Berita

Mesranya Hubungan Pemerintah dengan Ulama Menjadi Kunci Persatuan NKRI

Admin MSN | Rabu, 21 Februari 2018 - 16:51:46 WIB | dibaca: 242 pembaca

Berbarengan dengan musim pilkada yang sudah memasuki gerbang, marak pula isu-isu yang sengaja dimunculkan untuk saling mengadu domba. Pemerintah dengan ulama terus dibenturkan. Mulai dari isu PKI, isu ribuan tenaga kerja Cina yang diselundupkan pemerintah, pengeboman tempat ibadah, hingga teror terhadap para kiai. Tidak bijak dalam bermedia seakan menjadi api penyulut kebencian. Sungguh miris.

Puti Guntur Sokarno atau biasa disapa mbak Puti, dalam kesempatannya berkunjung ke Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Malang (20/02) menyatakan sangat mengutuk aksi teror yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang ingin memecah persatuan kita, yang marak diberitakan beberapa pekan terakhir ini. Tidak hanya tokoh agama Islam, namun juga tokoh agama lain tidak luput dari aksi brutal mereka.

“Saya berharap, terutama untuk generasi muda. Memang sejarah kita untuk kebangsaan dan kesatuan itu dimulai dari bagaimana hubungan erat antara kaum nahdliyin dengan kaum nasionalis, bagaimana hubungan kakek saya (Soekarno) dengan KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim serta KH Wahab Hasbullah. Ini yang harus dijaga.” Ungkapnya.

Menurut cucu presiden pertama Indonesia tersebut, ulama merupakan ujung tombak kesatuan bangsa. Sehingga, dia sangat berharap bahwa ulama juga ikut serta menyampaikan rasa persatuan itu, karena biar bagaimanapun dawuh dan wejangan ulama lah panutan bagi mereka yang menjaga pancasila dan menjadikan nasionalis sebagai idiologi bernegara.

Mungkin anak muda zaman now tidak banyak yang tahu, bahwa kedekatan Bung Karno dengan para ulama tadi tidak hanya untuk urusan pribadi. Bahkan hampir setiap keputusan yang akan diambil pemimpin pertama Indonesia tersebut, yang menyangkut bangsa ini selalu beliau diskusikan terlebih dahulu dengan para ulama, nahdliyin khususnya. Seperti bagaimana konsep ketata negaraan Indonesia, dan ketika Irian Barat, Papua ingin direbut, yang memberi dorongan Bung Karno untuk kekeh memperjuangkan Irian Barat yang pada akhirnya terbentuklah Trikora, selain itu juga kasus pemberontakan DI/TII, NU lah yang kemudian memperkuat Bung Karno sehingga Bung Karno diberi gelar Waliyul Amri.

Melihat jejak panjang yang konsisten diajarkan oleh pemimpin negri dengan ulama kita, akan menjadi lucu jika para generasi muda tidak menirunya. Sebab, para pemudalah pemegang peran penting kesatuan bangsa ini. Terlebih untuk para santri, mbak Puti memberikan quote “Merdekalah dengan gayamu, tapi jangan lupakan budayamu Indonesia.” Para pemuda harus menjaga gotong royong, jika saat ini moral dan etika mulai menurun, maka, para santri lah yang menjaga dan menyebarkan virus-virus moral, etika, persatuan dan paguyuban. “Semua harus dari santri.” Pungkasnya.

Tak kalah semangat, KH Marzuki Mustamar juga membenarkan hal itu. “ngene lho rek, dari dulu Indonesia yang seperti ini merupakan hasil dari kerjasama, ta’awun, partnership yang baik antara kalangan ulama dengan kalangan nasionalis mulai dari pra kemerdekaan. Para pejuang ya dari dua itu.”

“Lalu terjadi peristiwa prahara, Orde Baru, akhirnya penguasa saat itu menggandeng kekuatan Islam yang lain, sehingga selama Orde Baru menteri agamanya tidak ada satupun dari kalangan nahdliyin. Setelah reformasi, hubungan harmonis itu kembali kesemula hingga saat ini, kepemimpinan pak Jokowi. Lha ini mau dibongkar lagi oleh kelompok-kelompok yang tidak suka dengan persahabat itu. Jadi (perlu dicatat) Bung Karno itu nasionalis yang santri, Mbah Hasyim itu santri yang nasionalis.” Imbuh kiai kelahiran Blitar tersebut. (diah/Fai)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)