Pesantren

Ketika Guru Sufi Perintahkan 7 Muridnya Sembelih Ayam

Admin MSN | Kamis, 26 Oktober 2017 - 18:22:56 WIB | dibaca: 156 pembaca

Ilustrasi gambar therasufi.com

Sebagai seorang guru tasawuf, Syekh Atho' Assilami sangat disegani oleh para muridnya. Meskipun hanya berjumlah tujuh orang, ada saja salah satu di antaranya yang menjadi kesayangan Syekh Atho'. Namanya Ibrahim. 


Dasar maslah hati, mau disimpan bagaimanapun kecintaan Syekh Atho' pada Ibrahim tetap terbaca oleh keenam murid lainnya. Praktis, hal itu menimbulkan kecemburuan tersendiri di kalangan mereka.

Syekh Atho' ternyata menyadari hal itu. Namun, ia pun juga tak ingin menimbulkan perselisihan dengan menjelaskan secara panjang lebar kelebihan Ibrahim dibanding teman seperjuangannya itu. Takut jikalau itu malah tidak objektif dan terlalu dilebih-lebihkan. Yang justru, nantinya malah akan meningkatkan rasa kecemburuan di antara mereka, para muridnya.

Akhirnya, Syekh Atho' pun memiliki cara yang lebih elegan. Dipanggilnya ketujuh muridnya untuk diberi tugas. Ia berkata kepada murid-muridnya,

"Wahai anak-anakku. Sembelihlah ayam ini, namun jangan sampai ada siapa pun yang mengetahuinya. Siapa pun ia," perintah Syekh Atho' tegas.

Setelah kesemuanya menerima ayam dan sebilah pisau, ketujuh muridnya lalu dipersilakan untuk mencari tempat sesuka mereka. Tanpa pikir panjang dan tunggu lama, murid-murid itu pun bergegas mencari lokasi yang tepat, yang tersembunyi, yang—menurut mereka—tidak akan terlihat oleh siapa pun.

Tak selang beberapa lama, satu per satu murid Syekh Atho' pun kembali dengan membawa ayam yang telah terpotong lehernya. Sambil berkata congkak bahwa mereka yakin tak ada siapa pun yang mengetahuinya.

Tetapi, setelah sekian lama, ada salah satu murid Syekh Atho' yang tak kunjung kembali. Ya, ia adalah Ibrahim, murid kesayagannya. Semua temannya heran, mengapa ia begitu bodohnya mencari lokasi tersembunyi, batin teman-temannya. 

Berbeda dengan Syekh Atho', ia justru tampak tenang sekali. Ternyata, beberapa saat kemudian Ibrahim kembali dengan ayam yang masih hidup. Tanpa pisau yang berdarah, dan ayam yang masih juga bersih.

Syekh Atho' pun dengan bangga lantas bertanya, "Wahai Ibrahim, mengapa ayammu masih hidup? Bukankah aku perintahkanmu untuk menyembelihnya?"

"Maaf sang guru, bukannya saya hendak melawan perintah Anda. Namun, saya benar-benar tak bisa menyembelih ayam ini tanpa diketahui siapa pun. Bagaimanpun juga, saya tidak bisa mengingkari hati nurani saya bahwa di mana pun saya berada, Allah akan tetap melihat apa yang saya kerjakan," jawab Ibrahim dengan lugunya.

Sontak, seluruh temannya tertunduk malu. Bagaimana mereka begitu yakin, jika tidak ada siapa pun yang melihat perlaku mereka. Padahal sang guru telah mendidik hatinya sedemikian rupa, agar mereka selalu menancapkan Allah dalam relung sanubari. 

Lewat kejadian itu pun, para murid akhirnya sadar mengapa sang guru begitu sayang terhadap Ibrahim. Dan sejurus dengan kesadaran mereka, Ibrahim lantas dipersilakan duduk di samping gurunya itu. Sedang Syekh Atho' tanpa berkata apa pun, kembali terpejam dan melanjutkan dzikirnya. (*)
 
Penulis: Ulin Nuha Karim (NU Online)


Kisah ini disarikan dari buku “Menuju Ketenangan Batin”, kumpulan karya tulis KH M Cholil Bisri (Kompas, 2008) 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)