Opini

Melihat kembali potensi dan Tantangan Dakwah Santun di Media Sosial

Admin MSN | Rabu, 10 Juli 2019 - 14:29:23 WIB | dibaca: 58 pembaca

https://id.pinterest.com/pin/518406607102059753/

    Hari ini internet merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Pengguna Jaringan Internet Indonesia) yang berakhir pada 14 April 2019 menyebutkan bahwa 64,8 persen atau sekitar 171,17 juta masyarakat Indonesia telah terhubung dengan internet termasuk juga di dalamnya yaitu media sosial.

    Saat ini media sosial berkembang sangat pesat di Indonesia, kurang lebih 46 persen atau 150 juta masyarakat Indonesia telah menggunakan media sosial, kemudahan dalam berkomunikasi dan berbagi informasi bisa jadi merupakan salahsatu alasan mengapa perkembangan media sosial sangat pesat, terlebih lagi banyaknya media sosial yang bisa diakses seperti Whatsaap, Instagram, Telegram, Trwiter, Facebook, dan masih banyak lagi hadir dengan keunggulannya masing-masing. Persaingan untuk menjadi media sosial yang unggul dan menarik banyak pengguna terus menjadikan media sosial semakin lengkap dan menarik.
    Derasnya arus media sosial menimbulkan daya tarik untuk memanfaatkan media sosial dalam berbagai kepentingan. Berbagai pihak telah memanfaatkan media sosial dengan baik mulai dari marketing sampai menjadi pusat informasi, lalu bagaimana dengan pemanfaatan media sosial dalam dakwah? Atau jika lebih dikerucutkan lagi bagaimana dengan pemanfaatan media sosial dalam berdakwah dengan santun? Perkembangan media sosial ini memang telah disadari oleh berbagai lembaga dan kalangan nahdliyyin yang selama ini tetap kokoh dalam menjaga tradisi dakwah santun. Hal ini dibuktikan dengan mulai berkembangnya berbagai media sosial yang dimiliki oleh pondok pesantren dan berbagai banom NU, bahkan PBNU sendiri sudah lama mempunyai website bernama NU.or.id. Ini merupakan respon yang baik dan menunjukan sebuah kepekaan dalam memanfaatkan potensi media sosial sebagai media dakwah. Besarnya potensi dakwah ini tidak boleh dipandang sebelah mata mengingat setiap tahun pengguna media sosial terus meningkat secara tajam, meskipun kesadaran dalam memanfaatkan media sosial sebagai media dakwah santun telah muncul tetap harus ada upaya yang serius untuk mendukung setiap gerakan yang ada,  mengingat tantangan yang ada juga tak kalah besar dengan potensinya.
    Tantangan dalam menjaga tradisi dakwah santun di media sosial juga tak kalah besar dengan potensi yang ada. Berbagai tantangan yang harus dihadapi diantaranya yaitu radikalisme, intoleran, dan hoax yang sangat banyak ditemukan di media sosial. Dilansir dari situs resminya dalam sepuluh tahun terakhir sampai dengan Maret 2019 KOMINFO (Kementerian Informasi dan Informatika) telah melakukan pemblokiran terhadap 11 ribu konten yang bermuatan radikalisme dan terorisme, sumber lain menyebutkan bahwa di tahun 2019 sekitar 1.600 konten radikalisme telah ditutup. Begitu juga dengan hoax yang beredar di media sosial juga sangat memperihatinkan, setiap saat jumlah hoax tidak semakin turun bahkan semakin meningkat, dan diantara banyaknya hoax yang beredar hoax yang berkaitan dengan agama turut mewarnai media sosial. Semakin hari berbagai akun dan konten negatif terus muncul dan beredar dengan cepat, pemerintah pun sudah turun tangan dalam mengatasi berbagai dampak negatif media sosial ini.
    Besarnya potensi dalam menyebarkan dakwah santun di media sosial harus dimanfaatkan dengan baik sehingga kesempatan ini tidak terbuang sia-sia, terkait dengan tantangan yang terdapat di dalamnya harus disadari bahwa manfaat hampir selalu sebanding dengan mudaratnya. Tantangan itu harus disikapi sebagai dorongan untuk semakin kuat dalam berdakwah secara santun di media sosial.
Penulis : Faiz Nur Musyafa’










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)