Berita

Bangun Sikap Tawassuth di Medsos, KOMINFO Gelar Forum Dialog dan Literasi Media

Admin MSN | Jumat, 17 November 2017 - 11:19:08 WIB | dibaca: 209 pembaca

Gambar diambil dari acara "Forum Dialog dan Literasi Media"

Maraknya hoax, hate speech, dan provokasi berbau SARA di era digital ini, membuat negara tidak bisa tinggal diam. Demi menjaga kerukunan umat, perlu ada sosialisasi dan dialog yang digalakkan di sektor-sektor pengguna social media, baik di kalangan siswa, hingga para mahasiswa. Salah satunya seperti “Forum Dialog dan Literasi Media” yang diadakan oleh KOMINFO bekerjasama dengan Komisi Infokom MUI pada rabu pagi (15/11) di Hotel Harris, Arjosari, Malang.

Acara literasi media sosial berbasis Islam wasathiyah ini mengusung tema “Bijak di Media Sosial, Rukun di Dunia Nyata”. Acara tersebut dihadiri oleh beberapa pemateri yang berkompeten di bidangnya, diantaranya Prof. Dr. H. Henry Subiakto, SH. MA (Staf Ahli Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa), KH. M. Cholil Nafis, Lc. Ph. D (Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat), Prof. Dr. KH. Kasuwi Saiban, M.Ag (Pengurus MUI kota Malang), dan Savic Ali (Direktur NU Online dan islami.co).

Menurut Prof. Henry, selaku pemberi sambutan mewakili KOMINFO sekaligus pemateri, acara ini digagas karena adanya persoalan besar di negeri ini, dimana kaum muda maupun kaum tua disibukkan dengan adanya medsos.

Berdasarkan riset, pengguna internet saat ini berkisar pada angka 132.700.000 dari total 262.000.000 penduduk. Dari rentang 1-10, 4 dari 10 orang merupakan pengguna aktif media sosial.

Melihat realita ini, akan berbahaya ketika berita-berita di media sosial dimanipulasi dengan banyaknya hoax dan hate speech. Maka keterlibatan kita di dunia maya tanpa dilandasi pengetahuan literasi akan menjadi bahaya, sehingga muncullah gerakan literasi dengan melakukan tabayyun digital, diantaranya dengan memanfaatkan aplikasi semisal facts checker, turn back hoax, google image, dsb.

KH. Cholil Nafis mengungkapkan bahwa banyaknya hoax dan hate speech diantaranya berangkat dari adanya isu perbedaan ideologi sehingga seseorang cenderung “kiri” maupun “kanan”, seakan tidak ada yang tengah.

Prof. Kasuwi Saiban menambahkan bahwa kita tinggal memilih, menjadi pengguna media sosial yang terbawa arus, dalam artian mudah terprovokasi berita-berita bohong; menyimpang dari arus, dalam artian tidak mau terlibat sama sekali dalam arus teknologi; atau pilihan ketiga, mewarnai arus, yaitu dengan tetap menjaga konsep tawassuth (moderat) dan tawazzun (proporsional), tinggal kita sendiri yang memilih.

        Pada materi terakhir, Savic Ali selaku direktur NU Online dan islami.co, memaparkan banyak riset yang membuat peserta dialog tercengang. Beliau mencoba membuat para peserta melek akan kenyataan lapangan di era milenial ini. Diantaranya adalah hasil tracking dengan google tentang postingan-postingan yang mengacaukan kehidupan beragama. Fakta menunjukkan bahwa postingan seperti itu mayoritas bukan berasal dari kelompok radikal, tapi justru berasal dari para partisan politik.

Dapat disimpulkan bahwa agama seringkali dijadikan tunggangan politik untuk melancarkan serangan ke pihak musuh. Akar konflik berbau SARA yang terjadi di negara kita tidak sepenuhnya berlandaskan agama, namun agama dikemas sedemikian rupa untuk mencover kepentingan beberapa golongan.

Di lain topik, mas Savic Ali juga memaparkan bahwa saat ini website agama yang mendominasi simpati publik dan sering dikunjungi pengguna internet adalah website-website yang notabene dikembangkan oleh kaum intoleran seperti wahabi.

Berdasar data hasil riset, dari 20 website Islam terbesar dengan jumlah pengunjung terbanyak, website kaum wasathiyah seperti NU dan Muhammadiyah hanya ada satu, www.nu.or.id, itupun berada pada peringkat keempat, dibawah website seperti www.eramuslim.com, sehingga mau tidak mau, ini menjadi masalah bersama yang harus segera dicarikan solusinya. Kita harus bisa menjadi golongan yang tak sekedar diam, yang suatu saat bisa jadi arus, tapi harus bergerak dan menjadi golongan yang mewarnai arus.

 Sebelum mengakhiri acara, di akhir sesi, pertanyaan dari para peserta forum membuat nuansa dialog terbangun dengan baik, yakni dengan adanya interaksi antara pemateri dan audience. Harapan peserta pada umumnya, acara yang membangun mindset moderat seperti ini akan lebih gencar digalakkan dengan menyasar peserta dengan range yang lebih luas lagi, sehingga “Bijak di Media Sosial, Rukun di Dunia Nyata”, tidak hanya menjadi tema yang sekali pakai lalu hilang tak berbekas, tapi menjadi sebuah motivasi untuk senantiasa mewujudkannya dimanapun kita berada. (Silva/Uswah)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)