Berita

MPII Banyuwangi: Upaya Rekonsiliasi Paska G-30 S/PKI Harus Didukung Oleh Berbagai Elemen

Admin MSN | Minggu, 01 Oktober 2017 - 11:29:04 WIB | dibaca: 434 pembaca

BANYUWANGI – Instruksi pemutaran film G-30 S/PKI yang disutradarai oleh Arifin C Nur menuai perdebatan beberapa kalangan. Ada pihak yang pro dan kontra terhadap pemutaran film berdurasi 3 jam 30 menit tersebut.

Polemik yang ada berawal dari pernyataaan Panglima Jenderal TNI, Gatot Nurmantyo, yang membuat instruksi kepada jajaran vertikal angkatan darat dengan mewajibkan pemutaran film tersebut di koramil-koramil di bawah komandonya.

Merespon kebijakan itu, Dewan Pimpinan Cabang Majelis Pemuda Islam Indonesia (DPC-PMII) Banyuwangi menyelenggarakan dialog kebangsaan: September Berdarah dengan mengangkat tema Refleksi Pemutaran Film G-30 S/PKI untuk Penguatan Pancasila Sebagai Falsafah Berbangsa dan Bernegara.

Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Lukman Hadi MPdI dan Tamyiz Rosyadi MPd yang merupakan perwakilan dari dua organisasisi keagamaan terbesar di Indoneisa, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Bidang Hubungan Media Massa, Muhammad Faishol, menyatakan bahwa golongan atau kelompok yang menjadi musuh bersama adalah siapa saja yang mencederai nilai-nilai yang terpatri dalam Pancasila dan merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kita berharap, khususnya bagi mahasiswa Ibrahimy Genteng, agar tidak terjebak dalam polemik akibat pemutaran film yang menceritakan bentuk penghianatan PKI, akan tetapi harusnya lebih mampu memberikan pemahaman terhadap masyarakat usai menonton film tersebut,“ imbuh Faishol, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut, Faishol menegaskan bahwa tidak ada perlunya mengipas fobia terhadap kebangkitan komunisme dan paham kiri. Hal demikian, bisa jadi hanya sebuah intrik unuk menghidupkan kembali sentimen tribal.

Sementara itu, Sekjen MPII, Anshari M H melalui sambungan seluler pada Sabtu (30/9), menyatakan bahwa upaya rekonsiliasi paska G-30 S/PKI telah berjalan dengan baik dan harus didukung oleh berbagai elemen.

“Terlebih kita sebagai pribadi muslim yang mencintai perdamaian. Mempercayai adanya hak politik, interaksi sosial, ekspresi kebudayaan yang sama. Sebagai generasi muda, konstruksi pemikiran kita harus difokuskan untuk masa depan dengan mengambil pelajaran dari masa lalu“ imbuh Anshari.

Kegiatan dialog kebangsaan berlangsung di Aula KH. As`ad Syamsul Arifin IAI Ibrahimy, diikuti oleh mahasiswa IAI Ibrahimy Genteng, masyarakat setempat, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banyuwangi.

Masyarakat saat ini tentunya sudah bisa bijak dalam mengambil sikap, dan memandang dengan jernih suatu peristiwa tanpa menyalahkan secara sepihak, apalagi dewasa ini akses informasi dari berbagai sumber dapat dengan mudah dilakukan. (*)

Pewarta: Hafil Ahmad

Editor: Uswatun Khasanah










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)