Opini

Antisipasi Syahwat Kenikmatan Sesaat

Admin MSN | Sabtu, 29 Juni 2019 - 09:48:21 WIB | dibaca: 231 pembaca

Oleh : Febi Akbar Rizki
 
   Jatuh cinta itu berjuta rasanya, begitu kata sebuah lirik lagu. Dunia serasa milik berdua ketika sedang pacaran. Siapa yang tidak suka jika ada orang yang memperhatikan, selalu menanyakan kabar, mengingatkan untuk makan, mandi, tidur, bangun, kuliah sampai perkara ibadah. Bergandengan tangan saja sudah bikin jantung berdebar, apalagi kalau bisa jalan bareng pacar. Dirinya seperti sudah resmi dan sah milik kita dan diri ini menjadi miliknya.
 
   Sosok dia yang selalu ada, mendampingi setiap waktu secara offline maupun online selaras dengan situasi dan kondisi kaum muda yang sedang labil-labilnya. Balasan chatting darinya merupakan momen yang paling ditunggu setiap detik, lebih-lebih jika ada tambahan ‘emotion’ love yang berdenyut dan sejenisnya, “Bahagianya hati abang dek” sepenggal kalimat yang mewakili perasaan yang berada pada puncaknya berbunga-bunga.
 
   Sangat tidak mungkin jika hanya sebatas itu. Sehingga kemudian sayang-sayangan dan mulai muncul syahwat yang menjelma pada kata rindu. Karena pada dasarnya sudah saling menyukai, apapun keinginan pacarnya pasti akan dituruti. Pasca jadian, seseorang cenderung rela untuk berkorban demi kebahagiaan pasangannya. Sehingga mereka menjadi bucin (budak cinta) secara lahir dan batin.
 
   Sebagai dampaknya, adalah hal yang biasa jika sering berduaan, berboncengan dan bersentuhan. Berawal dari kebiasaan yang sudah dianggap wajar, setiap sirkulasi pacaran menjadi suatu kenikmatan sesaat yang membuat candu ingin lagi dan lagi. Ternyata, sebagian orang tua pun mendukung anaknya dalam menjalin syahwat kenikmatan sesaat ini, dengan alasan sebagai penyemangat dalam belajar. Faktor lingkungan juga tidak membatasi proses terjalinnya kisah asmara kaum muda ini, sehingga proses berpacaran akan terus berkelanjutan.
 
   Fase awal terasa sangat indah dan membahagiakan, satu sama lain saling memberikan perhatian dan kasih sayang yang luar biasa.  Saking perhatinnya, melihat pacarnya online tapi tidak  segera membalas WhatsApp darinya bisa menjadi hal yang menyebalkan. Kemudian, ketika tukar kabar soal kegiatan tidak cukup hanya dibalas dengan jawaban, namun ingin melihat langsung foto atau PAP dari pacarnya.
 
   Melangkah ke fase selanjutnya, panggilan ‘sayang’ sudah menjadi hal yang biasa di telinga, sudah tidak terdengar istimewa  lagi. Ada embrio kebosanan yang mulai muncul saat sudah mengetahui sifat asli dari pacarnya. Hubungan pacaran pun mulai renggang, tidak nyaman dan berakahir pada kata putus. Lalu, memberikan efek cacat hubungan pada teman-teman dan keluarganya masing-masing. Padahal menjalin hubungan tidak sebercanda itu, jika terbiasa putus nyambung dari muda maka kebiasaan seperti itu cenderung akan terbawa di masa tua.
 
   Zaman sekarang putus hubungan saat pacaran menjadi fenomena yang tidak aneh dalam pandangan masyarakat. Tidak sedikit para pemuda yang menjaga jodoh orang lain saat menyandang status berpacaran selama bertahun-tahun tapi putus di tengah jalan dan menikah dengan orang lain. Budaya semacam ini sangat berbahaya bagi masa depan kaum muda. Sebab, mereka sama saja meremehkan suatu hubungan.
   
   Oleh karena itu, cukup sulit menjadi pemuda yang berani memegang prinsip yang kuat dan memiliki komitmen yang kuat saat ini. Stok pemuda yang benar-benar memiliki cinta sejati pun sangat minim. Dari sekian banyak orang disukai, hanya berani memilih satu orang untuk menjadi  teman hidup dalam suka dan duka bersama.Tidak sulit untuk mencari pasangan yang goodlooking dan kaya raya, tapi tidak mudah menemukan pasangan yang setia.
   
   Menjaga komitmen itu mudah diucapkan namun sangat sulit dilakukan, banyak orang siap berbagi kesenangan dan sayang-sayangan. Sebaliknya, tidak semua orang berani menanggung kekecewaan dan resiko negatif ketika menjalin hubungan. Itulah kenapa komitmen bukan tentang kata melainkan bukti perlakuan. Setia itu berarti dia mempunyai potensi untuk berpindah ke lain hati atau selingkuh tetapi dia memilih untuk tetap menjaga dan tidak sebenarnya.
 
   Pernikahan adalah momen sakral yang setiap orang berharap hanya dilakukan sekali seumur hidup, sebuah keputusan remaja dewasa sebagai ekspresi komitmen dalam menjalin hubungan dengan orang yang dicintai. Sebuah bukti nyata dari cinta yang sejati karena sudah benar-benar siap menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan untuk saling melangkapi, tentunya dengan kesiapan yang matang secara mental dan keseluruhan.
 
   Bagi remaja yang sudah menginjak usia dewasa, perhatian dan kasih sayang menjadi kebutuhan yang perlu dipenuhi. Namun untuk menemukan pasangan yang setia bukan seperti  mencari koalisi partai sesuai kepentingan saja, ketika sudah tidak ada lagi kepentingan atau sudah tidak lagi cocok dengan mudah memutuskan hubungan dan mencari lagi yang baru, begitu seterusnya. Ketika sudah terlanjur menerjang batasan, barulah merasakan penyesalan di belakang.
 
    Pasangan hidup bukan hanya untuk tempo sementara setahun dua tahun, tapi selamanya. Seorang manusia yang menjadi teman sehidup sesurga. Banyak sekali terdengar berita teman sebaya yang menikah di usia muda bukan karena cinta, tapi karena hamil diluar nikah. Kemudian banyak tersebar berita perceraian dari kalangan masyarakat biasa sampai kalangan masyarakat elit di Indonesia. Persoalan ini bukan perkara yang wajar, bukan sebuah peristiwa yang bisa dianggap hal biasa dan bukan kejadian yang lucu.
 
  Oleh karena itu, daripada mengalami hal yang tidak diinginkan lebih baik menjauhi syahwat kenikmatan sesaat. Jika masih merasa labil dan belum siap untuk komitmen, jauh lebih penting memperbaiki diri terlebih dahulu. Karena jodoh itu cerminan, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Sehingga, prioritaskan waktu di masa muda untuk terus berproses, belajar dan berusaha dalam mempersiapkan masa depan. Jadilah jomblo sebagai antisipasi syahwat kenikmatan sesaat, tidak perlu takut kehabisan jodoh. Seperti dogma inspiratif dari kolom Mojok: Buku di Tangan Kiri, Kopi di Tangan Kanan, Jodoh di Tangan Tuhan.
 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)