Pesantren

Dengan Dalih Hakikat, Bolehkah kita Meninggalkan Sholat?

Admin MSN | Minggu, 29 Oktober 2017 - 12:52:42 WIB | dibaca: 127 pembaca

ilustrasi gambar oleh simasakti

 

Agama adalah candu masyarakat – begitu ungkap Karl Max suatu ketika. Terlepas dari berbagai pemaknaan terhadap ungkapan tersebut, manusia memang sejatinya selalu membutuhkan sisi spiritualitas di dalam dirinya, dan agama menyuguhkan nilai-nilai keTuhanan yang semestinya dicerminkan oleh orang beragama.

Cerminan agama dalam praktik kehidupan sehari-hari (kontekstualitas) itulah yang kemudian diharapkan mampu mewujudkan kehidupan yang harmonis, damai, sejahtera, sesuai apa yang dicitakan masyarakat pada umumnya.

Dari beberapa agama yang diakui secara sah oleh konstitusi, kita mengenal Islam sebagai agama samawi yang disyiarkan pertama kali oleh Baginda Rasulullah saw. Nabi Muhammad sendiri adalah suri tauladan yang memiliki keluhuran akhlaq dan budi pekerti.

Tentu sebagai seorang muslim, kita ingin tindak laku kita mencerminkan nilai-nilai keIslaman yang berkiblat pada Nabi Muhammad. Hanya saja hawa nafsu dan terkadang pemaknaan keliru dari sudut pandang yang kurang tepat membuat kita masuk dalam pintu yang salah.

Di dalam agama Islam, terdapat 3 istilah yang saling berkelindan: Syariat, Thoriqot, dan Hakikat. Syaikh Abu Bakar Al Makki bin Sayyid Muhammad Syatho dalam kitab Kifayatul Atqiya` mengibaratkan syariat sebagai kapal, thoriqot lautnya, dan hakikat adalah mutiara terpendam yang berada di dasar laut.

Dengan demikian, untuk sampai pada hakikat, terlebih dahulu diperlukan jalan syariat dan thoriqot. Hakikat tanpa syariat itu batal, adapun syariat tanpa hakikat itu kosong. Perumpaannya begini:

Orang pertama mengatakan, -saya tidak perlu sholat, karena pada hakikatnya jika Allah telah menjadikan saya sebagai ahli surga, maka meski tidak sholat sekalipun, saya akan tetap masuk surga. Dan jika saya telah dinaas sebagai ahli neraka, kendati sholatpun saya akan tetap masuk neraka-. Lalu Orang kedua mengatakan, -kalau bukan karena amalku, aku tidak mungkin dapat masuk surga-

Pernyataan pertama batal, karena syariat tidak dijalankan dan manusia mengingkari kodratnya sebagai makhluk yang diciptakan untuk menyembah kepada Allah swt. Di sisi lain, ada ayat yang menyebutkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubahnya sendiri.

Bertolak dari ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia memang erat kaitannya dengan usaha. Usaha untuk dapat terus menjadi lebih baik setiap waktunya. Adapun tawakkal (pasrah), adalah hal yang semestinya dilakukan setelah melakukan usaha maksimal.

Pernyataan kedua hambar, bagaimanapun juga, masuk surga ataupun tidak itu wilayah dan wewenang Allah. Manusia hanya mengusahakan dan selebihnya tinggal dipasrahkan kepada Allah swt, Dzat yang Maha segala.

Pokok dari agama Islam adalah produk manusia yang unggul dan memiliki luhurnya akhlaq. Agama hendaknya benar-benar diresapi dan tidak hanya sekedar dijalani tanpa memaksimalkan peran hati. Oleh karena itu, banyak sekali muslim yang berlomba-lomba sampai pada hakikat, dengan tujuan menjadi lebih dekat dengan Tuhan yang menguasai jagad.

Namun demikian, pendalaman hakikat terkadang justru dijadikan sebagai alibi untuk meninggalkan syariat. Dalilnya begini: selama aku menghadap kepada Allah, maka tidak masalah jika aku meninggalkan sholat, bukankah yang terpenting adalah hati?

KH Marzuki Mustamar dalam pengajian Kitab Al Hikam karya Syaikh Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa sejatinya hakikat itu tidak meninggalkan amal, melainkan meninggalkan memandang dan memperhitungkan amal. Sehingga dalam berhakikat, hendaknya kita juga tetap menjalankan syariat.

Pengertian di atas akan dapat dibingkai dengan baik melalui pengertian seperti ini:

Bahwa syariat (segala hal yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah swt) adalah kapal yang dipergunakan sebagai media untuk dapat berlayar di atas laut, adapun thoriqot (suatu cara atau perbuatan) adalah laut yang harus kita arungi karena di dalamnya terdapat mutiara (hakikat) yang kita cari.

Jadi, tanpa ada laut (thoriqot) dan kapal (syariat) kita tidak akan pernah sampai hakikat. Dengan demikian, jangan jadikan hakikat sebagai dalih meninggalkan sholat. (Arqom)

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)