Opini

Lailatul Qadar (Nikmat Nafas sebagai Refleksi Diri pada Illahi)

Admin MSN | Selasa, 12 Juni 2018 - 21:46:14 WIB | dibaca: 91 pembaca

Gambar diambil dari google

Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Bulan di mana Al-Qur’an diturunkan, dan bulan di mana ada malam yang sangat istimewa. Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan adalah malam yang digadang-gadang akan munculnya  Lailatul Qadar atau sering disebut malam seribu bulan. Pada malam itu manusia berlomba-lomba dalam beribadah berharap mendapatkan pahala berlipat ganda. Tapi disini penulis tidak akan membahas masalah amalan ibadah atau pahala. Melainkan tentang bagaimana merefleksikan diri pada Illahi di malam Lailatul Qadar.

Manusia adalah tempatnya salah. Namun, selalu merasa benar sendiri. Manusia adalah tempatnya lupa. Artinya manusia sering lupa akan kewajiban ibadahnya kepada Allah swt. Manusia adalah tempatnya khilaf. Maksudnya, manusia sering berlebihan mencintai sesama makhlukNya.  

Akan tetapi mengapa manusia justru dikatakan sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna? Hal ini karena selain bisa berpikir, manusia juga memiliki nafsu. Nafsu adalah empat anasir dalam diri manusia. Esensi angin  menciptakan nasfu kebaikan (muthmainnah), muncul dari indra penciuman, yang darinya segala iktikad baik dan klaim kebenaran terlahir. Esensi air melahirkan nafsu gairah (supiah), muncul dari mata, yang darinya segala birahi dan rasa keindahan tergetarkan. Esensi api menggetarkan nafsu marah (amarah), muncul dari telinga, yang darinya segala ambisi dan rasa kebencian tersulut. Esensi tanah menyulut nafsu tamak (lawwamah), muncul dari mulut, yang darinya segala lapar-dahaga dan rasa dendam terlampiaskan.

 Nafsu kadang membuat  manusia lupa akan nikmat-nikmat yang diberikan Allah swt. Karena manusia hanya mengejar kenikmatan dunia dan tidak memperhatikan nikmat yang kelihatannya kecil tapi sebenarnya sangat besar manfaatnya.  Seperti halnya nikmat bernafas. Nafas adalah nikmat yang tiada tara. Selama udara masih bergerak keluar-masuk badan jasmani sehingga pompa paru-paru mengembang dan mengempis sesuai mekanisme nafas-anfas-tanafas-nufus: mengirup-merasuk-menahan-mengembus, selama itu pulalah manusia hidup.

Sesungguhnya, hal pertama yang dilakukan setiap bayi setelah dilahirkan bukanlah menangis. Setelah bernafas di dalam rahim ibunya selama masa kandungan, bayi yang hadir ke dunia spontan melakukan embusan nafas pertama. Menyatukan udara dengan nafas. Tersengal, menangis adalah keadaan di masa awal penyesuaian dirinya dengan rahim yang bernama dunia. Hal terakhir yang dilakukan manusia menjelang kematian sesungguhnya bukanlah meratapi, menangis, takut, panik, dan kesakitan, melainkan mengeluarkan embusan nafas terakhir.

Begitu penting kita mensyukuri nikmat nafas yang diberikan Allah swt.  Mensyukuri nikmat dengan jalan taubat, menyesali segala kesalahan, dan kekhilafan sebelum bulan Ramadhan berakhir. Meraih Id al-fitr, kembali fitrah, sebagimana seharusnya manusia kembali seperti bayi. Dan meningkatkan lagi ibadah  kepada Allah secara intens. Menebarkan nilai-nilai Rahmatan lil ‘Alamin atau dalam istilah Jawa dikenal dengan Memayu Hayuning Bawono.

   Kita berharap semoga Allah memudahkan jalan itu untuk kita. Jalan yang merupakan pertolongan-Nya. Jalan yang melebihi seribu daya dan upaya

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْر

’Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan’’( Q.S al-Qadr: 3)

Ayat di atas semakna dengan ungkapan ‘’Satu sentakan Allah SWT itu lebih baik dari pada ibadahnya orang-orang yang tekun’’. Artinya, jika pertolongan Allah mengintervensi  amal manusia, maka pertolongan itu telah melakukan ratusan kali lipat perjuangan, dan bahkan lebih. Perjuangan itu indah, baik, dan bermanfaat, tapi apakah artinya perjuangan itu jika dibandingkan dengan pertolongan Allah? Wallahu A’lam. (Moh Yajid Fuzi/Diah)

(Penulis merupakan Mahasiswa Universitas Islam Malang semester empat yang aktif di Himpunan Mahasiswa Progam Studi Ahwal Assyakhisiyyah sebagai ketua umum pada periode 2018/2019. Tergabung dalam Media Santri NU dan Komunitas GUSDURian Malang)

 

Kepustakaan

Rumi, Jalaludin, Fihi Ma Fihi, 2017: FORUM.
Malik, Chandra, Makrifat Cinta, 2017, Jakarta: Kompas










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)