Opini

Mengenal Tuhan Melalui Syair Kasmaran Usman Arrumy

Admin MSN | Kamis, 14 September 2017 - 12:58:22 WIB | dibaca: 1556 pembaca

"Kasmaran" Karya Usman Arrumy

 


Judul : Kasmaran

Penulis : Usman Arrumy

Penerbit : Diva Press

Cetakan : Pertama, 2017

ISBN : 978-602-391-416-6

Peresensi : Ali Adhim (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta & Pegiat Sastra di Pesantren Baitul Kilmah)

Acep Zamzam Noor berkata seperti ini dalam catatan yang ia berikan kepada Usman Arrumy. “Ada dua hal yang akan berdampak positif pada proses kreatif kepenyairan seseorang di masa yang akan datang, keduanya itu adalah aktif menulis dan menerjemahkan puisi-puisi.” Hal itu terbukti dalam puisi-puisi Usman yang sufistik, ia tidak akan pernah menghasilkan puisi yang sufistik tanpa membaca puisi-puisi karya Jalaluddin Rummy, Ibn Arabi, Robi’ah Adawiyah dll. Seorang Usman juga tidak mungkin bisa melahirkan puisi-puisi indah tanpa mempraktekkannya langsung dengan menulis puisi itu sendiri.  

            Mengapa Usman Arrumy bisa mendapat ruang khusus di Indonesia dalam dunia sastra? Saya rasa, ia telah mendapatkan keberkahan dari aktifitas yang ia tekuni dengan tulus. Selain itu, nampaknya ia juga mendapat keberkahan dari tokoh-tokoh besar yang karyanya ia terjemahkan. Sebelum buku Kasmaran ini diterbitkan oleh Diva Press, Usman Arrumy berhasil menerjemahkan puisi-puisi Nizar Qobbani ke dalam bahasa Indonesia dengan Judul “Surat dari Bawah Air”, kemudian Usman juga menerjemahkan puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono ke dalam Bahasa Arab dengan Judul “Hammuka Daimun”.

            Pada tahun 2012 Usman Arrumy berangkat ke Mesir untuk melanjutkan pendidikan di Al-Azhar University, Fakultas Bahasa dan Sastra Arab. Melihat latar belakang pendidikan seperti itu, rasanya tidak heran jika puisi-puisi dalam buku yang bertajuk “Kasmaran” ini memiliki gaya bahasa dan ruh yang berbeda. Sedikit religious bercampur nafas-nafas anak muda zaman sekarang dalam mengekspresikan cintanya. Ketika Usman Arrumy menulis puisinya yang berjudul Manunggaling Kawula Cinta, pada bait pertamanya, ia sudah menunjukkan jati dirinya sebagai penyair yang sufi, juga sebagai pemuda yang sedang gandrung terhadap cinta. “Setiap Kali Kau Tersenyum, Aku Menyaksikan Tuhan ada di Bibirmu.” Di situ ada kata “Kau” “Senyum” “Tuhan” dan “Bibir”. Empat kata yang sangat cukup untuk mewakili manusia dan penciptanya. Usman bisa menghadirkan Tuhan ketika ia sedang jatuh cinta, meskipun saya sendiri tidak cukup tahu, apa yang ada di dalam ruang batin Usman yang sesungguhnya. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh penyair lain di Indonesia, yang melulu berpuisi tentang cinta, tanpa mengingat dan melibatkan pemberi cinta itu sendiri.

            Sebagaimana dikatakan oleh Aguk Irawan MN, seorang penyair yang sama-sama pernah mengenyam pendidikan di Al-Azhar Mesir, puisi yang bagus adalah ketika puisi itu mampu mewakili perasaan orang lain, tidak hanya satu dua manusia, bahkan manakala setiap pembaca sepakat dan setuju dengan puisi yang tertulis, maka puisi itu sebenarnya semakin sah untuk dicemburui. Misalnya dalam buku Kasmaran ini Usman Arrumy berpuisi tentang senyum, ia tidak hanya melibatkan eksistensi Tuhan, ia juga mengajak makhluk-makhluk lain yang ada di sekitarnya untuk hadir dalam puisinya, sehingga puisi yang ia tuliskan bisa semakin hidup. “Senyummu selalu sejuk, apakah saat menciptakan bibirmu tuhan membasuhnya dengan embun pagi? Memandang senyummu selalu mengingatkanku saat menyesap sari tebu.” Gila! Kenapa puisi ini tidak lahir dari kita? Kenapa Usman bisa begitu jeli dan sangat adil dalam memposisikan diri sebagai seorang penyair, makhluk Tuhan, dan makhluk sosial.

Untuk membuktikan pernyataan Aguk Irawan MN di atas, apakah anda merasa setuju dan merasa terwakili oleh puisi pemuda kelahiran Demak yang pernah nyantri di Al-Fadlu, Djagalan, Kaliwungu ini? Saya sendiri sangat terwakili, karena dengan membaca puisi-puisi dalam buku ini saya merasa telah berhadap-hadapan dengan seseorang yang berulangkali membuat saya rindu, tentu rindu itu berasal dari senyumnya yang dalam. Sedalam harapan yang saya simpan untuknya, juga sedalam puisi Usman yang telah berhasil membuat saya berterimakasih, sebab, Usman telah membuat saya menjadi seorang pemberani, meskipun hanya berani bercita-cita untuk membuat puisi yang lebih bagus dari Usman. Tidak berani menyatakan rindu itu secara terang-terangan, maka untuk menyembunyikan rindu itu, saya harus sesegera mungkin belajar membuat puisi.

Puisi-puisi dalam buku yang memiliki ketebalan 144 halaman ini ditulis di Mesir dalam rentang waktu antara 2013-2016, di antaranya pernah terbit di buku Mantra Asmara, beberapa yang lain sudah pernah rilis di surat kabar, dan sisanya dipersiapkan secara khusus oleh Usman untuk buku ini. Usman meyakini bahwa cinta dan puisi memiliki ikatan batin yang sangat purba, dan diam-diam ikatan tersebut bertaut-kelindan dalam diri Usman sendiri. Itulah yang membuat Usman merasa semangat dalam menjalani proses kreatif selama ini.

Sapardi Djoko Damono merasa kesulitan ketika ingin memilih antara Tuhan, Manusia, dan Cinta dalam buku Kasmaran ini. Karena menurut Prof. Sapardi, buku ini tidak semata-mata dihadirkan oleh Usman untuk memetakan antara ketiganya. Justru sebaliknya, apa yang ditulis oleh Usman dalam buku ini sebagai upaya untuk membuktikan kepada kita bahwa ketiganya ada bersama-sama, membentuk sebuah struktur yang hubungan-hubungan di antaranya selalu muncul dalam puisi. Hal itu diakui Usman dalam kata pengantarnya “Cinta dan Puisi menjadi rukun yang konstitusional dalam kehidupan saya, dan dari sini saya merasa berhak untuk beriman bahwa kesetiaan yang saya berikan kepada keduanya telah menjadi bagian yang sah dari tanggung jawab umat manusia.”

Meskipun buku ini terdapat banyak kata “terbuat” yang menjadikan pembaca bosan, saya yakin buku ini mustahil bisa dikhatamkan jika tidak dibarengi dengan keinginan yang kuat untuk menjumpai cinta kita sendiri, yang secara diam-diam berkeliaran di belantara puisi dalam buku ini. Karena ketika buku ini dikhatamkan, hakikatnya cinta, kesedihan, kesepian, nafas, air mata Usman telah menjadi milik kita, kita mempunyai nasib yang sama dengan Usman, tetapi tidak dalam keberhasilannya menuliskan puisi. Maka ketika kita telah menyadari hal itu, bahwa setiap manusia memiliki perasaan dan nasib yang sama. Sesungguhnya cinta belumlah menemui garis finish, cinta akan terus tumbuh dan hidup bebas di alam lain bernama puisi, dan jika kita ingin menulis puisi dengan segala penghayatan, sebenarnya kita telah memperbarui cinta dalam bentuk yang baru, dan akan seterusnya begitu.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)