Berita

Diklat BANSER, dari Santri hingga TNI Siap Mengawal Kiai dan NKRI

Admin MSN | Jumat, 18 Januari 2019 - 03:58:43 WIB | dibaca: 184 pembaca

 

Oleh : Muhammad Dwi Rifai

Jumat malam 11/1/2019 ratusan calon anggota banser atau barisan ansor serbaguna berkumpul di Ponpes Al Fadholi, mereka datang untuk mengikuti Diklat Terpadu Dasar (DTD) yang diselenggarakan PAC GP. Ansor Lowokwaru. DTD merupakan gabungan dari kaderisasi awal Ansor PKD dengan Diklatsar Banser. Dalam DTD kali ini jumlah peserta yang terdaftar sejumlah 350-an peserta termasuk 6 orang calon Detwanser(detasemen wanita banser), yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang profersi yang berbeda. Berasal dari kalangan santri pondok, jamaah Istigosah, mahasiswa, sampai dari purnawirawan TNI.

Kegiatan yang dilaksanakan 11-13 Januari tersebut diisi dengan berbagai materi, organisasi dan kepemimpinan baik ke-Ansoran, ke-Banseran, dan ke-Aswajaan. Tidak hanya materi keagamaan tetapi juga terdapat materi wawasan kebangsaan, pelatihan baris berbaris, dan Pam TUB( intelejen dasar) yang langsung diisi oleh TNI dan POLRI.

Kegiatan DTD difokuskan di PP Al-Fadholi dan PP Al-Mubarok, sementara untuk lintas medan dilaksanakan disekitar wilayah Kecamatan Lowokwaru dan Kali Metro. Menurut Gus Junaidi, “Tugas banser yang utama adalah untuk mengawal dan menjaga ulama-ulama NU di manapun mereka berada dan dalam kegiatan apapun, dan pada umumnya kita berperan aktif bekerjasama dengan komponen masyarakat mengawal dan mejaga NKRI harga mati.”

Kegiatan diklat diakhiri dengan baiat yang dilaksanakan langsung oleh Rois Syuriah NU Kota Malang KH. Chamzawi, dan pemberian seragam BANSER secara simbolis kepada 5 orang peserta kehormatan yang berusia diatas 60 tahun. “Belajar tidak terbatas umur, dan dapat dilakukan dimana saja, kita niati untuk belajar dan ambil ilmunya,” ujar pak Budi Santoso yang juga seorang purnawirawan TNI.

Di akhir sambutan, Pak Budi juga memberi wejangan yaitu, “Soal pesan ilmu yang kita dapat belum cukup, para sahabat harus mau meningkatkan kejenjang yang lebih tinggi baik lewat pelatihan maupun sarana-sarana yang lain. Terutama tindakan-tindakan hukuman secara kolektif untuk memupuk jiwa korsa, contohnya seperti tindakan ketika makan di lapangan, sehingga kesannya akan terlihat mantab.”










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)