Opini

Jelang hari Santri, Nasionalisme harus diperbarui

Menghidupkan Kembali Fatwa Jihad KH Hasyim Asy`ari

Admin MSN | Selasa, 03 Oktober 2017 - 09:41:59 WIB | dibaca: 137 pembaca

KH Hasyim Asy’ari

oleh: Uswatun Khasanah

Indonesia adalah suatu negara bangsa dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kemajemukan budaya, agama, ras, dan suku merupakan kekayaan yang telah lama dimiliki Bangsa ini. Kemajemukan itulah yang menjadi ciri khas Indonesia, yang sejak dari dulu masyarakatnya dapat hidup rukun dan damai meski memiliki banyak perbedaan. Namun sayangnya, kemajemukan itu akhir-akhir ini tengah berusaha dikikis oleh kaum puritan yang mengatasnamakan Islam.

Kemajemukan yang dimiliki bangsa ini sedang dalam masa kritis. Gerakan untuk menyeragamkan pandangan menjadi Islam kaffah telah begitu merebak. Gerakan baru yang terkesan bermuatan politis itu begitu digandrungi oleh sebagian masyarakat Indonesia dengan iming-iming jihad fi sabililillah. Gerakan Islam kaffah itulah yang perlahan berusaha menggeser Indonesia dari suatu Negara Kesatuan menjadi Indonesia dengan sistem khilafah islamiyah.

Kaum puritan dengan dalih kembali pada Islam yang haq sebisa mungkin menggeser budaya Bangsa Indonesia yang kaya menjadi budaya Arab tanpa memperdalam bagaimana Islam yang sesungguhnya. Gerakan Khilafah Islamiyah juga telah banyak mengikis semangat nasionalisme masyarakat Indonesia pada jaman ini. Semangat arabisasi telah membuat sebagian besar orang begitu mencita-citakan negara Islam  ala arab dan pesimis terhadap NKRI yang jelas-jelas telah memberikan mereka kelonggaran dalam menjalankan syariat Islam tanpa ada kekhawatiran apapun.

Hal ini tentunya berlawanan dengan semangat perjuangan para pahlawan pada masa kemerdekaan. Termasuk di dalamnya barisan para kiai dan santri. KH. Hasyim Asy’ari salah satunya. Maka dari itu hingga sekarang kalimat Hubbu al wathon min al iman viral di kalangan nahdliyyin untuk tetap meneguhkn sikap cinta tanah air.

Sikap cinta tanah air begitu kentara dari sosok kharimastik KH. M. Hasyim Asy’ari. Beliau pernah memberikan fatwa bahwa perang melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari jihad fi sabilillah.

Apa yang difatwakan oleh KH. Hasyim Asy’ari akan sangat berpengaruh pada moral perjuangan Ummat Islam kala itu. Beliau memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi psikis para pejuang. Jika Beliau memfatwakan perang, maka ummat Islam akan teguh pendirian untuk menjalankan apa yang telah beliau fatwakan. Jika Beliau memfatwakan ummat Islam untuk mendukung Belanda, maka moral dan semangat untuk berjuang itupun akan runtuh. Hal itu pula yang mendasari Bung Tomo dan Jenderal Sudirman untuk mengirim utusan kepada KH. M. Hasyim Asy’ari  pada 3 Ramadhan 1366 H sesaat setelah terjadinya Agresi Militer Belanda 1.

Dengan dampingan pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya, -Kyai Ghufron-, KH. Hasyim Asy’ari menemui utusan tersebut. Sang tamu menyampaikan surat dari Jenderal Sudirman yang intinya meminta Hadratusy Syekh KH. M. Hasyim Asy’ari untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda dan dipaksa untuk membuat pernyataan mendukung tindakan Belanda; Sebab pada waktu itu Belanda tengah gencar melakukan serangan ke berbagai daerah di Jawa.

Setelah meminta waktu satu malam untuk berpikir, KH. M. Hasyim Asy’ari menyatakan ketidaksediaan memenuhi isi surat tersebut. Itu artinya komando bagi para laskar untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Empat hari berselang, yakni pada 7 Ramadhan 1366 H, datang lagi utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Utusan tersebut melalui surat yang dibawa, memohon komando jihad fi sabilillah dari KH. M. Hasyim Asy’ari bagi Ummat Islam Indonesia karena Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang. Banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang telah gugur menjadi korban.

KH. M. Hasyim Asy’ari kembali meminta waktu satu malam untuk dapat memberikan keputusan. Namun,  tak lama berselang datang kabar bahwa kota Singosari, Malang sebagai basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda. Mendengar kabar demikian KH. M. Hasyim Asy’ari berujar Masya Allah Masya Allah sambil memegang kepala lalu tak sadarkan diri.

Dokter Nitisastro yang memeriksa keadaan KH. M. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa sang Hadratusy Syekh mengalami pendarahan otak yang sangat hebat. Pada pukul 03.00 dini hari, tanggal 7 Ramadhan 1366 H, KH. M. Hasyim Asy’ari berpulang menemui kekasihnya yang haqiqi. Inna lillahi wa Inna Ilaihih Rajiun.

KH. M. Hasyim Asy’ari begitu teguh membela kedaulatan NKRI. Semangat dan jiwa nasionalisme yang kuat juga tercermin dari setiap dhawuh-dhawuh yang Beliau sampaikan kepada santri-santri Beliau. Karena keteguhan memperjuangkan NKRI itulah KH. M. Hasyim Asy’ari mendapat gelar sebagai pahlawan nasional dari Presiden Soekarno melalui Kepres. No. 249/1964.

Melihat betapa KH. Hasyim Asy’ari mencintai tanah air Indonesia dan keteguhan Beliau dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang waktu itu masih sangat rentan; lantas apa yang membuat kita harus memuja-muja segala tentang budaya Bangsa Arab dan menanggalkan nasionalisme serta rasa cinta tanah air?

Padahal faktanya, selama ini kita sholat, beribadah, dan hidup dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selama ini kita bebas dan aman menjalankan syari’at Islam tanpa takut akan adanya ancaman karena NKRI yang berdaulat.  Dalam kitab Muqtahofat li ahli al bukayat karangan KH. Marzuki Mustamar dituliskan bahwa, tidak diperbolehkan meninggalkan sesuatu yang telah nyata adanya untuk sesuatu yang masih diangan-angankan. NKRI Harga Mati. (*Evi)

Sumber: Harakatuna.com










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)