Berita

Kurikulum Lintas Sektoral

Admin MSN | Sabtu, 12 Mei 2018 - 13:46:42 WIB | dibaca: 80 pembaca

Google

Oleh: Moh. Ahsan Shohifur Rizal

Guru Tidak Tetap  SMA Negeri 1 Kepanjen 

Kurikulum menjadi perbincangan yang hangat untuk diteruskan. Apalagi kurikulum selalu berganti sesuai pemangku kebijakan politik yang ada. Tidak salah jika saya sebagai guru juga mencoba bermimpi tapi tak mengubah apa yang ada. Kurikulum Lintas sektoral mungkin terlihat ekstrim dan mengada-ada. Dari segi namanya saja sudah agak gak masuk akal. Tetapi saya sebagai pemikir dan pemimpi siang hari untuk belajar memahami apa itu kurikulum Lintas sektoral guna kesuksesan pembelajaran di sekolah.

Kita mengenal istilah lintas sektoral. Tentu yang terbayang di benak kita adalah sekolah wajib bekerjasama dengan sektor lain entah dalam bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan ataupun yang lain. Instansinya juga bisa milik pemerintah maupun swasta. Terjadinya kerjasama antar sektor dengan sekolah tentu untuk mendesain kurikulum dengan berbagai kebutuhan yang ada di sekolah. Dan sekolah hari ini adalah sekolah yang mampu mendesain kurikulum Lintas sektoral.

Jantung pendidikan di sekolah ada di kurikulum. Bagaimana kurikulum itu dikemas dan di desain lintas sektoral untuk mewadahi pembelajaran yang multi versal dan wawasan translinier. Selain itu, sekolah harus menjemput kesempatan untuk memadukan visi dan misi sekolah lintas sektoral yang ada di sekitarnya.

Kurikulum mungkin tidak selamanya ideal banyak yang harus digabungkan pola materi dan integrasinya, mengingat negara kita kaya akan diversitas budaya, bahasa dan hal lain yang bisa dijadikan pengembangan kurikulum Lintas Sektoral. Mungkin tidak cukup hanya berbunyi kurikulum X. Apalagi integrasinya.

Lintas sektoral, mungkinkah?tentu ini menjadi wawasan studi kita sebagai pendidik, perlunya membuat rancangan pembelajaran lintas sektoral. Kasus di sekolah saya misalnya, ketika ditulis sebutannya maka akan banyak nama lain dari nama asli sekolah saya. Diantaranya sekolah Adiwiyata, sekolah bersih narkoba, sekolah sehat, sekolah ramah anak, sekolah rujukan, sekolah ber ISO. Coba bayangkan klamufase sekolah yang beberapa saat bisa berubah dan perubahannya melibatkan sektor lain. Pertanyaan besarnya apakah kurikulum dalam hal ini pembelajaran, penilaian dan produknya secara bertahap bisa dilaksanakan?. Coba kita preteli satu persatu klamufase nama sekolah itu induk dari sektoralnya.

Sekolah Adiwiyata dari Kementerian lingkungan hidup, sekolah bersih narkoba dari BNN, sekolah sehat dari PMI. Coba kita bayangkan apakah semuanya sudah mengarah pada responsive sektoral masing-masing secara holistik. Inilah tugas negara dan warganya menjadikan dan memanfaatkan sektor lain untuk dikemas menjadi sebuah desain kurikulum yang relevan sesuai dengan kebutuhan yang ada pada peserta didik.

Pembelajaran pada dunia industri 4.0 harus dan wajib melibatkan sektor lain. Guna menunjang keberhasilan meta pembelajaran dan lintas produk karya partisipan didik. Partisipan didik tidak sekedar lulus menjadi siswa pintar tetapi siswa yang mampu mengaktualisasikan kehidupan sehari-harinya dengan pembelajaran dengan mengonstruk nilai kehidupan dalam pembelajaran dijadikan sebuah produk belajar.

Sambut kurikulum Lintas sektoral menjadi sebuah kesempatan untuk mengembangkan sayap. Ingat kurikulum tidak mono disiplin, mono budaya dan mono yang lain. Tetapi harus trans disiplin, responsif budaya dan lainya. Sekolah wajib menerima perubahan dan melakukan perubahan itu dengan memanfaatkan  glokalisasi lintas sektoral baik milik pemerintah maupun swasta yang ada di sekitarnya. Banyak kesempatan untuk mendesain kurikulum Lintas sektoral dengan memanfaatkan kurikulum yang ada dengan mengintegrasikan berbagai sektor yang ada.

Siapapun anda para pendidik mari kita belajar bermimpi dan berpikir untuk pendidikan kita. Kurikulum khususnya ada pada panjenengan semua. Revolusi sejatinya ada pada seorang guru. Penulis mencoba mengajak sekaligus mari kita bersama-sama untuk menghadapai kompetisi industri 4.0 yang sekarang kita hadapi. Harapannya siswa tidak sekedar cerdas tetapi siswa yang memiliki kompetensi transdisipliner. Dengan begitu kecakapan hidup seorang siswa akan terpenuhi kebutuhan masa depannya melalui desain kurikulum lintas sektoral.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)