Berita

MADRASAH ALIYAH MA’ARIF 7 SUNAN DRAJAT GELAR PKPNU PERTAMA.

Admin MSN | Rabu, 02 Mei 2018 - 13:48:28 WIB | dibaca: 104 pembaca

Oleh : Ach Sunnaji,

Guru MA Ma’arif 7 Sunan Drajat 

 

Semangat mendidik untuk mengembalikan kekuatan kader muda Nahdliyin, Madrasah Aliyah Ma’arif 7 sunan Drajat menggelar kegiatan Pendidikan Kader Penggerak Nahdhatul Ulama’ ( PKPNU ) untuk yang pertama kali diwilayah pantura, karena baru 4 pondok Pesantren dijawa Timur yang melaksanakannya, diantaranya PP. Matholi’ul Anwar sungai Lebak, PP. Rodhotul Muta’abidin Solokuro, PP. Lirboyo dan PP. Sunan Drajat Paciran.

Agenda ini dilaksanakan untuk menjawab kegelisahan masyarakat karena banyak alumni-alumni pesantren yang notabennya adalah NU, tetapi ketika sedah keluar dari pesantren banyak yang pindah haluan bahkan tidak sedikit yang keluar dari Gerbong NU, maka dari itu Madrasah Aliyah Ma’arif 7 Sunan Drajat ini melaksanakan kegiatan ini agar kader-kader muda IPNU/IPPNU menjadi generasi yang selalu mengamalkan akidah-akidah ASWAJA.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari dimulai tanggal 23-25 April 2018, yang bertempat di Auditorium PP. Sunan Drajat yang diikuti oleh semua Siswa kelas 12 yang berjumlah 493 Siswa, kegiatan PKPNU ini rencanannya akan dibuat agenda tahunan sebagai syarat pengambilan Ijasah, selain itu agar anak-anak tetap memegang dasar-dasar Aswaja, dan seorang siswa madrasah terutama pesantren dalam jiwanya harus menancap jiwa NU, dan yang paling penting bagi siapa saja yang mondok dipesantren sunan drajat Wajib NU,  Tegas bapak Kepala Madrasah yang diwakili Oleh Gus Ahmad Zubaidi, M.Si, selaku waka kurikulum dan juga keponakan dari KH. Abdul Ghofur.

Dalam acara ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh-tokoh MWCNU Paciran, PWNU Jatim Karena bertepatan juga dengan adgenda Penutupan Harlah NU Kecamatan Paciran, dalam sambutan pengarahannya Prof. Dr KH. Abdul Ghofur banyak sekali memberikan mutiara-mutiara hikmah daripada ajaran ASWAJA. Juga banyak hal yang selalu disampaikan beliau bawasannya Pondok satu-satunya Diindonesia yang asli peninggalan walo songo adalah PP. Sunan Drajat yang berpedoman dengan Faham Aswaja, maka dari itu siapa saja dipersilahkan ngangsu kaweruh di PP. Sunan Drajat wajib menjadi kader-kader NU, Wajib menjadi anggota IPNU/IPPNU, Wajib mengikuti semua apa yang diajarkan oleh Akidah-Akidah nahdliyah, tidak pandang anak siapa, entah Muhammadiyah, LDII, dll. Beliaunya juga menggatakan sudah saatnya pesantren ini membuat negoro Pondok, karena pesantren punya kekuatan itu, dimulai dari pejabat Desa sampai presiden RI kalau bisa harus dari lulusan pesantren apalagi itu adalah kader-kader miloitan NU tambah Luar biasa.

KH. Marzuki Mustamar dalam ceramahnya menggambarkan bagaimana perbedaan pendidikan pesantren dan Umum, karena santri itu adalah bagian daripada NKRI, Sebelum adanya NKRI sudah ada Kiai dan Santri. Untuk menjawab dari gejolak yang ada hari ini solusi pendidikan yang sangat tepat adalah Pesantren, maka jangan perna minder menjadi santri, karena sekarang banyak santri yang selain pandai mengaji, menghafal nadhom shofiyah, Alfiyah dan Al –Qur’an, sudah banyak santri yang menjadi generasi-genersi untuk memimpin negeri, karena nengri sekarang ini mengalami kebobrokan  moral, maka ketika yang ada pencalonan pemimpin Negeri yang harus dipilih adalah yang bisa ngaji, bisa menjadi imam, syukur-syukur memenuhi kriteria Sidiq, Tabliq, Amanah dan fatonah maka semakin sempurna.

Tidak hanya itu beliau juga mentauhidi apa yang disampaikan oleh Yai Abdul Ghofur, bawasannya Pesantren lah yang menelurkan kader-kader NU Militan yang mengerti Organisasi, Pergerakan dan jelas mengamalkan amaliyah-amaliyan Nahdhotul Ulama’, NU juga mengajarkan bagaima Khidmah, taqdim kepada kiyai, Kiyai mendoakan Santri, santri memfatihai kiyai, itu kalau di sekolah umum tidak ada, bahkan kepala sekolahnya meninggal dunia takziyahpun  tidak apalagi membacakan fatihah, itulah perbedaan dari sekolah Umum dan pesantren, maka bagi orang-orang yang mengikuti gerbong NU wajib menitipkan anaknya dipesantren agar tidak keluar dari faham NU.

Dalam materi kepesantrenan yang disampaikan oleh Gus Dr. Syahrul Munir, beliau juga pengurus NU Center Lamongan Juga Pengurus Lesbumi PBNU serta masih kelaurga Ndalem PP. Sunan Drajat, menyampaikan banyak sekali tentang manfaat dan hikmah menjadi kader-kader NU, beliau menceritakan bahwa pertama kali yang mengajar materi ke-NU-an di MA Ma’arif 7 sunan drajat ini dalah  beliau Sendiri Prof Dr. KH. Abdul Ghofur dengan menggunakan kitab yang dikarang oleh KH. Sirojuddin Abbas 40 Masalah Agama Jilid I-IV , I’tiqod Ahlussunah Waljama’ah tebal 422h, Hujjah Aswaja ini kitab yang diajarkan Yai Ghofur dalam mendoktrin santri-santri agar tidak lemah tentang memahami islam, terutama faham keNUan, dan metode pengajarannya menggunakan bermacam-macam seperti, Roll Learning, Setoran, CTL dan lain-lain, metode ini sudah dipakai oleh Yai Ghofur sehingga santri pada waktu itu tidak jenuh.

Selain dari pada itu bawasannya PP. Sunan Drajat juga sudah jelas dalam sanadnya, dalam ajaran fiqih jelas mengikuti syafiiyah, dalam kontek tasawuf mengikuti ulama’ fenomenal Imam Al Ghozali pengarang kitab Ihya’ Ulumuddin, Di PP. Sunan drajat diajarkan dan diasuh oleh beliaunya sendiri, dengan harapan agar para kader-kader NU ini menjadi kuat, tangguh dalam menjalani hiruk pikuknya masyarakat, sehingga harus benar-benar tertanam jiwa ASWAJA. Karena Kader NU itu tidak hanya untuk diri sendiri, keluarga tapai kader NU itu milik bangsa.

Dalam acara PKPNU ini juga dihadiri oleh Kader Muda NU Mas Billy Aries, beliau juga memberikan sedikit ulasan tentang Kader NU, Karena beliau juga alumnus PP. Sunan Drajat tahun 90an, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh santri, yang pertama : Sebelum adanya NKRI sudah ada Kiyai dan Santri bahkan beliau KH, Hasyim Asy’ary menulis sebuah buku “Al’alamah Muhammad Hasyim As’ary Wadhi’ulabinati Istihlali Indonesia, Kedua : Santri adalah pejuang pendiri NKRI membebaskan dari penjajahan, Pejuang Kemerdekaan ketiga : tidak ada santri dan kiyai yang menolak NKRI, apalagi mau membuat khilafah

Maka dari situ kelompok yang paling mulia adalah santri, santri punya potensi hidup lebih baik, dengan syarat harus menjadi santri yang selalu sambung dengan kiyai taqdhim hormat kepada kiyai, harus rajin belajar dengan menguasai pelajaran zaman sekarang, selain ilmu Salafi, bahasa Arab Santri diwajibkan pandai Bahasa inggris juga Ilmu-Ilmu yang lain untuk menjawab tantangan zaman, karena sekarang bnayak beasiswa negri maupun luar negeri diperuntukkan bagi para santri, sesuai dasar kaidah usuliyah Malayatimul Wajib Illabihi Wahua Wajib” karena kedepan dunia semakin modern atau disebut dengan dunia milenial yang semua menggunakan IT, maka santri harus menjadi bagian dari pada perkembangan zaman, solusi yang paling tepat adalah Pesantren, Apalagi Pesantren yang NU, NU yang Pesantren, karena Santri NU Selain faham Masalah Agama juga punya jiwa Nasionalis yang sangat kuat, maka banggalah menjadi Santri Sunan Drajat, terutama siswa-siswi Madrasah Aliyah Ma’arif 7 Sunan Drajat.

Dalam rangkaian acara puncak baiat peserta PKPNU madrasah aliyah ma’arif 7 sunan drajat juga dihadiri oleh pengurus MWC Paciran, dalam malam pembaiatan ini dipimpin leh pengasuh PP. Sunan Drajat DR. KH. Abdul Ghofur didampingi oleh kepala madrasah dan segenap bapak ibu guru, acara berjalan dengan sangat khidmah, tertib dan lancar. dalam prosesi iKrar janji baiat yang di baiat langsung oleh Yai Ghofur para santri peserta bersama-sama mengucapkan janji setia selalu membela NU dan NKRI, serta diiringi suara tangis para peserta karena tak bisa membendung rasa haru, khusu’bahkan tak bisa mengutarakan bagaimana rasa yang dialami pada saat malam pembaiatan.

Dalam sambutan pengarahannya KH Abdul Ghofur sangat mengharap kepada para santri agar menjadi santri yang selalu menjunjung tinggi rasa Nasionalis peduli kepada sesama serta berjuang untuk NU serta menaruhkan Jiwa raganya demi keutukan NKRI jangan sampai memecah belah NKRI selalu berkhidmah untuk NU, hormat taqdim kepada para masyayeh dan kiyai-kiyai, Santri harus ada dibarisan paling depan untuk menjaga NKRI.Acara diahiri dengan bacaan do’a serta bacaan burda dan lagu Hubbul Wathon serta yel-yel kebanggaan NU.

SIAPA KITA... NU,  NKRI..... HARGA MATI,  PANCASILA ..... JAYA

NUSANTARA.... MILIK KITA

Semoga bermanfaat.

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)