Sastra

BHINEKA TUNGGAL SANTRI

Admin MSN | Selasa, 07 November 2017 - 21:50:23 WIB | dibaca: 220 pembaca

Pesantren seperti pohon, terdiri dari puluhan asrama seperti dahan-dahan besar kecil terlihat hijau macam-macam, ada yang berbuah ada yang tidak, berbuah macam-macam, ada yang manis ada yang tidak manis dan sedikit lebih asam.

Di dalam pesantren ada santri, terdiri dari puluhan hingga ratusan jiwa santri besar kecil gendut kurus tinggi rendah jantan betina. santri berkulit macam-macam, hitam coklat kuning putih kehitaman kecoklatan kekuningan keputihan, berpanu berkoreng jerawatan kutuan atau mulus seperti meril yang jadi rebutan. santri santri rambutnya macam-macam lurus agak lurus tidak benar benar lurus benar benar tak lurus, gondrong sebahu seperti yang menulis puisi ini berniat jadi penyair tapi tura-turu, dan tak gondrong seperti kegemaran anak muda masa kini.

Santri macam-macam, suka minum suka makan, suka minum kopi minum teh minum susu, kopi susu teh susu susu yang benar-benar susu, suka makan nasi tak suka makan jagung, suka makan jagung tak suka dipanggil jagung, suka makan sendiri bareng bareng berdua saja, yang sendiri ya sendiri yang bareng ya bareng yang berdua berarti merilan, yang sambil senyum-senyum sambil minta jatah buat nanti malam.

Santri suka main , main bola kaki main badminton main tenis meja tenis lapangan volley lapangan dan volley persidangan, ya persidangan yang dimana kepalamu akan dismash oleh pengurus kalau ternyata lapangannya ada di pantai, dan tanpa izin main kesana. Santri suka main, main main sampai lupa, lupa sekolah lupa ngaji lupa ngopi lupa kalau ngaji bawa kopi, lupa jalan ke warung kopi, lupa ngaji dan jalan ke warung kopi, lupa mandi lupa tidur sampai mandi sambil tidur.  santri macam-macam, suka tidur terlentang tengkurap miring nungging, sedikit terlentang kurang tengkurap agak miring tidak benar benar nungging, ngiler ngorok mangap mingkem, biasanya mangap ngorok dan ngiler, sambil garuk garuk, garuk kepala paha pangkal paha pangkal paha yang berkepala.

Santri macam-macam, ada yang taat peraturan takut peraturan, tak takut hukuman tak takut peraturan, takut diatur tak mau dihukum, benar benar takut hukuman benar benar tidak takut peraturan. santri macam-macam, ada yang niat belajar ada yang tidak benar-benar belajar, belajar ngaji nyanyi menulis puisi, ngaji kitab ngaji al quran ngaji kanduragan, ngaji sambil nyanyi, ngaji yang dilagukan, menulis lagu dalam pengajian, dan dipuisikan.

Bagaimanapun macam-macam santri, ia tetaplah santri. Bhineka tunggal santri, berbeda-beda tapi tetap santri juga.

 

Sidoarjo, 2017

Cak Ginksul

(Puisi ini terinspirasi dari “Sajak Mimpi” karya Saut Situmorang)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)