Berita

Bangun Masyarakat Pluralis, Prasasti Fasilitasi Dialog antar Tokoh Beragama

Admin MSN | Selasa, 31 Oktober 2017 - 21:38:53 WIB | dibaca: 163 pembaca

Malang -- Di tengah gencarnya arus politik identitas yang berpotensi memecah belah keutuhan berbangsa dan bernegara, kita perlu membangun sebuah lentera harapan. Lentera yang tidak hanya berdiam lalu padam, melainkan lentera yang menyulut lentera lainnya agar berjajar berbaris mengitari disetiap sudut RT/RW diseluruh Sabang sampai Merauke. Lentera yang kita maksud itu adalah kerukunan antar umat beragama.

Selasa pagi (31/10), Himpunan Mahasiswa Jurusan ilmu pemerintahan bekerja sama dengan Prodi Ilmu pemerintahan menggelar seminar Nasional bertajuk “Prakarsa Argumen Silang Tokoh Indonesia”, disingkat Prasasti.

Seminar tersebut mengusung tema “Membangun Masyarakat Pluralis dalam Bingkai Kebhinekaan”, dengan menghadirkan para pemuka agama di Kota Malang, yaitu KH Marzuki Mustamar (tokoh Islam), Xs Buanajaya (tokoh Kong Hu Cu), Dewa Agung M Hum (tokoh Hindu), Romo Teguh (tokoh Katholik), Pdt Mario David (tokoh Protestan), dan Bhante Jayamedho (tokoh Budha).

Acara yang diselenggarakan di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya itu kurang lebih dihadiri oleh 200 peserta. Para peserta nampak antusias dengan pernyataan tokoh-tokoh agama yang dihadirkan. Misalnya ketika KH Marzuki Mustamar mengawali pernyataan dengan kalimat “Agama itu Ketulusan”.

Dalam pernyataannya, Kiai yang juga menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur tersebut menjelaskan, bahwa agama tidak membenarkan upaya untuk memanfaatkan agama (politisasi agama) demi kepentingan nafsu belaka.

Pengasuh PP Sabilur Rosyad Gasek itu selanjutnya berkisah tentang seorang sahabat yang hendak menghukum cambuk peminum khamr. Ketika si sahabat hendak mencambuk, terpidana khamr itu meludahinya. Karena takut memanfaatkan agama demi kepentingan nafsu balas dendamnya, yakni mencambuk dengan niatan membalas perbuatan meludah terpidana, maka sahabat nabi itupun berhenti mencambuk.

Benih perdamaian juga disemaikan tokoh-tokoh agama yang lain. Bhante Jayamedho mengemukakan, bahwasannya yang dicari oleh semua orang beragama adalah keselamatan dan kebahagiaan. Keselamatan dan kebahagiaan tidak akan dapat diraih tanpa adanya perdamaian.

 “Kebahagiaan adalah hilangnya rasa ketidakpuasan” ujar Beliau mengawali pembicaraan panjang mengenai perdamaian dan pluralisme dengan kata yang mudah dipahami oleh para peserta.

Pluralisme dan rasa toleransi harus senantiasa dirawat dengan menekan egosentrisme. Fakta sejarah menunjukkan bahwa diskriminasi yang dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap minoritas akan berkesinambungan jika kesadaran terhadap pluralisme tidak dipupuk.

Bila penindasan terhadap minoritas non-muslim terus dilakukan oleh muslim sebagai mayoritas, maka tidak menutup kemungkinan bahwa muslim di tempat lain, yang kebetulan menjadi minoritas, juga akan mengalami penindasan. Sebaliknya, bila perdamaian disemai oleh mayoritas di manapun berada, maka ketika mayoritas tersebut menjadi minoritas di daerah lain, maka tidak akan ada ancaman yang didapatkan akan dirawat pula.

Di akhir sesi, pertanyaan dari peserta seminar membuat nuansa dialog terbangun dengan baik, melalui interaksi antara pemateri dan pendengar.  Harapan ke depan, acara bernuansa “adem” sejenis Prasasti akan merebak di daerah lain; Sehingga politik identitas dan penjualan isu SARA tidak mempengaruhi kedamaian yang sudah terbentuk sejak zaman majapahit di nusantara.

Lantas muncul satu pertanyaan klasik, jika pada zaman Majapahit semua agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia sekarang ini sudah ada dan dapat hidup berdampingan dengan harmonis, maka mengapa di era millenial ini kita tidak dapat menjadi demikian?

Apakah kita kalah modern dengan zaman Majapahit? Jika memang iya, maka kita patut menggelak tawa atas ketertinggalan kita dari zaman Majapahit yang telah lewat itu.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)