Opini

Islam Nusantara Warisan Wali Songo

Admin MSN | Jumat, 13 Juli 2018 - 15:01:46 WIB | dibaca: 77 pembaca

Lagi-lagi segelintir orang gagal paham dengan Nahdlatul Ulama. Konsep Islam Nusantara kembali mendapat tudingan. Alih-alih meminta pemahaman kepada ahlinya, sikap yang diambil justru sangat disayangkan.

Dengan percaraya diri menganggap bahwa "Tidak ada Islam Nusantara, yang ada hanya Islam dari Allah." Pernyataan seperti ini akan berbahaya apabila langsung ditelan oleh masyarakat awam. Sebenarnya, apa sih Islam Nusantara itu? Dan kenapa masyarakaat NU dengan gigih mempertahankan dan membumikan Islam Nusantara?

Sebenarnya simple, ketika Islam datang ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan pernikahan antara warga pendatang dari Timur Tengah dengan penduduk asli, bangsa Indonesia yang lebih dulu dikenal dengan sebutan Nusantara sudah memiliki karakter sesuai daerahnya.

Masyarakat Sumatera (Melayu) memiliki karakter, masyarakat Sunda memiliki karakter, masyarakaat Jawa juga memiliki karakter: "Sugeh tanpo bondo, Digjoyo tanpo adji, Nglurung tanpo bolo, Menang tanpo ngasorake." Yang artinya adalah kaya tanpa harta, tak terkalahkan tanpa kesaktian, menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan.

Karakter seperti ini tidak bisa dirubah secara langsung. Begitu cerdasnya para Wali yang mampu menyebarkan agama Islam tanpa harus merubah karakter juga budaya bangsa. "Berislam tanpa harus meninggalkan karakter bangsa." Begitulah tutur KH Marzuki Mustamar. Berdakwah tanpa menyinggung apalagi menyakiti orang lain.

Islam datang untuk membimbing, mengarahkan serta membina budaya yang ada. Tidak masalah masyarakat menggelar acara budaya seperti Bantengan, namun, kiai tetap menghimbau untuk menghilangkan bakar dupa, atau segala hal yang berbau kemusyrikan. Inilah yang disebut dengan Islam Nusantara.

Setiap orang memiliki kepentingan yang berbeda, ada yang ingin dagangannya laris, ada yang ingin sekolah dengan nyaman, ada yang ingin dakwah dengan aman, ada juga yang ingin ketika sudah meninggal anak cucunya tetap mengirimi alfatihah dan menggelarkan acara tahlil. Sama-sama mendapat perintah menutup aurat, namun, setiap negara bahkan daerah memiliki kepentingan, kebutuhan, dan pekerjaan yang berbeda.

Jubah bukanlah standar pakaian syar’i. Di Indonesia, banyak pekerja berat, seperti tukang becak, tukang bangunan, dan bahkan di Blitar tidak sedikit yang nderes (baca: mengambil air pohon kelapa untuk dijadikan gula), apakah pekerjaan seperti itu cocok mengenakan jubah? Tentu tidak.

Oleh karena itu "Ngono yo ngono, nanging ojo ngono." Begitulah jargon yang sering dilontarkan oleh wakil rois syuriah Jawa Timur tersebut. Yang artinya, kita boleh meyakini suatu hal itu benar, tapi, jangan sampai merasa paling benar sehingga yang tidak sependapat bisa kita salahkan. Wallahu A’lam. (Dh/Uswah)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)