Sastra

Kambing Hitam Peradaban

Admin MSN | Sabtu, 28 Oktober 2017 - 00:47:30 WIB | dibaca: 44 pembaca

oleh: Rubio

Senja itu, langit tiba-tiba memerah, penuh bercak darah. Berpuluh-puluh tubuh tergeletak di atas tanah. Beberapa meregang nyawa dan beberapa sudah tak bernyawa. Tak jauh dari tempatku mendekam, bersembunyi di balik rumpun dedaunan, kulihat tubuh gegap tengah berjalan menjauh. Sebilah gaman berwarna tak lagi perak berada dalam genggamannya.

Aku menggigil takut. Dalam hati dzikir kusebut tiada henti. Aku ingat benar, aku tengah bermain petak umpet bersama teman sejawat beberapa waktu lalu. Aku bersembunyi di semak dekat sebuah tugu. Lantas, dengan kronologi yang tak kumengerti, sekarang aku berada pada situasi mencekam ini, melihat orang menjagal manusia seperti menjagal sapi.

“Bukankah sudah kubilang, sekarang ini, rasa hormat manusia Indonesia terhadap hidup telah begitu turun dan menganggap bahwa membunuh mereka yang berbeda pendapatnya adalah sesuatu yang wajar“ seorang pria bermata sipit tiba-tiba duduk di sebelahku.

Air mukanya yang datar, pucat pasi, seakan memandang dengan tak peduli semua keadaan chaos itu.

“Beruntung aku hanya tak berhasil bernafas karena menghirup racun, tidak menjadi korban tangan kotor orang-orang itu“ tuturnya kemudian.

“Anda siapa?“ tanyaku.

“Aku orang yang anti mereka, tetapi aku juga orang yang memprotes keadaan tak adil untuk mereka“ Pria itu tersenyum sejenak, tetapi senyumnya tidak manis, “sudahlah bocah, untuk apa kau disini?“ dia mengusap wajahku. Tangannya dingin dan bau belerang.

Ketika aku membuka mata, pria dan mayat-mayat itu sudah tidak ada, justru teman bermainku yang sekarang mengerubutiku,

“Fadhil, kau baik-baik saja? Kenapa kau berbaring di bawah semak-semak? Kau ini pingsan atau tidur?“

Aku hanya diam. Linglung.

“Sudah sudah, ayo pulang. Lain kali jangan main dekat tugu lagi. Kata Mbah itu daerah terlarang“ yang lainnya menimpali.

Segera kami kembali ke rumah masing-masing. Lagipula hari juga sudah petang. Orang Jawa selalu percaya, hal terbaik yang dapat kita lakukan waktu surup adalah berada di rumah, membaca kitab suci bila perlu.

..

Hari-hari berikutnya begitu cepat berlalu. Awal 1980 terasa baru kemarin, tetapi sekarang, ketika aku menghadap kalender di dinding rumah, tulisan 2010 sudah tertera besar-besar.

August of the year“ aku mencatat dalam sebuah buku abu-abu.

Agustus adalah bulan aku dilahirkan, tetapi selalu saja tidak ada yang spesial, kecuali perayaan Agustusan di kampung dan kota untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia tercinta. Lalu bendera merah putih bertebaran di sepanjang jalan. Dan aku harus mencukupkan dengan itu.

Cung, kamu masih sering bermimpi aneh?“ perempuan paruh baya yang rambutnya penuh uban itu menghampiriku. Aku biasa memanggilnya Mbok. Si Mbok  adalah orang yang selama ini hidup bersamaku. Dia adalah ayah, ibu, dan satu-satunya keluargaku, paling tidak sampai aku telah menjadi ayah bagi seorang anak dan suami bagi seorang perempuan yang wajahnya selalu menentramkan.

 “Sudah tidak lagi Mbok“ aku berbohong. Dengan begitu, setidaknya Mbok tidak perlu lagi merasa khawatir. Di usianya yang senja, tidak seharusnya dia memikirkan terlalu banyak hal. Lagipula selama ini aku sudah cukup menjadi beban baginya.

Aku tahu si Mbok banyak menerima keluhan tetangga karena aku. Kata mereka aku anak indigo pembawa sial, katanya lagi aku anak orang-orang pembangkang, dan yang paling tidak mengenakkan, ah tidak usah disebutkan.

Aku tidak perlu mengambil pusing hal tak penting. Semua itu sudah lewat dan tidak perlu diingat-ingat. Aku cukup tahu, bahwa mimpi-mimpiku, atau juga yang semu mimpi, bukanlah sesuatu tanpa arti.

“Aku akan pergi keluar sebentar Mbok. Tolong sampaikan ke Ratih agar tidak mencariku“ aku mencium punggung tangan si Mbok. 

Tangan Mbok yang lain, yang sudah berkeriput hebat, mengusap-usap rambut kepalaku. Rutinitas yang selalu sama setiap kali aku berpamitan, bahkan ketika rambutku sendiri juga telah beberapa beruban.

“Lekaslah pulang sebelum petang“

Aku mengangguk.

Semenjak menikah dengan Ratih, aku tinggal jauh dari pemukiman tempat aku dibesarkan. Mbok yang menyarankan aku untuk membangun keluargaku sendiri jauh dari desa itu dan membiarkan ia tinggal sendiri di gubuk lamanya.

Bertandanglah kemari jika kau rindu. Tetapi jangan hidup-matimu kau habiskan di sini. Tempat baru akan membuatmu lebih bahagia. Begitu tutur Mbok beberapa waktu silam.

Dan sekarang, dengan dasar rindu, aku mengunjungi Mbok. Membawa serta istri dan anakku untuk meramaikan gubuk tua itu.

Selalu, kunjungan adalah caraku mengumpulkan kenangan. Berjumpa dengan tempat-tempat yang telah lama kutinggalkan, dan bercengkrama dengan hasutan-hasutan nakal akan jejak ketidaknyamanan.

Aku berhenti tepat di bawah Mahoni, batangnya menjulang lebih tinggi dari pepohonan lainnya, dan bijinya yang menua; berjatuhan di tanah. Ketika salah satu biji kucicipi, rasa pahit semu getir melekat di lidah.

“Ini akan sangat baik untuk menghilangkan bisul. Bisul-bisul kehidupan“ bisikku pelan, tidak untuk didengar.

Tak jauh dari Mahoni, sebuah tugu yang perawakannya usang dan tak terjamah mausia berdiri sebatang kara. Sengsara dan kesepian.

Dulu, dulu sekali, tugu itu; biarpun menjadi larangan, tak pernah lengang dari bocah-bocah yang bermain layangan, nekeran, karetan, dakon, gijig, krewengan, dan playonan. Bocah-bocah yang kumaksud tadi adalah aku dan teman-temanku, yang disebut sebagai generasi x oleh manusia yang mengaku dirinya modern.

Biarpun kuno, bagiku generasi x adalah generasi hebat. Bukan karena penemuan yang canggih, tetapi karena mereka dekat dan bersahabat dengan alam. Menjaga dan bukan menjarah alam.

Kendati tak jarang juga mereka meminta semangka dan blewah di sawah tetangga tanpa izin usai bermain.

Kurasa hal itu dimaklumi. Dan memang sudah lumrah. Patokannya adalah apapun halal, selama kau anak-anak, dan selama kau tak melakukannya sendirian. Tetapi itu bukan prinsip yang benar setelah kau dewasa dan menyadari peraturan hidup manusia.

“Fadhil?“ suara serak dan berat itu kukenali. Suara yang sering memanggilku ketika aku tiba-tiba hengkang dari dunia nyata dulu. Suara yang selalu mengatakan aku untuk tenang ketika tiba-tiba aku merasa ketakutan.

Untuk suara itu, akupun segera menoleh. Kini di depanku berdiri perawakan jangkung yang kulitnya telah berkeriput. Sama sepertiku. Wajah tampannya juga sudah berkurang, diganti oleh aura baru, waskita dan nyungkani.

Aku merangkulnya, mengatakan lama sekali tak berjumpa dan betapa aku rindu pada sosoknya.

“Sahabat dunia akhirat“

“Sahabat sehidup sesekarat“

“Sahabat sampai akhir hayat“

Kami berdua terkekeh. Satu-satunya fisik yang tak berubah dari kami adalah gigi yang tak berkurang kokoh dan putihnya. Dan aku percaya itu adalah salah satu khasiat arang dan garam yang digunakan untuk pasta.

“A for a mass murder“

“B for Big Mistake “

“C for Clan“

“D for Deserves “

“E for Emphaty“

“F for Forgive“

Sandi yang sama, yang selalu kami ucapkan ketika bertemu semenjak 7 tahun terakhir. Pada pertemuan-pertemuan langka itu, aku dan sahabaqtku, -Bagio-, selalu menyempatkan diri untuk berkisah perjalanan masing-masing. Tentang manusia dan hidupnya. Tentang bumi dan keprihatinannya. Lalu sesekali tentang keluarga kecil kami yang telah bahagia dengan mencukupkan hati akan segala ketetapan baik dan tak baik.

“Kau masih meradang Dhil? “ tanya Bagio suatu ketika.

Beberapa kali aku menjawab iya, tak ikhlas dengan apa yang telah terjadi. Atas ketimpangan. Ketidakadilan. Dan keseberpihakan; yang kemudian berujung pada penderitaan karena bayang-bayang tak jelas hantu ketakutan.

Namun untuk hari ini jawabanku lain.

“Meradang bukanlah pekerjaan Fadhil“ begitu kataku.

Bagio tersenyum. Agaknya dia menyangsikan ucapanku, atau jawabanku sama sekali tidak mencerminkan aku. Betapa  untuk perkara satu itu aku sulit sekali memaafkan. Tetapi Bagio orang yang sopan dan berhati, jadi dia tak menyatakan kesangsiannya itu. Dia hanya bertanya apa gerangan latar belakang jawabanku.

Aku mengatakan, beberapa waktu lalu, kira-kira 3 tahun, seorang Kakek dengan penglihatan tidak sempurna datang menemuiku.

“Dia mengenakan peci hitam yang tidak lurus dan tubuhnya sedikit gemuk. Ah bukan sedikit gemuk tetapi memang gemuk“ aku mendeskripsikan orang yang kutemui.

“Apa giginya rata? “ Bagio menimpali.

Aku menggeleng, “Tidak“.

Kemudian kujelaskan lagi bahwa kakek itu mengatakan, keruwetan yang terjadi antara yang tertuduh dan yang menghakimi, yang menyebabkan aku menjadi yatim dan terlantar, adalah sama-sama korban. Korban keadaan. Kambing hitam. Lalu ketika aku bertanya siapa yang patut dipersalahkan, kakek itu menjawab,

Untuk apa menyalahkan, bukankah lebih baik memaafkan? Toh tidak ada enaknya mewariskan kebencian, hanya akan memperkeruh keadaan dan menjadi beban.

Bagio manggut-manggut.

Aku ikut manggut-manggut, dan terhenti ketika anakku, Galih, tiba-tiba berlarian ke arahku dan berseru,

“Pak.. Pak-e.. Mbah Pak. Mbah sedha[1]

 



[1] Meninggal dunia










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)