Opini

Gus Dur Konsisten Pada Kebangsaan dan Kemanusiaan

Admin MSN | Minggu, 23 Juli 2017 - 17:39:22 WIB | dibaca: 178 pembaca

Gus Dur

 Oleh : Prof. Dr. Nur Syam, M.Si
 
Saya kira tidak ada orang yang meragukan wawasan kebangsaan Gus Dur. Beliau adalah orang yang sangat konsisten dalam membangun dan mengembangkan wawasan kebangsaan. Dalam perjalanan panjang kehidupannya, maka Gus Dur merupakan sosok yang selalu mengembangkan sikap inklusif, pluralistik, multikulturalistik dan demokratis. Beliau bisa bergaul dengan siapa saja dan dari latar belakang apa saja. Beliau adalah orang yang lintas agama, suku, etnis dan budaya. Seseorang tidak akan bisa menjadi Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP), jika tidak memenuhi persyaratan trans agama, suku, etnis dan budaya.

Salah satu yang sangat menonjol dari Gus Dur adalah wawasan kebangsaannya. Beliau adalah orang yang memiliki pandangan bahwa Indonesia adalah satu kesatuan politik, negara dan bangsa yang tidak boleh lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas. Dalam keadaan apapun, maka Indonesia harus tegak sebagai negara bangsa sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Tentu saja keterikatan itu terbina oleh suatu kenyataan bahwa para leluhurnya adalah orang yang turut serta dalam proses mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka beliau tidak pernah goyah sedikitpun untuk mengikuti arus perbincangan yang pernah marak di era reformasi tentang negara bagian, begara federasi dan sebagainya.

Gus Dur di manapun dan kapan pun selalu berbicara tentang NKRI. Hal itu tentu saja terkait dengan keputusan Muktamar NU tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo yang menetapkan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sebagai sesuatu yang final dan berkeputusan tetap. Ijtihad para ulama inilah yang menjadi pattern for behaviour Gus Dur dalam sikap politik kenegaraannya. Sebagai konsekuensi dari keputusan itu, maka di mana dan kapan saja Gus Dur menjadi corong dan  pengemuka beragama yang inklusif  yang memberikan ruang seluas-luasnya untuk menjadikan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sebagai fondasi dalam kehidupan sosial dan politik.

Gerakan menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan organisasi sosial, politik, keagamaan pada tahun 1980-an tentu tidak lepas dari peran beliau sebagai tokoh organisasi sosial keagamaan kala itu. Beliau bersama kyai-kyai NU melakukan terobosan di tengah kemandekan dan pandangan miring tentang keinginan menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi. Melalui keputusan Kyai-kyai NU itulah, maka kemudian banyak organisasi sosial, keagamaan dan politik yang melakukan hal yang sama.  

Sesuai dengan cara pandang seperti itulah maka Gus Dur sering dijadikan target oleh Islam garis keras. Misalnya adalah pencekalan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) dalam salah satu ceramahnya di Jawa Tengah. Kemudian juga tindakan dan ungkapan yang tidak mengenakkan dari berbagai eksponen Islam fundamental. Misalnya, tanggapan atas pernyataan Gus Dur tentang al-Qur’an sebagai kitab yang porno.

Gus Dur memang sosok yang kontroversial. Beliau seringkali tidak sejalan dengan arus utama pemikiran keagamaan terutama arus pemikiran keagamaan yang fundamental.

Gus Dur adalah orang yang secara vulgar sering melakukan kritik terhadap Islam fundamental yang sudah menjadi bagian dari proses politik di Indonesia. Jika yang lainnya hanya sekedar membicarakan di ruang tertutup, maka Gus Dur justru menyuarakannya secara lantang. Misalnya ketika Beliau menyatakan ”bagaimana mengerem Islam fundamental, sementara banyak tokohnya yang sudah masuk di dalam struktur pengambil kebijakan.” Keberanian seperti inilah yang jarang dimiliki oleh lainnya. Sebuah paduan antara keberanian yang dilandai oleh  bacaan dan analisis terhadap realitas sosial yang sangat akurat yang dihadapinya. Kberanian ini juga tentu didasari oleh kelengkapan modalitas sosial, politik dan kultural yang dimiliki Gus Dur. Modalitas sosial yang berupa jaringan sosial yang mendunia tentunya menjadi modal Gus Dur yang luar biasa, sehingga apa yang dinyatakan Gus Dur akan memperoleh pembenaran secara memadai. Kemudian modalitas politis, bahwa Gus Dur memiliki kekuatan politik di dalam dan luar negeri. Lalu modalitas kultural di mana Gus Dur merupakan tokoh organisasi Islam terbesar yang memiliki kekuatan kultural yang sangat besar.

Makanya, berbagai tindakan Gus Dur yang pada saat dilakukan dianggap kontroversial, maka pada saat berikutnya bisa dianggap sebagai suatu kewajaran sebagai konsekuensi sikap dan tindakannya yang mengedepankan inklusivisme, pluralisme, multikulturalisme dan demokratis.  Ketika beliau menjadi pendiri Simon Perez Foundation, maka orang hanya melihat Simon Perez sebagai orang Israel, tetapi tidak melihat visi dan misi organisasi ini bertujuan untuk kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itulah yang dikedepankan, sehingga Gus Dur mau terlibat. Dimensi kemanusiaan dapat melampaui semuanya.

Gus Dur memang memiliki konsistensi dalam melakukan tindakan yang diyakini benar kapan dan di manapun. Beliau bahkan tidak memperdulikan apa yang dikatakan orang. Keyakinan, kemampuan analisis dan kepercayaan diri yang sangat kuat itulah yang membuat Gus Dur bisa berpandangan lain dan bertindak lain dari arus utama yang sedang berkembang. Gus Dur memang  bisa menjadi sosok yang nyleneh, akan tetapi konsisten pada prinsip.  Wallahu a’lam bi al shawab.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)