Pesantren

Dimanakah Tuhan, Saat Aku Dijambret?

Admin MSN | Kamis, 30 November 2017 - 13:56:24 WIB | dibaca: 342 pembaca

Oleh : Ahmad Ali Adhim

 

SEREM!

Kata itulah yang ada di benakku ketika melewati gerbang belakang Kampus UIN Malang. Ya, jalan itu, jalan yang sore harinya ramai, tempat nongkrong para aktifis kampus membicarakan proyek mereka sembari menggoda gadis-gadis kampus yang lewat situ. Semua orang yang lewat situ terkadang sebel ketika momen wisuda seperti sabtu kemarin. Jalan luas menjadi begitu sempit dan sesak dipenuhi asap knalpot berwarna hitam. Acapkali di jalan itu juga sering aku saksikan, sepasang kekasih berpelukan mesra di atas motor. Jalan ini tentu indah bagi mereka. Tapi tidak untukku!

Kejadian malam itu benar-benar membuatku kehabisan air mata, tidurku tidak nyenyak, pagi harinya harus kusesali lagi, kenapa nasibku sesial itu. Ah menyebalkan!

“Sudahlah Mblo, lupakan, anggap kejadian itu tak pernah menimpa dirimu.” Ucapan Monyet sangat ringan, seperti kejadian itu hanya ada di film.

“Ini nyata Nyet!”

“Bisa-bisanya kamu bilang aku harus melupakan kejadian malam itu. Kamu kan enggak tahu bagaimana susahnya aku menabung uang untuk beli barang itu,” geramku.

Aku diam, mengalihkan pandangan ke arah lain, muak campur sesak melihat jalan raya yang kini ada di hadapanku.

“Memangnya seberapa penting barang itu bagimu Mblo?” sekonyong-konyong suara Monyet mencairkan suasana yang sesaat hening.

Suara monyet tak lagi terdengar olehku, karena tiba-tiba ingatanku berada pada kejadian malam itu. Malam itu memang sedang gerimis, saking asyiknya tak terasa aku bertamu di Rumah Kecantikan itu hingga larut malam. Setelah membungkusnya dengan kresek hitam.

“Terima kasih ya Mbak Jomblo, hati-hati di jalan, kalau bisa jangan lewat belakang UIN, di situ sering terjadi penjambretan, korban-korbannya kebanyakan perempuan, Mbak kan jomblo, harus ekstra hati-hati kalau kemana-mana.”

“Ah, sampean ini nakut-nakutin aja Jeng,” balasku dengan sesungging senyum.

Mataku meliriknya dengan perasaan penasaran campur takut, “Jeng gak bercanda kan? Oh ya, kok tahu kalau saya jomblo?” tanyaku meyakinkan, sambil senyum-senyum kaku karena dikatain jomblo.

“Sudah-sudah lupakan, aku bercanda kok, iseng aja. Cuma nebak juga, kalau Mbak gak jomblo kenapa kesini enggak dianterin cowoknya.” Jeng Mawar menutup tawanya yang serak dengan tangan kirinya.

“Sudahlah, tidak baik buruk sangka sama orang lain.” Nasehat wanita yang berhidung mancung itu sembari mengantarku ke halaman rumah kecantikannya.

Sebelum menancapkan kunci di motorku, sekilas aku sempat melihat raut khawatir di wajah Jeng Mawar sebelum pintu tokonya membawanya hilang dari pandanganku.

Dengan kecepatan 20 KM motor bebek yang kukendarai tiba-tiba menjadi berat, aku menengok ke belakang ternyata ada tangan yang menarik motorku dari belakang. Tepat di belakang Gerbang Kampus UIN.

“Berhenti!”

“Woi! Jangan ngebut.” Belum sempat kujawab ancaman manusia bertopeng hitam itu, seketika di depan motorku ada mobil jeep penjahat yang gagah dan besar, jeep itu berasal dari utara, pintu jeep terbuka oleh ujung tembak yang panjang. Sementara aku hanya bisa ketakutan dan gemetaran.

“Serahkan tasnya, atau nyawamu melayang malam ini juga.”

“Apa tidak ada dispensasi om? Saya kan sendirian? Sedangkan om berlima, beginikah cara perampok menunjukkan kejantanannya? Kenapa om enggak sendirian saja? Kalau sendirian pasti kukasihkan tasku beserta isinya,” jawabku polos.

“Kamu ini mau dirampok malah nawar, sudah, serahkan tasmu, segera!”

Om-om yang betopeng itu mempunyai sorot mata yang tajam, aku benar-benar takut, tak ada dialog lagi, aku hanya memegang erat tasku yang berwarna merah muda pemberian ayah. Aku kira tasku gak jadi diambil, karena om yang ada di hadapanku sedikit ragu-ragu, mungkin dia punya anak perempuan seumuranku, jadinya enggak tega.

            Tak lama kemudian, ternyata dugaanku salah, om yang menarik motorku dari belakang tadi dengan gesit merampas tasku, lalu om itu kabur.

“Tolong-tolong!” Tak ada satu pohon pun yang peduli dengan teriakanku, sementara di jalan itu hanya ada aku dan motorku yang pantatnya sudah ternodai oleh tukang jambret, “Dasar jambret beraninya main dari belakang.”

Mereka kabur membawa tasku yang isinya kresek hitam dari Rumah Kecantikan Jeng Mawar tadi.

***

Malam itu, sungguh Tuhan tidak adil, kenapa Ia biarkan jambret-jambret itu merampokku, entah mengapa hati ini gelisah memikirkan ketidakpedulian Tuhan kepadaku. Dalam hitungan menit telah berlabuh, bak layar proyektor yang memutar kejadian beberapa minggu lalu.

“Nyet, mana makanannya? Kamu belum pesan ya?”

“Lha kamu, sejak tadi melamun aja Mblo,” jawab Monyet ketus.

Monyet menjelaskan kepadaku kalau tadi sudah ditanya sama yang punya rumah makan, mau pesan makanan apa. “Mbak, mau makan apa? Minum apa? sejak tadi kok diem aja, mas yang ada di samping mbak juga mantengin hp aja, kalian ini lagi ngambekan ya?!”

“Mbak, jawab dong, apa mbak juga ngambek sama saya? Salah saya apa mbak?”

Si Monyet yang sejak tadi asyik main game tiba-tiba nyletuk, “Sukurin, memang enak dicuekin, aku sejak tadi juga dicuekin, Mas.”

“Kalian ini sama aja, kalau gak mau beli makan jangan nongkrong di sini, dasar mahasiswa jaman now, gak punya uang, seenaknya sendiri nongkrong di rumah makan saya,” bentak Pak Gajah.

Monyet menjelaskan itu kepadaku dengan wajah kesal, mungkin dia lelah, “ya sudah kita pesan nasi tempe sama minum air es aja ya.”

“Oke, pesen nasi tempe aja pakek melamun segala, huh dasar Jomblo.”

“Iya... Iya... maaf.” Mulutku seakan tercekat.

Mana mungkin Monyet tahu kalau aku tadi inget kejadian malam itu. Ya... namanya juga Monyet, yang dia tau hanya Pisang. Makanan sudah datang, kami berdua menghabiskan tempe dan nasi sepiring itu bersama-sama. Tak peduli kata orang, kami memang konyol, berteman serupa sama-sama gila, tak ada kata gengsi jika memang sedang kere.

“Sumpah lucu banget Nyet kejadian malam itu, untungnya dompet dan HPku gak ada di dalam tas, sengaja kumasukkan ke dalam kresek Indomart yang kudapat ketika membeli Jajan.” Kulanjutkan cerita itu agar Monyet tahu, kenapa aku menyesali tasku yang berisi bedak dan lipstik itu hilang dibawa jambret.

“Kalau gitu kamu masih beruntung Mblo, enggak semua yang kamu bawa malam itu dibawa kabur jambret.” Monyet mencoba menghiburku.

“Iya sih Nyet, mungkin Allah tak menginginkan aku menjadi cantik, lagi pula kalau aku pakai bedak yang kubeli di Rumah Kecantikan itu, rasanya mustahil aku mau berteman sama kamu, haha.”

“Alah, dasar kePDan, lagipula meskipun kamu pakai bedak dan lisptik, gak berubah jadi cantik.” Monyet lagi-lagi ngomel tanpa filter.

“Begini loh, Nyet... Aku menyesal karena telah menuduh Tuhan tidak sayang kepadaku malam itu, dimanakah Tuhan saat aku dijambret? kenapa Tuhan hanya diem aja ketika mengetahui aku dijambret. Malam itu aku sempat bilang, Tuhan Macam apa yang rela hambanya hidup sengsara.”

“Masya Allah, kelewatan kamu Mblo, dasar manusia enggak pernah bersyukur, Tuhan itu Maha Asyik, selain itu juga Maha Misterius, apa yang kamu kira buruk untukmu belum tentu buruk bagi Tuhan. Kita sendiri juga sering mengabaikan panggilan Tuhan, iya kan? Kemanakah kita saat ada adzan berkumandang? Katanya kamu ini lulusan pesantren, bab tasawuf kayak gini malah aku yang ngajarin hahaha.”

Aku tertegun mendengar ucapan Monyet yang mulutnya bau asap rokok itu. Sesal merambati dada ini, aku telah keliru menilai Tuhan selama ini. Apalagi setelah mendengar cerita Monyet sebelum ia pamit ke toilet, Monyet bilang setelah ramai warga kampus membincangkan tragedi penjambretan yang menimpaku malam itu, tiga hari selepas itu di koran ada berita wanita yang terserang penyakit gatal gara-gara salah pakai bedak.

“Maafkan aku Tuhan, maaf telah salah menilai-Mu. Maafkan aku juga Nyet, ternyata kamu jauh lebih mengenal Tuhan.” Lirihku seraya memandang punggung Monyet hingga menghilang di antara pengunjung rumah makan yang berdatangan.

 

Terinspirasi dari QS. Al-Baqarah :216

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

 

*Ahmad Ali Adhim, Pegiat Sastra di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kontributor Kumpulan Cerpen “yang Ke-Dua” (Landasan Ilmu 2016), Kontributor Antologi Puisi “Falsafah yang Rendah, yang Kuselami di Batang Canduku” (Gus Mus Pustaka 2016). Beberapa karya nonfiksi nya yang sudah diterbitkan, Raih IPK Cumlaude dengan Menghafal Al-Qur’an (WA Publisher 2016), Upgrading Personality (Istana Publisher 2017), Gus Maksum Lirboyo (Global Press 2017). Selain itu ia juga menulis puisi “Lukai Aku Sekali Lagi”. []

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)