Pesantren

Dibalik Kesohoran KH Marzuki Mustamar, Ada Cinta Yang Teruji

Admin MSN | Kamis, 19 Juli 2018 - 22:21:42 WIB | dibaca: 429 pembaca

gambar merupakan ilustrasi

Oleh: Kumillaela

Rasa cinta selalu ada dalam hati setiap insan, rasa itu juga dirasakan oleh seorang Mubaligh terkenal dari Malang, KH Marzuki Mustamar. Inilah kisah kehidupan dan jalinan cinta kasih yang dikutip dari kisah seorang tokoh alim kelahiran Blitar tersebut yang mungkin bisa menginspirasi pembaca dalam mencari cinta sejatinya.

Kisah bermula saat Marzuki muda menjadi santri di Pondok Pesantren Nurul Huda (PP Nuha) Mergosono, yang diasuh oleh KH Masduqi Mahfudz. Saat itu kepandaian Marzuki dalam menguasai ilmu agama dan baca kitab gundul tidak hanya terkenal di kalangan teman-teman santrinya, namun juga dibenarkan oleh ayahanda Gus Isroqunnajah (Gus Is) tersebut. Sehingga Marzuki sering diminta mengisi diniyah (ngaji malam) dibeberapa kelas.

Di situlah benih-benih cinta tumbuh di hati Ustad Marzuki. Sebagaimana umumnya pengajian di Pesantren yang selalu memakai satir (pembatas) antara santri putra dengan santri putri, atau antara ustad dengan santri putri ketika berada di kelas diniyah. Namun, kecerdasan dan keanggunan Umi Saidah Mustaghfiroh tidak terhalang oleh tembok besar sekalipun. Sering kali Ustad Marzuki meminta Saidah untuk membaca kitab kuning. Saidah cukup peka untuk menangkap modus tersebut. Sebagai santri yang ta’dzim, ia tidak berani membantah perintah sang Ustad.

Ternyata rasa cinta yang dirasakan Ustad Marzuki disambut manis oleh perempuan yang lebih dulu bersarang dihatinya tersebut. Allah yang Maha Mentautkan hati setiap makhluknya, Dia lah yang lebih mengetahui berlabuhnya hati setiap insan.   

Berjalan beberapa bulan, Umi Saidah pun lulus kuliah. Ustad Marzuki sempat khawatir karena perempuan yang dicintainya akan boyong dari PP Nuha. Kemudian melanjutkan hafalan al-Qurannya di pondok Langitan, asuhan salah satu putri Kiai Faqih.

Karena niatnya yang tulus ingin menyunting sang pujaan hati, Ustad Marzuki beranikan diri untuk menemui langsung ayahanda dari Umi Saidah, untuk meminta restu mengkhitbah putrinya. Kedatangannya disambut hangat oleh keluarga Saidah. Dihantar teman pondoknya, mas Mif, yang merupakan lurah Pondok Pesantren Mergosono. Ada perasaan minder kala itu. Ustad Marzuki cukup sadar diri sebagai putra petani biasa dan guru ngaji kampung dari kabupaten Blitar. Sedangkan kekasihnya dari keluarga salah satu pesantren di Lamongan, yaitu putri Kiai Ahmad Nur.

Disinilah kisah cintanya teruji. Sesampainya di Lamongan, ternyata ada tiga orang yang telah meminta Umi Saidah untuk diperistri, termasuk dirinya. Mendengar kabar tersebut, Ustad Marzuki merasa langit meruntuhinya saat itu juga. Dua orang yang lebih dulu datang meminta Saidah berasal dari keluarga terpandang. Ustad Marzuki semakin minder. Namun ia tidak putus harapan untuk berdoa pada sang pemilik hati.

KH. Ahmad Nur pun tidak langsung memberi jawaban, akan tetapi terlebih dahulu meminta istikhoroh ke Kiai Langitan, yaitu Mbah Din Madiun, Kiai Mas Nur Branjangan, dan keluarga Sidoresmo. Hasil istikhoroh dari Mbah Din Madiun dan Kiai Mas Nur Branjangan (Rois Syuriah PCNU Surabaya) semuanya menunjuk ke Kiai Marzuki Mustamar. Singkat cerita, dilangsungkanlah pernikahan antara Kiai Marzuki Mustamar dengan Umi Saidah Mustagfiroh,

Memang benar, cinta perlu pembuktian dan juga perjuangan. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita sudah memperjuangkan cinta dengan cara yang benar? Andaikan cinta itu sendiri dapat mengungkapkan apa yang ia rasakan, angkasa pun tak cukup luas untuk membendung gemanya. Cukup Allah sebagai saksi atas cinta hambaNya. Wallahu A’lam.