluruh jamaah malem sebtu untuk langsung mengaplikasikan ilmu yang telah didapat yaitu membaca laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu lahulmulku walahulhamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodir secara berjamaah sebanyak 100 kali.

Sesuai arti harfiah dari kitab rutin Masjid Kamaluddin ini (Ringkasan Untaian untuk Para Pemula), yang berisikan untaian-untaian hadist sahih kultur ubudiyah masyarakat, maka kehadirannya pun menjadi sebuah pondasi keabsahan tradisi ibadah yang sudah mendarah daging seperti tahlilan, qunut, dan sebagainya, sebagaimana tuturan Khotimah (salah satu jama’ah), “adanya pengajian ini sebagai penguat tradisi ubudiyah masyarakat karena masyarakat di sini tidak hanya bertetangga dengan sesama warga nahdhiyyin saja”. Wallahu a’lam. (Rifa/Mal)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)