Pesantren

Menemukan Mahabbah di Bulan Sya’ban

Admin MSN | Kamis, 03 Mei 2018 - 21:08:13 WIB | dibaca: 164 pembaca

Oleh : Moh Yajid Fauzi

Salah satu malam yang paling utama pada bulan Sya’ban adalah malam Nisfu Sya’ban. Malam Nisfu Sya’ban adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh umat islam di dunia. Suatu malam di bulan Sya’ban yang penuh dengan ampunan. Banyak umat islam yang berbondong-bondong untuk meminta maaf kepada sesama manusia dan berdoa memohon ampun kepada Allah Swt. Perlu direnungkan bersama apakah benar dosa-dosa kita selama satu tahun yang lalu dan satu tahun kedepan akan diampuni? Apa yang akan dilakukan setelah malam Nisfu Sya’ban selesai ?

Masalah dosa dan diterima tidaknya taubat kita itu biarlah menjadi urusan manusia dengan Sang Pencipta dan yang menjadi fokus kita adalah setelah malam Nisfu Sya’ban apa yang akan kita lakukan?. Sering kali kita lalai atau bahkan tidak memikirkan harus bagaimana kita setelah malam Nisfu Sya’ban. Kita sering menjalani hari setelah malam Nisfu Sya’ban ini masih dengan banyak kebatilan. Maka dari itu hendaklah kita bertasawuf di malam Nisfu Sya’ban dengan menemukan mahabbah-Nya. Lantas mahabbah yang seperti apakah yang akan kita temukan ? Sebelum menuju pembahasan mahabbah maka kita awali dengan mengetahui maqamat atau stasiun-stasiun yang harus kita lalui, yaitu :

1. Taubat. Dalam ajaran tasawuf, taubat menduduki maqam yang pertama, karena dosa itu dinding antara manusia dan Tuhannya. Orang yang mencari keridhaan Allah dan menurut bimbingannya harus taubat terlebih dahulu.

2. Zuhud. Banyak pendapat yang berbeda dalam mengartikan zuhud, akan tetapi pada intinya zuhud diartikan sebagai tanggapan menjaga diri terhadap kemewahan dunia yang cenderung mengganggu manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt.

3. Sabar. Menurut al-Qusyairi, sabar ada dua macam : (1) Sabar terhadap apa yang diperoleh si hamba dengan upaya (melalui amal-amalnya) Sabar ini ada dua, yaitu : (a) Sabar dalam menjalankan perintah Allah, (b) sabar dalam menjauhi larangan-Nya. (2) Sabar terhadap apa yang diperolehnya tanpa upaya,yaitu sabar dalam menjalani ketentuan Allah yang menimbulkan kesukaan baginya.

4. Syukur. Syukur adalah amalan pelengkap sabar yang mana sama-sama menunjukkan sikap terhadap anugerah-anugerah Tuhan. Hakikat syukur adalah pengakuan akan anugerah dari Sang Pemberi dengan perasaan penuh terimakasih.

5. Wara’. Wara’ mengandung arti mejauhi hal-hal yang tidak baik dan dalam pengertian sufi adalah meninggalkan segala hal yang subhat  (meragukan).

6.Ridha. Menurut sufi Rabi’ah al-Adawiyah, ridha Allah hanya bisa dicapai dengan melaksanakan perbuatan yang baik yang diridhai Allah. Seseorang juga harus ridha terhadap ketentuan Allah untuk mendapatkan ridhan-Nya.

 

Memasuki pembahasan mengenai Mahabbah. Apa itu Mahabbah? Dan bagaimana cara kita menemukan Mahabbah dalam kehidupan sehari-hari ?.

Mahabah menurut arti bahasa adalah saling cinta mencintai. Pengalaman cinta sesungguhnya tidak hanya merupakan keadaan jiwa atau rohani yang diliputi oleh sejenis perasaan, sepeti kegairahan dan kemabukan mistikal (wajd dan sukr). Dalam pengalaman cinta bersifat transendental, seseorang juga belajar mengenal dan mengetahui lebih mendalam yang dicintai, dan dengan demikian cinta juga mengandung unsur kognitif. Bentuk pengetahuan yang dihasilkan oleh cinta ialah makrifat dan kasyf, tersingkap penglihatan batin.

*Menemukan Mahabbah Sesuai Fitrah Perkawinan. 

Disebut sesuai fitrah jika dan hanya jika sesuai dengan teori pencitpta dan hakikat asal kejadian. Disebut sesuai fitrah jika dan hanya jika yang syariat tetaplah syariat, tak pernah menjadi hakikat, dengan cara bagaimana pun. Sebagaimana sebuah pernikahan, maka serah terima (ijab qobul) adalah syariat yang harus ditempuh, yang menjadi tarekat adalah resepsi pernikahan itu yang penuh puja-puji sesuai kedudukan dan keadaan masing-masing. Padahal hakikat dari perkawinan itu adalah segala apa yang ditutupi oleh kelambu dan yang sejak malam pertama disebut aib, tabu, misteri dan rahasia, yang hanya suami istri yang tahu, dan makrifat dari pernikahan itu adalah mengakrab-diakrabi antara yang mencintai dan dicintai sesuai dengan fitrahnya.

Menurut syariat atau pelaksaan hukum semata mata untuk sejak awal mewujudkan sakinah (ketenangan). Tarekat atau perayaan pernikahan diadakan dengan harapan semakin merangsang mawaddah (gelora cinta). Sejak disahkan sebagai suami sitri, maka telah sampailah kedua mempelai pada hakikat pernikahan, yaitu membangun keluarga yang mengekalkan rahmat atau anugerah kasih sayang. “Supaya engkau cenderung merasa tenteram, dan dijadikan diantara engkau rasa kasih sayang: litaskunuu ilaiha wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmahtan,” seperti termaktub dalam QS Ar Rum: 21, yang dari pernikahan inilah manusia menyadari fitrahnya, inilah Makrifat Cinta.

Fitrah manusia adalah untuk saling mencintai antara laki-laki dan perempuan, memiliki anak, membangun keluarga. Dari fitrah ini, sepasang manusia menjadi perantara dengan Al Fathir, Sang Pencipta, dalam menciptakan manusia “Wa ‘i-laahu khalaqakum-mmin turaabin tsumma min nuthfatin tsumma ja’alakum azwaajan: Dan Allah menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian menjadikan engkau berpasangan” tersurat dalam QS Al Fathir: 11. Dengan jalan kelahiran, manusia hadir di muka bumi, lalu makrifat atau mengenal kehidupan.

Man arafa nasfahu faqad arafa Rabbahu: Siapa mengenal dirinya , maka Ia akan mengenal penciptanya” adalah sebuah petuah yang sungguh benar. Mengenal Sang Pencipta dimulai dari mengenal dari materi apa diri ini diciptakan, yang menurut QS Al-Thariq: 6-7 ‘’khuliqa min-mmaain daafiqin. Yakhruju min-baini’-sulbi wa ‘t-taraa’ibi, diciptakan dari air mani yang dipancarkan. Keluar diantara tulang sulbi laki laki dan tulang dada perempuan.

Mendekatkan diri pada Allah Swt. bukan lagi tindakan mencari surga maupun menghindari neraka, akan tetapi karena cinta. Kebesaran dan keagungan Tuhan  pun bukan lagi ketakutan yang menakutkan, tapi keindahan abadi. Puncak kemuliaan dan kenikmatan bagi batin manusia, tidak lain adalah menjangkau dan mengalami keindahan cinta ilahi.  Ala kulli hal, cinta merupakan kewajiban paling mulia dan landasan keimanan paling kuat. Setiap perbuatan sesungguhnya digerakkan oleh cinta, cinta yang terpuji maupun tercela. Segala perbuatan penuh keimanan digerakkan oleh dan didasarkan atas cinta kepada Allah. (*Tri Efi)

Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Islam Malang semester empat yang aktif di Himpunan Mahasiswa Progam Studi Ahwal Assyakhisiyyah sebagai ketua umum pada periode 2018/2019 dan tergabung dalam Media Santri NU dan Komunitas Gusdurian Malang.

Kepustakaan

Ms, Asfari., & Sukatno, Otto, Mahabbah CINTA Rabi’ah al-Adawiyah,  2017, Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea

Malik, Chandra, Makrifat Cinta, 2017, Jakarta: Kompas










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)