Berita

Kiai Marzuki Sentil Panitia HIMMABA UIN Maliki

Admin MSN | Senin, 12 Februari 2018 - 09:21:38 WIB | dibaca: 496 pembaca

Gambar diambil dari google

Sejenak teringat pesan Kiai Marzuki Mustamar dikala menjelang Pelatihan eL-OMt HIMMABA Komisariat UIN Maliki Malang di tahun 2013 lalu. ketika kami sowan guna memohon pada beliau untuk mengampu materi tentang Keaswajaan pada pelatihan tersebut. Kami pun memberi beliau gambaran kisi-kisi materi yang kami buat bersama pihak panitia dan pengurus sehingga bisa ditindak lanjuti oleh beliau.


Setelah kami menyodorkan kisi-kisi atau bisa disebut pula Silabus Acuan Materi. Tak disangka beliau justru menolak dengan halus kisi-kisi yang kami buat, kemudian berpesan, yang mana pesan itu hingga kini masih menancap di hati kami.

 

"Mas, wong pingin dahar sate kok di wei bakso. Nggeh mboten cocok kale atine", dawuh beliau kepada kami.

 

Sebuah tamparan keras bagi kami atas rancangan kisi-kisi materi pelatihan yang telah kami buat semalaman di sebuah kedai di Malang. Tapi ambil hikmahnya saja, karena memang disadari atau tidak kisi-kisi tersebut memang dibuat secara instan. Sebagai rujukan materi bagi para narasumber pelatihan eL-OMt. Meski sebenarnya hal tersebut dibuat sebagai pelengkap persyaratan kegiatan pelatihan agar terlihat lebih profesional dan formal, karena sebelumnya kami menganggap bahwa sebuah pelatihan haruslah disusun dengan cara formal agar tampak lebih profesional. Alhasil itulah sebab kami membuat standar  kisi-kisi materi yang disampaikan dalam pelatihan nanti. Tentu saja bertujuan agar terjalin sebuah hubungan antara panitia pelaksana sebagai pembuat materi dengan para narasumber terkait materi. 

 

Namun setelah peristiwa penolakan oleh beliau Yai Marzuki, tentulah kami menyadari atas kesalahan kami tentang pembuatan kisi-kisi materi. Bahwa kerap kali para pegiat organisasi hanya sekedar membuat sebuah kegiatan atau apapun termasuk perancangan acuan materi pelatihan, dengan semata-mata berpandangan organisasi-sentris alias hanya memenuhi tuntutan organisasi agar terlihat professional dan terlihat rapi di mata luar, atau ekspektasi diri lainnya. Namun disisi lain, kerap kali pegiat organisasi tersebut melupakan hal yang sederhana, apa manfaat dari kegiatan atau hal tersebut bagi anggota. Tentulah sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anggota dalam setiap zamannya, termasuk dalam menentukan materi pelatihan beserta kisi-kisi yang dibuatnya. Bukan malah sesegera berhias diri berusaha tampil "wah" dengan merancang hal-hal tersebut atas dasar kesempurnaan organisasi, lebih buruk lagi kesempurnaan kepengurusan. 

 

Kemudian dikaitkan dengan ranah pendidikan bahwa pendidikan itu memang harus sesuai dengan dinamika zaman yang mengacu pada kebutuhan peserta didik. Bukan sekedar hanya memenuhi tuntutan pada formalitas pendidikan melalui silabus, RPP, Prota, Promes, dan lain sebagainya. Meskipun sebenarnya hal-hal tersebut juga memilki urgensi tersendiri dalam kancah pendidikan formal di era "now" yang memang kerap kali mengharuskan para pendidik untuk "bermesra" dengan kertas-kertas laporan, sebagai pertanggung jawaban kepada negara selaku penyelenggara pendidikan. (*)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)