Opini

Keunggulan "Ngaji lan Ngabdi" dalam Menyikapi Masalah-masalah di Era Globalisasi

Admin MSN | Minggu, 21 Juli 2019 - 13:54:02 WIB | dibaca: 61 pembaca

 

Di zaman globalisasi seperti saat ini, informasi semakin cepat serta semakin mudah didapat. Apalagi didukung dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita bisa mengetahui berita di seberang lautan hanya dengan satu gerakan dan satu kali klik. Di kabarkan dengan pembuatan teknologi 5G, yang menawarkan kecepatan hingga 1Gbps. Selain kita bisa mendapatkan informasi dengan mudah, kita juga dapat berkomunikasi dengan mudah dan cepat.
   Namun di zaman super cepat ini, batas-batas antar negara semakin menghilang. Artinya ini membuat semakin sering terjadi interaksi antar budaya. Jika tidak di imbangi dengan kemampuan filter budaya yang baik ini akan membuat tercampurnya budaya luar yang kurang baik, bahkan bertentangan dengan budaya nenek moyang yang sudah disesuaikan dengan nilai-nilai islami oleh Wali Songo sebagai alat dakwah di Nusantara. Di sinilah tantangan kita sebagai penerus bangsa bagaimana mempertahankan budaya sekaligus mampu mengambil nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
   Peran pesantren sebagai lembaga atau sistem pendidikan tertua di Indonesia terbukti ampuh menangkal dan memfilter budaya luar yang masuk. Pesantren mampu berperan sebagai benteng budaya melalui amaliyah-amaliyahnya, baik yaumiyah atau yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Sistem pendidikan pesantren berbeda dengan pendidikan sekolah formal. Dalam pesantren, pembelajaran dilakukan selama 24 jam, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Berbeda dengan pendidikan formal yang hanya dilakukan sewaktu di tempat atau di sekolah saja. Selain itu, dalam sistem pembelajarannya ditekankan pada adab dan akhlaknya, kemudian sekarang lebih dikenal dengan pendidikan karakter.
   Salah satu kunci sukses pembentukan karakter di dalam pesantren dapat kita lihat pada slogan yang sering diucapkan yaitu "Ngaji dan Ngabdi" . Ya, slogan tersebut sudah menjadi motto hidup pada setiap santri. Slogan ini sudah ditekankan pada diri setiap santri sejak mereka masuk, dan diasah terus hingga boyong. Dari slogan Ngaji dan Ngabdi sebenarnya kita mampu melihat bagaimana atau ke arah mana santri akan dibentuk.
   Ngaji atau belajar kitab ini merupakan benteng budaya melalui ilmu pengetahuan, sehingga seorang santri mampu memilah dan memilih budaya mana yang pantas diterapkan atau diambil dan budaya mana yang harus dibuang. Ngaji menjadi bekal santri saat terjun di masyarakat, terutama menyelesaikan permasalahan-permasalahan di masyarakat dari sudut pandang agama.
   Sedangkan ngabdi atau khidmah ini merupakan benteng budaya melalui perilaku dan karakter. Sangat banyak nilai yang bisa diambil dari ngabdi atau khidmah sendiri. Berbeda dengan ngaji, ngabdi menuntut seorang santri agar ikhlas dan tawadlu'  ( rendah hati ). Hal ini sajalan dengan santri yang berasal dari kata cantrik yang berarti pembantu, budak atau babu. Disini santri diajarkan bagaimana bersikap tawadlu' kepada kyainya. Taat dan melayani sesuai dengan perintah atau dhawuh kyai, istilahnya sami'na wa atho'na. Kami taat dengan segala yang dikatakan Abah Kyai.
   Dengan pembelajaran seperti ini tentu akan membuat santri mampu menjadi teken atau tongkat dalam masyarakat. Artinya santri mampu menjadi penyokong bagi kehidupan masyarakat. Dengan karakter ikhlas mengabdi,  tawadlu'  serta mampu melayani di dalam masyarakat. Tahu dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu juga disokong dengan ilmu yang didapat waktu ngaji membuat santri mampu menjadi filter budaya yang lengkap. Filter budaya secara ilmu dan mampu menerapkannya dengan perilaku-perilaku yang sesuai dengan tuntunan agama. (Dzulfikri Alwi Muhammad)











Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)