Opini

Apa Yang Dimaksud Mafhum?

Admin MSN | Minggu, 18 Maret 2018 - 16:05:11 WIB | dibaca: 126 pembaca

Menurut ulama Ushul Fiqh, Pengertian mafhum adalah :

"Penunjukan lafadz yang tidak dibicarakan atas berlakunya hukum yang disebutkan terhadap apa yang tidak disebutkan, atau tidak berlakunya hukum itu".

 

Mafhum juga terbagi menjadi dua , yakni

1) Mafhum muwafaqoh

2) mafhum mukholafah

 

Disebut Mafhum muwafaqoh , bila hukum yang dipahami itu bersamaan dengan hukum yang secara jelas disebutkan, sementara mafhum mukholafah adalah bila hukum yang tidak disebutkan, berlawanan dengan hukum yang disebutkan.

 

Analoginya seperti ini , (Pasal Nikah)

Jika Mafhum muwafaqohnya,  "mahasiswa sedang berjanji ingin menikah sesudah lulus kuliah",

Maka mafhum mukholafahnya,  kalau dia belum lulus, berarti belum boleh menikah.

 

Begitu pula dalam Pasal Sai, sai merupakan suatu rukun haji. Dan sebuah rukun, hukumnya wajib di jalankan. Tapi ketika kita menelisik  dalil yang menjelaskan tentang sai , maka berbunyi :

 

Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu adalah daripada syiar-syiar Allah jua. Maka barangsiapa yang naik haji kerumah itu atau umrah, tidaklah mengapa bahwa dia keliling pada keduanya. Dan barangsiapa yang menambah kerja kebaikan, maka sesungguhnya Allah ada­lah Pembalas terimakasih, lagi Maha Mengetahui. (Al baqoroh : 158)

 

Mengapa Dalam dalil tersebut, redaksinya adalah “Fala Junaaha” ، yang berarti (tidaklah mengapa). Seakan akan, Sai sifat dan redaksinya yakni mubah (boleh), bukan wajib ?

 

Ternyata, pada saat itu , tempat yang di pergunakan untuk sai (bukit Shofa dan marwa),  terdapat beberapa berhala . Jikalau redaksinya secara jelas dikatakan “fa wajabaa”(maka wajib), tentu orang orang nasrani dan yahudi menganggap bahwa agama Islam pun, seakan akan mewajibkan pengikutnya untuk menyembah berhala yang terdapat di bukit shofa dan marwa.

 

Oleh karenanya, dalam Al quran , redaksinya adalah “fala Junaha”، (tidaklah mengapa).  Artinya, Allah memberi pesan tersirat bahwa lari lari kecil antara sofa dan Marwa tidak mengapa (diperbolehkan), tanpa harus takut terhadap anggapan orang orang tentang musryik. meskipun di bukit shofa dan marwa terdapat beberapa berhala.

 

Begitu pula dalam hal menziarahi makam Rasulillah SAW. beliau pernah bersabda :

Sabda Rasulullah saw :

“Diantara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman sorga, dan mimbarku diatas telaga Haudh” (Shahih Bukhari)

 

Diantara rumah beliau  dan makam beliau (sekarang merupakan bagian yang terdapat dalam masjid nabawi), bahkan Ketika jamaah di masjid nabawi meluber, maka jamaah akan sampai dan menghadap pada pemakaman baqi'. Apakah doa di  situ merupakan hal musyrik? Tentu tidak. Sesuai dengan sabda rosul, ini merupakan taman taman sorga, maka ketika berada diantara taman taman sorga, kita sangat dianjurkan oleh Allah, “Berdoalah kepadaku, maka aku akan mengabulkannya untukmu”..

 

Berdoa dimasjid nabawi, diantara makam nabi maupun menghadap makan baqi, tidaklah mengapa. Karena hakikatnya kita menjalankan perintah allah yakni berdoa kepada Allah SWT.

 

Jadi poin yang dapat kita ambil di sini adalah "kewajiban lebih penting dijalankan daripada anggapan orang lain tentang syirik".

 

sungguh, selalu ada nilai nilai baik yang tersirat dalam kalamulloh. Semoga kita dapat menggali lebih jauh lagi, sehingga dapat menambah keimanan dan kataqwaan atas keindahan allah SWT. Aaaammin.

 

penulis : Muhammad Fathurrozaq

Mahasiswa UIN maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivis PKPT IPNU IPPNU UIN Maliki Malang.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)