Opini

Arti Kemanusiaan pada Hari Raya Qurban

Admin MSN | Minggu, 26 Agustus 2018 - 09:49:28 WIB | dibaca: 59 pembaca

gambar merupakan ilustrasi

Oleh: Rifqi Hayyinul Ula

Umat Islam memiliki dua hari raya yang sangat istimewa, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Jika Idul Fitri dilaksanakan pada  tanggal 1 Syawal,  setelah para umat Islam melakukan puasa wajib selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, dimana di bulan itu  semua umat Islam mendapatkan keberkahan, amalan akan dilipatgandakan, dan secara tidak langsung umat Islam dilatih untuk berpuasa, melatih hawa nafsu  dari semua godaan, tidak hanya menahan makan dan minum, tapi juga hal tersebut dapat diambil hikmah bahwa kita menjadi faham, mengerti, dan memahami bagaimana kehidupan orang-orang fakir miskin yang setiap harinya sulit mendapatkan sesuap nasi untuk mereka makan.

 

Sehingga hal tersebut dapat menghindarkan manusia dari sifat-sifat sombong, takabbur dan pelit karena semua merasakan bagaimana rasanya menahan lapar dan itu mendorong umat manusia untuk saling memberi dan tolong menolong kepada sesama umat manusia. Hal yang tidak jauh berbeda adalah ketika melaksanakan hari raya Idul Adha. Hari raya Idul Adha juga menjadi hari yang menyadarkan bahwa manusia adalah makhluk yang benar-benar sempurna dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya, dimana manusia tidak boleh saling menganiaya terhadap manusia atas nama Tuhan.

 

 Maka tidak heran jika hari raya Idul Adha dikatakan sebagai hari raya qurban. Selain untuk mengingatkan peristiwa besar antara Nabi Ibrahim yang menyembelih anaknya sendiri Nabi Ismail atas perintah Allah dan kisah tersebut  menjadi awal mula dianjurkan berqurban bagi yang mampu, namun juga mengadung aspek-aspek kemanusiaan. Hewan-hewan yang diqurbankan sebenarnya adalah bagian  dari korban-korban yang lebih besar untuk kemaslahatan berjuang di jalan Allah.

 

Esensi qurban sendiri tidak hanya sekedar mengalirkan darah yang dapat mengantarkan pada rahmat dan berkah Allah, melainkan sebuah pengorbanan  melawan segala hal yang dapat menjauhkan diri dari Allah dan perjuangan mendekatkan diri kepada Allah melalui kebaikan-kebaikan yang tidak hanya hubungan dengan Allah tapi juga hubungan dengan manusia.

 

Sikap dari Nabi Ibrahim dan Ismail ini dapat dijadikan contoh. Bahkan Allah dalam QS.  As-Saffat ayat 108-111 berfirman bahwa nama Nabi Ibrahim diabadikan dan menjadi pujian bagi orang-orang yang akan datang.  Allah telah memberi kesejahteraan bagi Nabi Ibrahim atas keimanan dan kebaikannya. Jika Allah saja sudah berfirman dalam naas-Nya, lalu pantaskah kita  tidak meyakini-Nya? Tidak mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim?

 

Dapat kita lihat bahwa kisah Nabi Ibrahim selain mengajarkan umat manusia untuk selalu beriman dan selalu bersabar adalah pentingnya memuliakan manusia yang telah difirmankan Allah dalam QS. Al-Isra'.

 

Tapi sayangnya hal itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Pada zaman sekarang banyak kerusuhan, begal, teror dan kekejaman yang lain. Hal tersebut seharusnya dapat kita hindari dengan cara menahan dan menjauhkan diri dari nafsu serta sifat kebinatangan yang destruktif. Maka aspek kemanusiaan dan persaudaraan menjadi sangat penting dan harus dijaga, yang berarti sekaligus kita juga turut menjaga alam semesta dan seisinya dari kekejaman yang tidak diinginkan. 

 

Aspek kemanusiaan sebenarnya ada pada ibadah atau amaliah yang kita lakukan, misalnya daging hewan yang dikurbankan pasti tidak akan diterima sebelum dibagikan kepada orang lain, ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan tidak akan diterima sebelum membayar zakat, begitulah ibadah haji tidak menjadi sempurna apabila seseorang tetap saja berbicara kotor.

 

Nabi Muhammad SAW dalam haji wada' atau haji perpisahan telah berkhotbah tentang kemanusiaan. Isi dari khotbah sebelum Nabi Muhammad meninggal tersebut adalah mengingatkan kepada manusia bahwa: 1) tidak boleh menghalalkan darah saudaranya sendiri, 2) semua umat adalah bersaudara, 3) bahwa kita semua hanya memiliki satu Tuhan yaitu Allah SWT, dan terakhir 4) kita harus selalu takut kepada Allah.

 

Oleh karena itu di moment yang berbahagia Hari Raya Idul Adha 1439 H ini marilah kita saling menghormati dan saling menolong antar manusia. Apalagi kita sebagai santri harus mampu menjadi contoh untuk memanusiakan manusia karena di pondok pesantren kita sudah dilatih hidup bersosialisasi dengan teman menggunakan akhlak-akhlak yang baik.

 

Jadi patut disayangkan jika kita tidak menjadi pelopor dalam perdamaian dan persaudaraan karena Islam tidak hanya memiliki persaudaraan antar sedarah tapi juga Islamiah, wathoniyah, tetapi juga persaudaraan basyariah karena "dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan", Ali bin Abi Thalib. Mari kita menjalani hidup layaknya ikan guppy dalam laut tetap tawar meski dalam air asin tetap kukuh dan toleran meski banyak perbedaan. (*/zfnf










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)