Opini

Berhasil Merumuskan Mekanisme Kerja Baru, Hingga Dirikan GP Anshor

Mengenang Muktamar NU ke-IX di Banyuwangi

Admin MSN | Minggu, 23 Juli 2017 - 18:15:50 WIB | dibaca: 81 pembaca

Oleh : Ayunk Notonegoro*

      Atap masjid tampak menjulang ditengah perkampungan padat penduduk tersebut. Tampak arsitektur masjid yang masih kuno, meski telah mengalami beberapakali direnovasi. Tak jauh dari masjid tersebut tampak bangunan kuno yang tak terpakai. Masjid dan bangunan kuno yang berada di kelurahan Lateng, Banyuwangi itu dulu merupakan satu komplek pesantren yang ramai akan santri yang menuntut ilmu.

 

“Dulu, rumah masih jarang. Ada lahan kosong di depan masjid yang menghubungkan dengan asrama. Disana biasanya santri melakukan aktivitas,” ungkap Asmuni Adji, salah seorang sesepuh kelurahan Lateng, kepada penulis.

 

     Pesantren tersebut bukanlah tempat sembarangan. Pasalnya, ditempat inilah delapan puluh dua tahun lalu, menjadi saksi sejarah besar Nahdlatul Ulama. Tepatnya tanggal 21-26 April 1934 M, di pesantren tersebut dilaksanakan Muktamar kesembilan Nahdlatul Ulama.

 

     Pemilihan pesantren yang beralamat di Desa Lateng Banyuwangi sebagai tempat pelaksanaan Muktamar NU ke sembilan tersebut, memang tidak terlepas dari sosok tuan rumah, Kiai Saleh Lateng. Beliau merupakan salah satu ulama yang hadir dalam pertemuan ulama se-Jawa Madura di Surabaya pada akhir Januari 1926. Dipertemuan yang membahasa tentang Komite Hijaz dan kemudian dikenal sebagai hari lahirnya Nahdlatul Ulama tersebut, Kiai Saleh terpilih sebagai salah satu anggota muassis mukhtasyar (semacam tim formatur) pembentukan pengurus Nahdlatul Ulama yang pertama.

 

    Tidak hanya itu, kiai kelahiran 7 Maret 1862 tersebut merupakan tokoh yang berpengalaman dalam keorganisasian. Sebelumnya, santri Kiai Kholil Bangkalan tersebut aktif di Sarekat Islam. Dalam masa perintisan NU, Kiai Saleh diamanahi untuk mendirikan NU di ujung timur pulau Jawa tersebut. Bersama sembilan orang tokoh, yakni KH. Manshur Singojoyo,  Abdul Basyar, Muhammad Dasuki, Abdul Jalal, Raden Ibrahim, Muhammad Arif, Guru Hasan, H. Maksum dan Abdul Cholil, tepat 12 Desember 1927, Kiai Saleh Lateng mendirikan PCNU Banyuwangi.

 

    Muktamar kesembilan tersebut memilki torehan penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Menurut Choirul Anam dalam Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, menyebut Muktamar tersebut sebagai tonggak perkembangan NU. Ada beberapa poin penting yang menjadi pertimbangannya.

 

     Dalam forum permusyawaratan tertinggi dikalangan NU tersebut, berhasil dirumuskan mekanisme kerja baru. Persidangan antara Syuriah dan Tanfiziyah tak lagi dalam satu forum. Syuriah sidang dengan pembahasan tersendiri. Begitu pula dengan Tanfidziyah dengan bahasan tersendiri. Sebagaimana pembagian yang dikenal dewasa ini.

 

     Tidak hanya itu, sistem persidangan pun berubah. Sebelumnya sidang cukup duduk di lantai yang dihampari tikar ataupun karpet. Namun, dalam Muktamar di Banyuwangi itu pertama kalinya menggunakan kursi dan menghadap ke meja. Konon, proses sidang-sidang tersebut diletakkan di SD Al-Khoiriyah yang tak jauh dari lokasi Muktamar.

 

      Peranan tokoh-tokoh muda di kalangan NU pun banyak mengambil peran dalam muktamar tersebut. Nama-nama seperti Wahid Hasyim, Machfud Siddiq, Thohir Bakri, Abdullah Ubaid tampil diberbagai forum-forum persidangan. Salah satu hasil dari keterlibatan generasai muda itu, lahirlah Ansoru Nahdlatoel Oelama (ANO).

 

     Keberadaan ANO yang kelak dikenal sebagai GP Ansor tersebut, dalam struktur orgasasi NU berada pada bagian (departemen) pemuda NU. Bukan menjadi badan otonom sebagaimana saat ini. ANO sejajar dengan bagian-bagian lain seperti bagian dakwah, ekonomi, mabarot (sosial), ma’arif (pendidikan) dan bagian-bagian lainnya. 

 

    Selain hal tersebut, dalam sidang-sidang yang membahas masalah-masalah keagamaan (bahtsul masail diniyah), Muktamar kesembilan menghasilkan beberapa keputusan untuk menjawab berbagai persoalan yang update pada masa itu. Seperti masalah sholat Jum’at, pernikahan muallaf , dan pelecehan agama.

     Persoalan yang terakhir merupakan permasalahan yang cukup hangat. Pembahasan soal ini menyangkut dengan maraknya tulisan-tulisan berbagai surat kabar dan majalah yang melecehkan agama Islam. Ditengarai tulisan-tulisan tersebut merupakan pesanan penjajah Hindia-Belanda kala itu. Tulisan tersebut kebanyakan melakukan penghinaan kepada isi al-Quran dan sosok Nabi Muhammad.

 

     Misalnya, artikel yang ditulis oleh Oei Bee Thai dalam majalah Hoa Kiao pada tahun 1932. Dalam tulisannya tersebut, Oei menuduh ajaran pernikahan dalam agama Islam tak lebih hanya upaya Nabi Muhammad untuk menyalurkan nafsu birahinya saja.

 

      Begitu pula tulisan-tulisan dr. Soetomo yang banyak mendeskreditkan gagasan politik yang diusung umat Islam. Soetomo melalui media Djawi Hisworo (terbitan Boedi Oetomo), tanggal 9 dan 11 Januari 1918 menentang hasil keputusan nasional Congres Centraal Syarekat Islam, tahun 1916. Yaitu keputusan tentang Zelfbestuur dan Indonesia Berparlemen. Dalam majalah Swara Oemoem, 18 Juni 1930, Soetomo dengan menggunakan nama samaran Homo Soem juga mengkritisi tentang haji. Secara eksplisit dia pun mendukung ordonasi haji yang diterapkan Belanda dan banyak ditentang oleh politisi dan umat Islam.

 

      Begitu pula di Parindra, partai politik pimpinan Soetomo, melalui Madjalah Bangoen, media terbitannya, juga mendukung tulisan Siti Soemandari. Dalam tulisan tertanggal 15 Oktober 1937 itu, Siti mendukung ordonasi perkawinan tahun 1937 yang diterbitkan kolonial dan dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Tak jarang, tulisan-tulisan tersebut memuat kalimat-kalimat sarkastik terhadap ajaran-ajaran Islam.

 

***

“Tak ada lagi kegiatan mengaji selayaknya pesantren. Praktis, hanya jama’ah sholat lima waktu saja di masjid ini,” kata Asmuni Adji kala ditemui penulis di masjid tersebut.

 

   Asmuni Adji yang juga merupakan mantan ketua cabang GP Ansor Banyuwangi tahun 90-an itu, menyesalkan akan keterlantaran tempat bersejarah tersebut. Tak ada satu pertanda pun yang menandakan bahwa di tempat itulah GP Ansor resmi didirikan. Pada masa kepengurusannya, Asmuni mengaku pernah mengadakan beberapa kali kegiatan skala nasional di tempat tersebut. Tujuannya untuk menarik simpati pengurus GP Ansor pusat untuk membuat tetenger di tempat bersejarah itu. “Saya pingin ada monumen di tempat ini. Tapi sampai saat ini belum terlaksana,” sesalnya.

 

      Meski demikian, Asmuni bersama para sesepuh Ansor Banyuwangi, terus berkomitmen untuk mengadakan kegiatan peringatan Harlah Ansor satu tahun sekali di masjid peninggalan Kiai Saleh itu. “Meski hanya sekedar memotong tumpeng,” pungkasnya.


*Ayung Notonegoro Pengurus PW IPNU Jatim, Penggiat Literasi Pesantren, Pimred Web Resmi PCNU Banyuwangi/Muhammad Faishol MSN










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)