Sastra

Bacalah dengan Menyebut Nama Tuhanmu

Admin MSN | Selasa, 07 November 2017 - 21:55:39 WIB | dibaca: 216 pembaca

Di sebuah pesantren kecil

tak jauh dari kecamatan desaku

sedang berlangsung hikmat

ngaji dan bersolawat

 

terlihat seorang anak kecil memakai peci

dengan serius ia mengeja

lafadz-lafadz kitab suci

dilantunkan dengan begitu lantangnya

 

ia sadar, sambil terbata

mencoba memahami apa yang dibaca

sesekali ia garuk-garuk kepala

mungkin malu ditegur gurunya

 

anak kecil itu mengulangi bacaannya

“kul laukaanal bahru..”

kemudian berhenti sejenak, lalu membaca lagi

“kul laukaanal bahru..”

ia berhenti lagi sambil mengingat

kira-kira apa huruf selanjutnya

 

 

lalu dia menoleh ke gurunya

dan mesem dengan santainya

menandakan ia lupa dengan ayatnya

 

Sang Guru geram,

saat hampir marah, dengan polos anak itu berkata

“Guruku, maafkan aku

melantunkan ayat suci ini

dengan lantang dan sumbang,

maka ajarkan sampai aku paham;

bahwa ayat ini bukan alat untuk mencari kambing hitam;

bahwa ayat ini bukan senjata untuk memulai perang;

bahwa ayat ini bukan alat untuk saling menyalahkan;

bahwa ayat ini bukan dasar agar kita merasa paling benar.

 

Guruku yang baik hati dan mulia

Banyak sekali di luar sana yang mengaku pemimpin agama;

yang hebat mencaci dan memaki

yang kokoh memposisikan diri menjadi tokoh untuk menghasut dan mencemooh

yang mengkafirkan berlandaskan kitab suci

yang mengaku paling dekat dengan nabi

yang nyaring berbunyi sabda ilahi padahal otak kosong tak berisi.

 

 

Guruku yang arif dan bijaksana

ajarkanlah kepada kami agar benar-benar paham bagaimana menjadi manusia;

yang benar-benar manusiawi

yang bukan manusia mati dan mengejar benda-benda mati

yang tak bisu dan tuli agar manfaat ilmu kami”

 

Sang Guru hanya tersenyum

dan berkata kepada muridnya itu

“Nak, tumpulkan bencimu bukan otakmu

tajamkan pikiranmu bukan mulutmu

dan tetaplah apa adanya

agar tak menjadi orang bodoh yang banyak bicara”

 

Pengajian itu berakhir hikmat

santri pun pulang dan beristirahat

dan tetap berfikir

menjadi manusia yang manusia butuh perjuangan yang berat.

 

Sidoarjo, 2017

Cak Ginksul

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)