Tokoh

Mengingat Kembali Nasehat Mbah Kiai Askandar Mberasan

Admin MSN | Minggu, 23 Juli 2017 - 17:45:56 WIB | dibaca: 206 pembaca

Oleh : Faricha Iskandar*

Almaghfurlah KH Askandar atau biasa dikenal dengan nama Mbah Kandar merupakan sosok yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Banyuwangi. Seorang tokoh besar pembangkit nilai-nilai ke-Islaman di zamannya kala itu. Pondok Pesantren Manbaul Ulum merupakan warisan keilmuannya. Selain itu, menantu dari Mbah Yai Manan Mberasan ini, santri-santrinya juga telah tersebar di seluruh pelosok negeri sebagai bukti dari hasil tirakatnya. Bahkan, pendiri pesantren terbesar se-Banyuwangi Ponpes Darussalam Blokagung KH. Mukhtar Syafa’at waktu masih hidup juga sering ngaji di Mbah Kandar. Menurut cerita, Mbah Mukhtar pulang pergi Blokagung-Mberasan hanya berbekal sepeda ontel seorang diri tanpa ditemani santri-santrinya.

Tidak terasa sudah 48 tahun lalu ayah dari pengasuh Ponpes As-Shidqiyah Jakarta KH Nur Iskandar SQ ini meninggalkan kita. Namun, warisannya tetap eksis hingga kini untuk turut serta menjawab dinamika kehidupan yang terus berpacu dan berkembang membendung segala bentuk baik dalam akidah maupun syariat.

Sepenggal pesan yang diamanahkan untuk santri dan anak cucunya melalui KH Anwar Askandar adalah “خطيئة كل رأس الدنيا حب” (hubbud dunya ro’su kulli khoti’ah) yang artinya “cinta dunia adl pangkal dari setiap kesalahan”.  Hanya dengan dibutakan dunia manusia terkadang menjadi rusak. Cinta kepada dunia menjadikan pekerjaan kita sebagai prioritas. Orang-orang yang cinta dunia dan melupakan akhirat akan dengan mudahnya meninggalkan shalat tanpa adanya rasa dosa dan penyesalan. Terkadang mereka mengaku sebagai orang Islam, tetapi rukun Islam sering mereka lalaikan. Bahkan, boleh jadi mereka shalat, tetapi di dalam hatinya ada unsur riya’. “Urip iku kudu berjuang, ojo sampek sak enak.e dewe,” ungkap anak ke-4 Mbah Kandar ini. Berjuang dalam terus menghidupkan peninggalan “simbah kandar” merupakan wujud cinta terhadap ilmu pendidikan untuk mencerdaskan masyarakat dalam balutan iman, islam dan ihsan.

Selain itu, amanah yang juga seing disampaikan adalah tetap belajar agar menjadi orang berilmu dan bermanfaat bagi orang lain. Seperti  Hadits shahih tentang sebaik-baik manusia yang diriwayatkan dari Jabir. Ia berkata,”Rasulullah Saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Manusia bisa bermanfaat bagi orang lain hanya dengan berlandaskan ilmu. Baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat adalah ilmu yang sama baik. Namun,ilmu yang bagaimana? ‘’ilmu seng iso gawe awakdewe parek marang Gusti Allah’’ tutur Kyai Anwar saat bercerita kepada keluarga. Pasalnya, bagaimanapun seseorang meskipun berilmu hingga menyandang gelar tertinggi, namun jika tidak membawa kita untuk lebih dekat dengan Allah, maka tidak akan menjadi manfaat ilmu tersebut.

Begitulan diantara banyak pesan yang sering disampaikan oleh ayah dari Almaghfurlah KH Abu Hasan As-Syadzili Al Hafidz ini. Semoga baik dzurriyah maupun para santri Pondok Pesantren Manbaul Ulum Mberasan tetap dapat mengemban amanah dan menjadi orang yang selalu berjuang di jalan Allah swt. (Faricha Iskandar/Muhammad Faishol)

*Faricha Iskandar; Penulis adalah cucu dari Almaghfurlah KH Askandar Mberasan yang saat ini nyantri kepada KH Abdusshomad Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Jember.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)