Pesantren

Kudu Waspodo ing Gumedhening Roso

Admin MSN | Kamis, 22 Februari 2018 - 17:12:19 WIB | dibaca: 250 pembaca


Sebagai seorang manusia, apakah kita pernah merasa bisa atau rumongso biso? Tentu bukan hal yang aneh ketika setiap insan merasa optimis akan sesuatu hal, tapi apakah perasaan itu kemudian menjamin hasil yang akan kita dapatkan?

Manusia sejatinya adalah makhluk yang lemah yang artinya bukan sengaja diciptakan Allah dalam keadaan lemah, akan tetapi kondisi manusia ketika diciptakan memang sudah lemah. Hal ini kemudian yang membuat manusia menyadari posisinya sebagai hamba yang kecil dihadapan Allah SWT. Tidak memiliki kekuatan sedikitpun dalam menentukan sesuatu. Pernakah salah satu dari kita mengalami kejadian dimana ketika kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencapai sesuatu dan optimis akan mendapatkannya justru yang terjadi adalah sebaliknya. Tapi di sisi lain ketika kita menginginkan sesuatu dan berikhtiar dengan semampunya diiringi pasrah bongkok’an (pasrah banget) justru hasil yang kita dapatkan adalah diluar dugaan. Hal ini sebagai gambaran bahwa ikhtiar kita yang besar tidak menjamin keberhasilan kita jika tidak diiringi dengan perasaan rendah dihadapan Allah SWT, akan tetapi sebaliknya ketika ikhtiar yang semampunya dengan tetap dibarengi kesungguhan hati dan perasaan tidak memiliki kekuatan untuk menentukan hasil akhir justru membawa kita pada keberhasilan. Betapa perasaan “rumongso” itu bisa membuat kita seolah-olah lebih tahu dan kuat dari kuasa-Nya.

Sebagai contoh adalah bagaimana kisah dunia manusia yang dimulai dengan disuruhnya iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam as yang kemudian menolak karena merasa dirinya (iblis) lebih baik dibandingkan Nabi Adam as. Iblis memang tidak secara terang-terangan menyombongkan diri kepada Allah seperti dengan kalimat “Ya Allah ini lho aku yang terbaik yang lain tidak ada apa-apanya” akan tetapi iblis bilang “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Betapa dahsyatnya kalimat perbandingan yang diucapkan iblis hingga akhirnya menjadikan dia terusir dari surga. Jika dianalisis, iblis melakukan perbadingan dengan asumsi bahwa iblis memiliki perasaan atau rumongso lebih baik dibandingkan dengan Nabi Adam as dan dengan kata lain iblis meremehkan Nabi Adam as. Dari kisah ini kita dapat mengambil pembelajaran bahwa jangan sampai dalam hati kita muncul perasaan “merasa” atau meremehkan. Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud ra “Tidak akan masuk surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya.” (HR. Muslim)

Dadi wong iku ojo rumongso gumedhe, sowan marang gusti Allah kok nduwe roso gumedhe opo arep nyaingi Gusti Allah ? maka ora bakal entuk hikmah, ilmu, lan rahmat saking Allah wong sing nduwe roso gumedhe” maksudnya jadi orang itu jangan merasa besar (takabur), menghadap kepada Allah kok dengan perasaan takabur apakah mau menyaingi Allah ? maka tidak akan mendapat hikmah, ilmu, dan rahmat Allah orang yang memiliki sifat takabur, kira-kira begitu dawuh Abah Yai Marzuki Mustamar dalam pengaosan Majelis Ta’lim wal Maulid ad-Diba’ di Masjid Miftahul Jannah Sawojajar Malang (Rabu, 21-2-1018)

Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari perasaan takabur sekecil apapun dalam hati kita. Aamiin...

(Tri Efi)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)