Artikel

Manusia Bisa Apa? Menolong diri sendiri saja tak mampu

Admin MSN | Minggu, 07 Juli 2019 - 16:06:31 WIB | dibaca: 111 pembaca

Hawa nafsu manusia selalu melalaikan keberadaannya sebagai seorang hamba, dan minimnya keinginan untuk mengenal dirinya sendiri sebagai seorang hamba yang harus tunduk kepada Allah SWT. Keadaan bathiniyyah masing-masing pribadi sangatlah perlu untuk terus diperhatikan. Banyak penyakit hati yang harus dibersihkan, karena hati ibarat cermin.

Berangkat dari kesadaran diri mengenai kelemahan manusia yang tak bisa menolong dirinya dari godaan hawa nafsu. Tanpa adanya pertolongan dari Allah SWT manusia sebenarnya tak bisa apa-apa. Berkat pertolongan Allah yang maha pengasih dan penyayang manusia dapat melakukan apapun semaunya.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 28 bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam keadaan lemah. Secara fisik tubuh manusia juga sangat lemah, rentan akan penyakit. Ketidakberdayaannya menjadi sasaran empuk kedengkian dan permusuhan sesasamanya. Kemuliaan yang diberikan kepada manusia menjadikannya makhluk istimewa lewat penjagaan tentara malaikat-malaikat. Allah juga membuat aturan-aturan hukum mengatur seluruh kehidupan manusia.

Berdasar kenyataan itu yang dapat kita pahami, harusnya manusia selalu bersyukur kepada Tuhannya. Bagaimana manusia harus bersyukur atas karunia nikmat yang telah diberikan? bersyukur dengan beribadah. Karena manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepadanya.

Ibadah merupakan sarana bersyukur, diawali dengan niat karena Allah. Selain itu dapat dilakukan dalam hal apapun, dimanapun dan kapanpun. Seperti yang disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 190-191. Artinya, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal (ulil albaab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berakata, 'Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
 
Perintah-perintah Allah yang telah disampaikan dan dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW dan sekarang dilanjutkan oleh para ulama/kiai sebagai pewaris ilmu yang harus disampaikan kepada manusia. Semua akan bernilai ibadah jika didasari niat karena Allah telah menetap di hati.

Selain itu esensi ibadah yaitu tawaduk  kepada Allah SWT. Selalu berusaha sujud, tunduk dan merendahkan diri di hadapannya. Merendahkan diri di hadapan Allah SWT tak akan pernah hina di hadapan manusia. Ke-aku-an manusia ketika masih ada, walaupun tawaduk dhohirnya sujud kepalanya di atas sajadah, namun hatinya masih belum bisa sujud dan tunduk di hadapan Allah SWT bisa jadi merupakan sifat sombong yang ada.

Jauhilah sifat sombong. Karena sesungguhnya seorang hamba senantiasa berlaku sombong sampai Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya: “Tulislah hamba-Ku ini dalam golongan orang-orang yang sombong”

Tak patut sebagai manusia yang dimuliakan oleh yang maha mulia, berlagak sombong, merasa sok kuat. Apalagi ketika memiliki jabatan, pangkat yang tinggi di lingkungan kerja atau masyarakat. Harusnya sikap tawaduk, rendah hatilah yang disuguhkan kepada sesama manusia. Terlebih di hadapan Allah SWT tunduk dan merasa tak berdaya atas segala daya upaya. Karena yang kita cari di dunia dan akhirat ini merupakan keridaan Allah SWT.

Tawaduk yang sebenarnya dan tidak dibuat-buat karena ada tendensi berdasarkan hawa nafsu. Seperti yang diterangkan di kitab al-Hikam. “Orang yang menampakkan ketawadukan melebihi apa yang sebenarnya ada dalam hatinya, itu adalah bentuk kesombongan”.

Maka cermin atau hati yang dititipkan oleh pencipta harus diperhatikan, dirawat dan dibersihkan, sehingga yang muncul bukan tawaduk yang semu namun tawaduk yang murni dari hati nurani. (aghw)

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)