Berita

Ber-Islam Tidak Harus Lupa Kebangsaanya

Admin MSN | Jumat, 17 Agustus 2018 - 20:17:08 WIB | dibaca: 91 pembaca

Gasek Multimedia

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala Bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”. Begitulah bunyi alenia pertama dalam pembukaan UUD 1945. Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2018, seluruh rakyat Indonesia memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73. Sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang bisa kita rasakan hingga saat ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia melakukan upacara untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Upacara bendera merupakan bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjuang dengan segala upaya demi kemerdekaan Indonesia, tak terkecuali Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek, Malang.

            Upacara bendera dilaksanakan di halaman pondok pesantren Sabilurrosyad Gasek, Malang. Upacara ini diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari santri, BANSER, tamu undangan, dan masyarakat umum di sekitar lingkungan pondok. Upacara berlangsung sangat khidmat. Pembina upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia  yang diadakan di Pondok Pesantren Sabilurrosyad kali ini yaitu KH Marzuki Mustamar, yang merupakan Ketua Tanfidiyah PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) dan sekaligus merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang.

            Pada upacara bendera kali ini, ada dua macam bendera yang dikibarkan yaitu bendera merah putih dan bendera Nahdlatul Ulama. Proses pengibaran bendera merah putih diiringi dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh paduan suara dari SMP&SMA Sabilurrosyad. Setelah pengibaran bendera merah putih, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Nahdlatul Ulama yang diiringi lagu Sholawat Badar. Setelah pengibaran bendera selesai, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Pancasila dan panca setia santri yang diikuti oleh seluruh peserta yang hadir dalam upacara tersebut. Seluruh peserta upacara begitu semangat dalam pembacaan Pancasila dan panca setia santri.

            Setelah proses pembacaan pancasila dan panca setia santri selesai, kemudian penyampaian amanat yang disampaikan oleh KH Marzuki Mustamar, selaku Pembina upacara. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari sunnah Rasulallah.

“Bagi NU bela Negara adalah ibadah. Cinta tanah air adalah bagian dari sunnah dan tuntunan
Rasullallah SAW. Jika mencintai rasul wajib, maka mencintai tanah air pun juga wajib”.

KH Marzuki Mustamar juga menceritakan kisah tentang rasa cinta tanah air Nabi Muhammad SAW akan Negerinya, yaitu Makkah ketika Nabi hijrah ke Madinah. Beliau menceritakan Nabi Muhammad SAW secara jelas dan tegas mengatakan cinta tanah airnya dalam sebuah hadist yang berbunyi “Wahai negeriku makkah, engkaulah negeri yang paling aku cintai. Andai tidak karena aku diusir oleh kaummu, maka aku tidak akan meninggalkan kamu”. Imam bukhori meriwayatkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke madinah, selama 16 bulan , Allah SWT memerintah rasulallah SAW supaya kiblat sholatnya menghadap Masjidil Aqsa tidak menghadap Masjidil Haram. Menghadap Palestina dan tidak menghadap Makkah. Sebagai putra Makkah asli, lahir di mekkah. Tentu Nabi rindu dan ingin suatu saat kiblat dikembalikan lagi menghadap Makkah, masjidil haram. Rasa cinta dan rindu kepada Makkah diungkapkan oleh Nabi dalam doanya yang intinya Ya Allah, kembalikan kiblat ke mekkah lagi dan hal itu diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Al-baqarah ayat 144. Rasa rindu dan kangennya Nabi Muhammad SAW menghadap mekkah, menunjukkan bahwa Nabi cinta dan rindu pada Makkah. Oleh karena itu, kami warga NU yakin bahwa rasa cinta tanah air ada dalam diri Rasulallah SAW. Maka berarti hal tersebut juga termasuk dalam sunnah rosul. Sehingga tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa cinta tanah air bukan sunnah ataupun tuntunan rasul dan tidak ada hubungannya dengan keimanan. bagi kita hubbul wathan minal iman, cinta tanah air bagian dari iman”

Kemudian KH Marzuki Mustamar yang biasa dipanggil Abah Marzuki oleh para santrinya juga menambahkan

“Kita tahu ada sekian banyak sahabat yang dulu non-muslim datang dari negara lain dan ketika mreka masuk Islam Nabi memperbolehkan untuk menulis nama bangsanya di belakang nama mereka. Tercatat dalam sejarah Salman dari Persia, setelah masuk Islam tetap dibolehkan memberi tambahan nama dibelakang namanya yg kita dikenal dengan Salman Al-Farisi. Kemudian ada Suhaib yang dari Romawi, dikenal dengan Suhaib Ar-Rumi, juga Bilal dari Habasyah, yang kita kenal dengan nama Bilal bin Robbah Al-Habsyi. Seseorang yang “ber-Islam” tidak harus menggilangkan kebangsaannya. Islam tidak bertentangan dengan kebangsaan seseorang. Untuk menjadi orang Islam, seseorang tidak harus kehilangan jatidiri, karakter, maupun identitas bangsanya. Bung Karno pernah mengatakan, hai orang hindu, jika kamu  Hindu jadilah Hindu tapi jangan jadi India, hai orang kristen, jika kamu Kristen jadilah  Kristen tapi jangan  jadi Yahudi Israel, jika kamu  Islam maka jadilah Islam tapi jangan jadi Arab. Musuh terbesar bagi kita bangsa Indonesia adalah rakyat sendiri namun mereka yang berafiliasi asing, bekerja dan berfikir untuk kpentingan asing, mabuk dengan budaya asing. Kalaupu mereka dakwah, mereka mabuk dengan cara dakwah asing yang itu belum tentu cocok dengan kondisi di Indonesia.”

            Kita tahu, hingga saat ini Negara-negara di Timur Tengah terjadi perang saudara. Apa yang menyebabkan hal itu dapat terjadi? Salah satunya karena kurangnya rasa nasionalisme. Pemahaman mereka akan bela Islam, cinta Islam, dakwah  Islam sangat tinggi. Bahkan, mereka juga memilikisemangat yang tinggi dalam berjihad. Namun, satu yang menjadi kekurangan mereka yaitu kurangnya pemahaman atau doktrin terkait dengan sikap Nasionalisme. Hanya karena perbedaan madzhab atau aliran mereka saling perang satu dengan yang lain. Berbeda jauh dengan di Indonesia. Walaupun kita berbeda-beda baik suku, ataupun agama kita tetap dapat hidup rukun dan bersatu. Dengan adanya persatuan, maka Negara akan aman. Kita dapat melakukan ibadah, mengaji, bekerja, dan lain sebagainya dengan rasa aman. Dengan adanya persatuan, maka akan tercipta keamanan di seluruh wilayah Indonesia. Mari kita bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. (Avi)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)