Opini

MAKNA PENGEMIS HALAL MENURUT KIAI

Admin MSN | Jumat, 16 Februari 2018 - 16:37:11 WIB | dibaca: 410 pembaca

Manifestasi pengemis di zaman modernisasi ini telah mengalami pergeseran makna. Hakikatnya pengemis adalah orang yang benar-benar tidak mampu kemudian turun ke jalan bermodal kaleng berkarat dan baju compang-camping meminta belas kasih (uang receh) kepada setiap orang yang melintasi jalan tersebut. Namun sekarang pengemis tidak melulu berbicara mengenai orang yang berbaju compang-camping saja, tetapi orang yang bersarung atau berbaju rapi hingga berdasi sekalipun dengan membawa proposal  di tangan kanannya, bisa juga disebut sebagai pengemis.

Tidak berbicara pada perbedaan visualnya, namun posisi dan maksud serta tujuanlah yang menjadikan kedua macam orang ini disebut pengemis. Posisinya sebagai peminta atau pengharap belas kasih dan bantuan, dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi suatu kebutuhan karena ketidakmampuannya dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Dewasa ini banyak terbilang mengemis merupakan sebuah profesi yang menjanjikan. Menurut Abidin Hanif selaku pegawai bagian fundraising BMT Hidayatullah mengatakan, “banyak pengemis yang sebenarnya kaya. Itu terbukti dengan adanya berita televisi yang menyiarkan bahwa para pengemis mempunyai penghasilan ratusan ribu setiap harinya. Sehingga banyak lembaga sosial yang tertipu dengan penampilan pengemis dan gelandangan yang ditemui.” Pernyataan tersebut menyatakan bahwasannya banyak sekali pengemis yang memiliki rumah lantai dua, bahkan memiliki sebuah mobil.

Bagaimana kemudian hukum membenarkan fenomena tersebut? Berdasarkan hadits riwayat muslim dalam kitab Bulughul Marom pada halaman 188, yang berbunyi:
 
Dari Qobishoh Ibnu Mukhoriq al-Hilaly ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah seorang di antara tiga macam, yakni orang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian ia berhenti; orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup; dan orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga tiga orang dari kaumnya yang mengetahuinya menyatakan: “Si fulan ditimpa kesengsaraan hidup.” ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain tiga hal itu, wahai Qobishoh, adalah haram dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” Riwayat Muslim
Dalam hadits ini diterangkan bahwa ada tiga orang yang dibolehkan untuk mengemis. Pertama ialah orang yang memiliki tanggungan orang yang menunaikan ibadah di Jalan Allah Swt hingga lunas tanggungan tersebut kemudian berhenti mengemis, kedua ialah orang yang terkena musibah dan musibah tersebut menimpah hartanya, maka boleh mengemis hingga memperoleh kecukupan untuk kehidupannya, dan ketiga ialah orang yang tertimpa kemelaratan hingga tiga orang berakal sehat dari kaumnya berkata “benar-benar telah menimpah pada orang ini sebuah kemelaratan”, tiga orang ini yang sekarang disebut sebagai ketua RT (rukun tetangga), RW (rukun warga), dan Kepala desa/ kelurahan.

Namun selain tiga orang yang diperbolehkan untuk mengemis menurut  pembahasan hadits ini, KH. Marzuki Mustamar melalui guyonan khasnya juga menambahkan satu golongan lagi yang diperbolehkan mengemis, yakni seseorang yang telah menyelesaikan program studi pasca sarjana S2 akan tetapi belum mampu mendapatkan calon istri, maka diperbolehkan baginya untuk mengemis, yaitu “mengemis cinta”. Begitulah candaan Abah Yai Marzuki Mustamar, begitu sapaan akrab santri ketika ngaji wetonan ba’da subuh di Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek-Malang. Wallohu a’lam
 
Oleh: Mas Keceng 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)