Berita

Kisah Pilu Penambang Belerang

Lazisnu Banyuwangi Sambangi Penambang Belerang Desa Plampang

Admin MSN | Selasa, 31 Juli 2018 - 03:55:37 WIB | dibaca: 44 pembaca

Kawah di Gunung Ijen ini tak hanya menyimpan keindahan alam, tapi juga kisah pilu para penambang belerang di sana. Kawah Ijen merupakan danau kawah yang berada di puncak Gunung Ijen di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Perjalanan menuju kawah Ijen tidaklah mudah dan dekat, harus melewati jalan offroad yang menantang.

Tak hanya itu, kita juga harus melakukan trekking sepanjang 3 km. Dibalik hingar bingar keindahan yang sudah terkenal di seantero negeri, bahkan sedunia, ada kisah pilu perjuangan mencari nafkah para penambang belerang. Mereka harus naik turun kawah dengan membawa pikulan berat.

Ratusan penambang belerang di kawah Gunung Ijen Banyuwangi Jawa Timur menempuh bahaya setiap hari dan bekerja tanpa perlindungan. Tidak hanya itu, setiap hari mereka juga mengalami risiko menghirup asap beracun.

Menurut Ketua Ranting Nahdlatul Ulama Desa Plampang Kecamatan Kalipouro Ustad Busana, penambang belerang akan memulai tugasnya sejak dini hari. Di waktu itulah, para penambang belerang mulai mendaki ke puncak Gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2.443 meter, dengan menggunakan senter di kepala, jaket tipis dan sarung tangan. Bahkan di era Ustad Busana masih jadi penambang sekitar tahun 1989, pihaknya selain memanggul belerang juga harus membawa ‘oncor’. Alat penerangan tradisional dari bambu.

“Perjalanan ke puncak Gunung Ijen memakan waktu sekitar dua jam. Setelah sampai puncak para penambang menuruni lereng yang terjal untuk menuju kawah,” ujarnya saat ditemui PC Lazisnu Banyuwangi di kediamannya, Rabu (25/7) malam.

Sambil memanggul keranjang bambu penuh belerang dengan berat sekitar 70 kg, lanjut Ustd Busana, para penambang pun kembali meniti jalur berbatu. Sesekali langkah mereka terhenti untuk beristirahat. “Berat memang, tapi bagaimanapun tetap harus mereka jalani agar asap di dapur terus mengepul demi anak istri,” tambahnya.

Para penambang belerang harus turun sekitar 800 meter dari puncak Gunung Ijen ke mulut kawah. Untuk mendapatkan belerang, peralatan yang digunakan pun jauh dari kata aman. Mereka hanya menggunakan senter di kepala, jaket, kaus tipis, serta sarung tangan.

“Dilihat dulu anginnya, kalau angin lagi enggak ke arah kita ya aman. Tapi kalau angin lagi ke arah kita, ya harus naik lagi. Jangan nekat, bahaya. Bisa mati," terangnya.

Nanti, sambung Ustad Busana, belerang-belerang itu akan dikumpulkan ke satu pengumpul di kaki gunung. “Hidup memang tidak pernah mudah bagi para penambang ini. Alam yang amat indah di sisi satu, dan kehidupan keras para penambang belerang di Kawah Ijen di sisi lain,” pungkasnya.

Sementara itu, Fauzi Arif Wakil Ketua PCNU Banyuwangi mengungkapkan bahwa Lazisnu Banyuwangi tidak akan tutup mata dengan perjuangan para penambang belerang tersebut. Direncanakan, pada hari Minggu (29/7), Lazisnu akan memberikan sekitar 45 paket bantuan kepada para penambang. “Untuk awal kita akan menyediakan 45 paket bantuan, kemudian akan ada lanjutan seperti biaya pendidikan bagi anak-anak penambang, bisa juga biaya berobat bagi mereka yang bermasalah di kesehatannya,” tutupnya. (Faishol)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)