Berita

Calon Pastor Ngaji Kebangsaan Ke Kiai

Admin MSN | Rabu, 28 Maret 2018 - 15:41:30 WIB | dibaca: 750 pembaca

MALANG (28/03), 34 Frater (calon pastor) silaturahim ke kediaman KH Marzuki Mustamar Gasek Malang dalam rangka Temu Kenal Seminari Tinggi "Surya Wacana" dengan Pondok Pesantren Sabilurosyad, Gasek Malang.

Acara silaturahim dimulai dengan doa pembukaan dari salah satu frater dan disambung dengan menyanyikan lagu kebangsaan, Subanul Wathon, dan Sholawat Indonesia bersama para santri PP Sabilurrosyad.

"Para frater mempunyai latar belakang dan asal yang berbeda, sebelumnya kami juga rutin silaturahim ke pesantren yang ada di Bekasi." Ungkap Romo Agus Ardi Kurniawan. Dengan adanya acara tersebut diharapkan dapat terjalin tali persaudaraan antar umat beragama.

Selaku tuan rumah, Kiai Marzuki memberikan sambutan tentang perbedaan sistem pembelajaran antara pesantren dan kampus. Santri diajarkan tentang keikhlasan di pesantren. Bagaimana berucap, bersikap dan berbuat dari hati karena tuhan Allah SWT serta belajar menjadi orang baik tanpa berpikir mau jadi apa besok. Kiai juga menganggap santrinya seperti sahabat. Ibarat ceret dan gelas jika jaraknya terlalu jauh air yang dituangkan akan kececeran, oleh karena itu menganggap santri sebagai sahabat agar ada kedekatan antara guru dan murid supaya ilmu yang diberikan bisa meresap ke hati.

Hadirnya pondok pesantren di masyarakat diharapkan bisa menghadirkan keberkahan di lingkungan sekitar pesantren, yang keberkahan itu bisa berupa apa saja, termasuk keuntungan finansial yang didapatkan oleh masyarakat yang membuka warung sebab banyak santri membeli dagangannya.

"Dakwah itu butuh ketelatenan, ibarat memancing airnya harus tenang. Jika air nya diobok-obok malah kabur ikannya" ujar Kiai Marzuki.

Setelah sambutan sekaligus arahan, salah satu frater bercerita singkat tentang studi nya selama satu semester yang mengkaji tentang Islam, NU dan Muhammadiyah. Kemudian menanyakan tentang makna amar ma’ruf nahi mungkar.

"Melakukan kebajikan dan mencegah kebatilan itu harus komprehensif, dengan catatan tidak menyakiti orang lain. Mencegah orang minum-minuman keras bukan berarti dengan cara keras pula -langsung sweeping­- yang ada hanya berhenti sesaat dan mencari tempat lain untuk melakukan hal yang sama, tapi caranya merubah dari dalam mengenakan hati mereka dengan bersikap baik dan perlahan diberi arahan secara bertahap." Jawab Wakil Rois Syuriah PWNU Jawa Timur itu.

Sebelum diakhiri dengan doa yang dipimpin secara islami oleh kiai, semua hadirin ramah tamah dipersilakan untuk makan bersama. Selain untuk menghormati tamu, hal tersebut mencerminkan toleransi antar umat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak lupa, Kiai Marzuki menegaskan bahwa umat muslim sebagai penduduk mayoritas Jawa akan melindungi nonmuslim yang ada disini, sebaliknya diharapkan umat muslim yang ada di Bali, Papua bahkan Eropa bisa dilindungi oleh nonmuslim sebagai penduduk mayoritas disana. Berbeda tapi tetap bersatu jauh lebih baik dari pada sama tapi tidak bersatu, dan yang lebih parah itu sudah berbeda lantas tidak bersatu. (Feb)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)