Berita

BAWASLU JAWA TIMUR REKRUT SANTRI DALAM MENGAWASI PEMILU

Admin MSN | Jumat, 19 Januari 2018 - 10:26:48 WIB | dibaca: 285 pembaca

Gambar diambil dari acara sosialisasi Santri Mengawasi

Surabaya (17/12/2017), Bawaslu Jawa Timur memberikan sosialisasi kepada para santri se-Jawa Timur mengenai pentingnya ikut serta dalam mengawasi jalannya pemilu, terlebih pilkada tahun 2018 yang akan diselenggarakan pada bulan Juni mendatang. Kegiatan penyuluhan ini diadakan di masjid al-Akbar, Surabaya yang dihadiri oleh Bawaslu pusat, para kiai, budayawan, seniman, kapolda, juga ribuan santri.

Anggota Bawaslu RI, Bapak Mochammad Afifuddin, menyampaikan “sepuluh bulan saya dilantik menjadi Bawaslu tetapi baru kali ini saya merasa merinding hadir di forum di tengah para santriwan-santriwati, merinding sekali terutama ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ini membuktikan bahwa santri memang benar-benar kelompok yang ingin menjaga republik ini, ingin menjaga Indonesia kita ini”.

Menurut beliau, ada beberapa alasan mengapa Bawaslu Jawa Timur mengajak santri bergabung dalam kegiatan santri mengawasi kali ini. Pertama, karena Jawa Timur mempunyai ribuan pesantren, sehingga sangat disayangkan jika para santri tidak dilibatkan. Dan yang kedua kesamaan semangat dalam tradisi santri dengan tradisi pengawas. Dapat kita ketahui, pengawas pemilu  memiliki tugas menjaga pemilu dari ketidak jujuran maupun black campaign,  hal ini tentu memiliki garis lurus tujuan yang sama dengan tugas Jasus (pengurus bahasa) yang ada di pesantren bilingual yang bertugas mengawasi para pelanggar bahasa, dan siap memberi sanksi bagi si pelanggar tersebut.

Dalam sosialisasi tersebut, para santri yang hadir dihimbau untuk membawa semangat tradisi santri kedalam semangat tradisi pemilu. Kita sebagai santri diajak untuk mengawasi serta mengatakan tidak pada segala hal negative yang biasa terjadi dalam pemilu. Misalnya black campaign maupun money politik yang merupakan salah satu kejahatan politik yang sangat berbahaya. Dengan diberi uang seratus ribu maka rakyat hanya berhak mencoblos calon pemimpin pemberi uang tersebut, namun jika kelak janji-janji mereka ketika kampanye tidak dipenuhi, maka rakyat tidak berhak menuntut atau bisa dikatakan tuntutannya tidak lagi dihiraukan.

Begitu besarnya potensi santri, sehingga Bawaslu Jawa Timur memiliki harapan yang tinggi terhadap para santri untuk ikut andil dalam mengawal pemilu maupun pilkada serentak yang akan datang. (diah/ev_miza)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)