Berita

Kajian Aswaja KH. Marzuqi Mustamar: Anjuran Berkurban

Admin MSN | Senin, 28 Agustus 2017 - 12:20:05 WIB | dibaca: 541 pembaca

Menjelang peringatan Hari Raya Idul Adha 1438 H, Wakil Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar dalam pengajian kitab kuning "Tarhib Wat Targhib" Rutinan Jumat pagi di Masjid Nur Ahmad menjelaskan seputar kurban. Pertama yaitu tentang anjuran untuk berkurban, dalam kitab tersebut dijelaskan, barang siapa yang diberi kelapangan rizki namun enggan berkurban, “Tidak perlu ikut salat (baca: salat ied).” Sabda Rasulullah saw.

Dan yang kedua perihal panitia kurban. Kiai Marzuki Mustamar menjelaskan, bahwasannya panitia kurban haruslah berhati-hati dan juga harus punya ilmu. Hal ini beliau tuturkan sebab dianggap sangat penting mengingat akan dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat.  

Beliau juga menjelaskan,  bahwa adakalannya panitia kurban hanya sekedar pelaksana statusnya yang menerima amanat hewan kurban tersebut. Semisal saya berkurban lalu memberikan amanat kepada panitia, setelah hewan disembelih, kulitnya saya jual dan dagingnya untuk kurban, dalam kasus ini maka status hewan tadi tidak jadi hewan kurban, akan tetapi berubah statusnya menjadi sedekah. Lain halnya jika saya memberikan amanat kepada panitia, setelah hewannya disembelih, kulitnya akan saya berikan kepada panitia, dagingnya untuk kurban. Maka, statusnya tetap hewan kurban, dikarenakan sudah ada pemberian yang sah dan status kulit tadi sedekah untuk panitia.  Entah nanti kulitnya dijual dan dibagi seluruh panitia, untuk dibikin beduk masjid ataupun hal lain, tidaklah masalah.

Perlu di perhatikan juga, panitia tidak boleh  memakan daging kurban, dikarenakan status daging tersebut adalah daging kurban. Kadang ada hewan statusnya bukan kurban akan tetapi dikira kurban, hal Ini biasanya terjadi di  desa. Misalkan, anak sekolah yang iuran 100 ribu bersama teman-temanya, beli hewan untuk dikurbankan. Hal tersebut tidak bisa dikatakan sebagai hewan kurban, akan tetapi hewan yang statusnya sedekah. Jadi, bisa disembelih dahulu, dagingnya untuk dimasak dan dimakan bersama-sama.

Ada juga sumbangan dari PemDa (Pemerintah Daerah), dananya diambil dari APBD dan bukan uang pribadi, jadi status hewannya adalah sedekah, sehingga hewannya boleh disembelih dahulu  dan dimakan bersama panitia, karena status hewannya itu bukan hewan kurban tapi sedekah. Kadang panitia ada titipan hewan akikah, justru bagus jika disembelih jam 2 malam. Jadi setelah salat ied bisa dimakan bersama.

Perlu diingat, hewan pemberian dari non-muslim statusnya bukan hewan kurban, jadi setelah hewannya disembelih lalu disendirikan, yang pertama bisa dimakan panitia dan yang kedua untuk mereka yang non-muslim.

Di riwayatkan dari Zaid bin Arqom Rasulullah berkata: Kurban itu aslinya ajaran Nabi Ibrahim. Setiap helai rambut hewan kurban dapat pahala. Semakin tebal rambutnya semakin banyak pula pahalanya. Setiap rambut itu mendapat 1 kebaikan.  Sehingga tak heran jika Rasulullah SAW ketika berkurban memilih kambing Gibas, yang mana rambutnya sangat tebal.

Berdasarkan kitab  dan penjelasan dari pendiri PP Sabilurrosyad tersebut, kita dapat memetik pemahaman, bahwasanya panitia kurban harus berhati-hati sekaligus berilmu, bisa jadi hewan yang diniatkan untuk kurban malah berubah statusnya menjadi hewan sedekah. Dan yang dikira hewan kurban ternyata statusnya hewan sedekah. Oleh karenanya, panitia kurban janganlah sembarangan. Tidak hanya itu, bagi setiap muslim yang sudah mampu dan diberi kelapangan rizki oleh Allah SWT hendaknya segera berkurban. Wallahu a’lam. (El-Mufied/Diah).

  


Video Terkait:










Komentar Via Website : 1
cara mengobati tumor rahim
31 Oktober 2017 - 09:36:57 WIB
terimakasih banyak atas informasinya
https://goo.gl/KR6H7j
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)