Opini

Membumikan Kembali Pendidikan Islam Toleran, Inklusif dan Multikultur dalam Bingkai Wajah Indonesia

Admin MSN | Kamis, 19 April 2018 - 09:57:24 WIB | dibaca: 125 pembaca

https://jalandamai.org/toleransi-dalam-beragama.html

Oleh : Ahmad Faisol

 

Toleransi menjadi suatu hal yang terus menarik untuk didiskusikan dan dibahas. Karena belakangan ini, kita tau bahwa agama menjadi sebuah nama yang terkesan membuat gentar, menakutkan, dan mencemaskan. Agama di tangan para pemeluknya sering tampil dengan wajah kekerasan, apalagi dalam beberapa tahun terakhir banyak muncul konflik, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama yang setiap hari kita lihat dalam berita-berita di layar Televisi. Islam dihadapkan pada banyak kritikan, yang dipublikasikan oleh orang-orang yang tidak senang dengan Islam. Sehingga realitas kehidupan beragama yang muncul adalah saling curiga-mencurigai, saling tidak percaya, dan hidup dalam ketidak harmonisan.

Sebelum masuk lebih dalam pada pembahasan ini, perlu kita ingat kembali bahwa kita tinggal di sebuah negara yang sangatlah besar yakni Indonesia. Jumlah penduduk menurut badan statistik tahun 2017 sekitar 250 juta lebih jiwa, jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar ke-empat setelah Tiongkok, India, dan Amerika. Ada  17.000 lebih pulau yang membentang dari sabang sampai merauke, dengan 600 an lebih bahasa daerah dan 1.300 lebih suku berkumpul dan hidup berdampingan. Begitu juga dengan Agama, dalam penjelasan pasal 1, UU No.1/PNPS/ tahun 1965, ada enam Agama yang diakui di Indonesia yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu.

Data di atas, menunjukkan bahwa kita memang kaya akan keberagaman. Kekayaan inilah yang kemudian disatukan dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu jua). Yang termanifestasikan dalam Pancasila dan UUD 45 sebagai landasan filosofis berbangsa dan bernegara. Ini artinya, Indonesia dari mulai awal kemerdekaannya, para founding father kita sudah mempunyai gagasan besar untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar dalam bingkai persatuan dan kesatuan. Jika kita mau membaca kembali tentang bagaimana bijaknya para founding father menetapkan Pancasila sebagai dasar negara tanpa menonjolkan atau bahkan mengkebiri kelompok tertentu.

Dalam pelajaran sejarah SD dulu, guru sejarah kita kemudian berkisah bagaimana negara ini dijajah dalam waktu yang sangat panjang. Akhirnya pada 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Moh Hatta membacakan teks proklamasi yang menjadi tanda bahwa kita telah merdeka. Tetapi yang jarang kita ketahui adalah sepenggal kisah tentang eksistensi Pancasila yang pada 22 Juni 1945 oleh BPUPKI kemudian disahkan dan ditandatangani, dengan sebutan “Piagam Jakarta”. Terdapat satu sila yang kemudian muncul menjadi sebuah polemik karena dianggap terlalu sensitif, yakni sila pertama “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Muncul reaksi dari timur yang non Muslim agar tujuh kata tersebut dihapus, kalau tidak akan timbul ancaman bahwa wilayah timur akan memisahkan diri dari Indonesia. Mereka menganggap sila ini memprioritaskan Islam dan mengkebiri agama lain. Ujian melalui polemik ini muncul bahkan sehari setelah Indonesia merdeka. Disinilah kemudian terlihat sikap toleran dan merangkul yang ditunjukkan oleh Wahid Hasyim, Ki Bagoes Hadikusuma, Kasman Singodimejo, Muhammad Hatta, dan Teokoe Mohammad Hasan, dan lain-lain yang sepakat bahwa tujuh kata tersebut dihapus dan diganti dengan “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Sikap toleran dan siap hidup dalam keberagaman inilah yang perlu kita jaga, kita rawat dan kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi yang dalam KBBI, bermakna kelapang dadaan (menghargai, membiarkan, membolehkan) terhadap pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dll) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya. Dalam bahasa inggris dimaknai dari tolerance’ yang berarti sabar dan kelapangan dada, adapun kata kerja transitifnya adalah ‘tolerate’ yang berarti sabar menghadapi atau melihat dan tahan terhadap sesuatu, sementara kata sifatnya adalah ‘tolerant’ yang berarti bersikap toleran, sabar terhadap sesuatu. Sedangkan dalam bahasa arab istilah yang lazim dipergunakan sebagai padanan kata dari toleransi adalah samâhah atau tasâmuh, yang dalam kitab lisan al-arab dimaknai al-jûd (kemuliaan/ kebaikan), begitu juga dalam kamus Munawwir di maknai sa’at al-sadr (lapang dada) dan tasâhul (ramah, suka memaafkan).  Ibnu hajar Al-Asqalani dalam kitab Fath al-Barri juga memberikan makna toleransi ini dengan kata as-sahlah yang artinya mudah. Sikap menerima dan menghormati inilah yang menjadikan berbangsa dan bernegara menjadi rukun, yang kemudian oleh UUD 45 No 8/9 tahun 2006 pasal I, didefinisikan  sebagai keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi sikap toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Cita-cita kerukunan inilah yang kemudian perlu untuk diinternalisasikan dalam komponen-komponen pendidikan di Indonesia. Karena sampai saat ini pendidikan masih dipandang sebagai sarana ampuh untuk memperbaiki peradapan, khususnya pendidikan Islam. Mengembangkan sikap toleransi pada peserta didik di era sekarang ini, memang harus segera dilakukan dan diperkuat kembali dengan menampilkan ajaran-ajaran Islam yang toleran melalui kurikulum pendidikanya. Dengan tujuan agar peserta didik menjadi faham dan mampu hidup dalam bingkai perbedaan agama maupun kebudayaan, baik individual maupun kolompok serta tidak terjebak pada isu primordialisme dan ekslusifisme kelompok agama dan budaya yang sempit. Karena memang pada dasarnya manusia diciptakan dalam perbedaan agar saling mengenal satu sama yang lain (QS. Al Hujurat: 13) sebagai sebuah sunnatullah, karena jika Allah tidak menghendaki perbedaan, tentu kita semua (makhluk-Nya) tercipta dalam bentuk dan wujud yang sama (QS. Yunus : 99).  

Kegagalan pendidikan Islam dalam persoalan SARA erat kaitanya dengan pengajaran agama yang dilaksanakan secara ekslusif yakni agama diajarkan dengan cara menafikan hak agama lain, seakan hanya agamanya sendiri yang benar dan mempunyai hak hidup, sementara agama lain salah, tersesat dan terancam hak hidupnya. Tentu prinsip ajaran Agama Islam adalah ajaran yang paling benar harus dipegang oleh setiap Muslim, sebagaimana agama lain juga menganggap bahwa ajaran agamanyalah yang paling benar. Tetapi Gus Dur (presiden ke-empat sekaligus tokoh pluralis) mengajarkan bahwa hidup beragama di Indonesia itu layaknya sebuah rumah yang di dalamnya terdapat kamar-kamar dimana setiap kamar punya satu TV, ada kamar Islam, kamar kristen, Hindu dan sebagainya. Kita bebas “menonton TV” masing-masing di kamar tersebut, dalam arti melaksanakan apa yang kita yakini (beribadah). Tetapi jika seluruh penghuni kamar berkumpul diruang tamu, maka hanya ada satu TV yang dilihat. yakni toleransi, saling menghargai, hidup rukun dalam bingkai NKRI. Maka kita tidak boleh saling menyalahkan dengan menganggap diri kita yang paling benar atau paling suci, sebagaimana Firman Allah swt dalam (QS.An-Najm: 32). Dalam aqidah kita masing-masing “lakum dinukum waliyaddin” (QS.Al-Kafirun: 1-6) tetapi dalam sosial dan bernegara kita memiliki satu pandangan yang sama.

Maka, agar dapat keluar dari isu-isu premordial tersebut kita harus membumikan kembali wajah pendidikan agama Islam yang inklusif, humanis dan pluralis dalam bingkai multikultural. Yakni saling menghormati, saling mengakui eksistensi, berfikir dan bersikap positif, serta saling memperkaya iman. Pendidikan Inklusif-multikultural merupakan suatu konsep yang menyatakan bahwa seluruh peserta didik tanpa memperhatikan dari kelompok mana mereka berasal, seperti gender, etnis, ras, budaya, kelas sosial, agama, dan lain-lain diharapkan dapat memperoleh pengalaman pendidikan yang sama. Kehadiran pendidikan inklusif-multikultural dalam pendidikan Islam penting adanya, sehingga semangat dan nilai-nilai “Piagam Madinah” yang dulu dicetuskan oleh Rasulullah saw, kembali mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang saat ini seakan-akan terpecah-pecah hanya karena isu-isu politik dan kekuasaan semata.

  

Menurut Syamsul Ma’arif, dalam sebuah jurnal yang berjudul Islam Dan Pendidikan Pluralisme disebutkan, beberapa hal yang perlu direalisasikan untuk mendesain kurikulum pendidikan Islam berwajah inklusif-multikultural agar menjadi relevan dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat Indonesia yang majemuk dan heterogen, yakni; Pertama, mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku seragam seperti saat ini kepada filosofi yang lebih sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap jenjang pendidikan dan unit pendidikan. dari filosofi konservatif seperti esensialisme dan perenialisme yang tekstualis dan pasif menjadi filosofi yang mampu mengembangkan kemampuan kemanusiaan peserta didik baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, bangsa, dan dunia. Melalui filosofi kurikulum yang progresif seperti humanisme, progresifisme, dan rekontruksi sosial. Kedua, teori kurikulum tentang konten (curriculum content) yang mengartikan konten sebagai aspek substantif yang berisikan fakta, teori, generalisasi menuju pengertian konten yang mencakup pula nilai, moral, prosedur, dan ketrampilan yang harus dimiliki peserta didik.  Ketiga, teori belajar yang digunakan dalam kurikulum harus memperhatikan keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan politik, tidak hanya mendasarkan diri pada teori psikologi belajar yang bersifat individualistik dan menempatkan siswa dalam suatu kondisi value free, tetapi harus pula didasarkan pada teori belajar yang menempatkan siswa sebagai makhluk sosial, budaya, politik, dan hidup sebagai anggota aktif masyarakat, bangsa, dan dunia. Keempat, proses belajar yang dikembangkan untuk siswa haruslah pula berdasarkan proses yang memiliki tingkat kesamaan dengan “kenyataan sosial”. Artinya, proses belajar yang mengandalkan siswa belajar individualistis harus ditinggalkan dan diganti dengan cara belajar berkelompok dan bersaing dalam suatu situasi positif. Kelima, evaluasi yang digunakan haruslah meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan kepribadian peserta didik, sesuai dengan tujuan dan konten yang dikembangkan. Alat evaluasi haruslah beragam sesuai dengan sifat tujuan dan informasi yang ingin dikumpulkan.

 

Kemudian dalam rangka membangun toleransi keberagamaan dalam bingkai inklusif-multikultur di sekolah, ada beberapa materi pendidikan agama Islam yang dalam Modul Pengembangan Pendidikan Islam dari Kementrian Agama RI tahun 2010, disebutkan bahwa secara umum Materi PAI dapat di kelompokkan kedalam, Al-Qur’an, Fiqih, akhlak, dan SKI. Maka guru dalam mengembangkan konsep pendidikan toleran yang inklusif-multikultural, sebagai berikut:

a.    Materi al-Qur’an, selain menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat tentang keimanan, perlu juga ditambah dengan ayat-ayat yang dapat memberikan pemahaman dan penanaman sikap bagaimana ia berinteraksi dengan orang yang berlainan agama, sehingga sedini mungkin sudah tertanam sikap toleran, inklusif pada peserta didik, seperti: (1) Materi tentang perbedaan adalah sunnatullah (QS. Al Hujurat: 13), (QS. Yunus: 99), (2) Materi tentang tidak ada paksaan dalam beragama (QS. Al-Baqarah : 256), (3) Materi yang berhubungan dengan pengakuan al-Qur’an akan adanya pluralitas dan berlomba dalam kebaikan (Q.S. Al-Baqarah: 148), (4) Materi yang berhubungan dengan hidup damai dalam hubungan antar umat beragama (Q.S. al-Mumtahanah: 8-9), (5) Materi yang berhubungan dengan keadilan dan persamaan (Q.S. an-Nisa’: 135) dan lain sebagainya.

b.    Materi fiqih, yang tidak harus bersifat linier, namun menggunakan pendekatan muqaron (perbandingan). Ini menjadi penting, karena anak tidak hanya dibekali pengetahuan atau pemahaman tentang ketentuan hukum dalam fiqih atau makna ayat yang tunggal, namun juga diberikan pandangan yang berbeda. Tentunya, bukan sekedar mengetahui yang berbeda, namun juga diberikan pengetahuan tentang mengapa bisa berbeda sehingga muncul sikap saling menghormati perbedaan tersebut.

c.    Materi akhlak yang memfokuskan kajiannya pada perilaku baik-buruk terhadap Allah, Rasul, sesama manusia, diri sendiri, serta lingkungan. akhlak ini penting dalam setiap aspek kehidupan dengan mengajarkan bagaimana berakhlak yang baik dalam perbedaan, khususnya berinteraksi dengan kawan non Muslim.  

d.    Materi SKI, materi yang bersumber pada fakta dan realitas historis dapat dicontohkan praktik-praktik interaksi sosial yang diterapkan Nabi Muhammad ketika membangun masyarakat Madinah dengan menjunjung pengakuan dan penghargaan nilai pluralitas dan toleransi. Dan kisah-kisah lain dalam sejarah panjang peradapan Islam, hingga sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang toleran menghargai segala macam perbedaan. 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)