Tokoh

Nalar Fiqh Mbah Sahal

Admin MSN | Minggu, 23 Juli 2017 - 17:39:20 WIB | dibaca: 54 pembaca

Oleh : W Eka Wahyudi*


Tepat hari kamis (24/1/2014) kaum muslimin, khususnya warga NU tengah dirundung duka atas wafatnya ulama besar KH Sahal Mahfudz. Senandung doa seketika menyambut wafatnya ulama bersahaja ini, yang saat itu menempati posisi tertinggi di jajaran kepengurusan Nahdlatul Ulama, yakni sebagai Rais Amm PBNU. Beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana, sehingga tak sedikit orang terkecoh dengan penampilan luarnya yang begitu apa adanya. Kiai pengasuh pondok pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati Jawa Tengah ini mempunyai nama lengkap Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abd. Salam Al-Hajaini. Beliau  lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada tanggal 17 Desember 1937.

Selain itu, Mbah Sahal juga diketahui mempunyai hubungan dengan darah biru dari trah pendiri NU, hal ini bisa dilihat dari pernikahannya dengan nyai Nafisah. Ibu kandung Nyai Nafisah merupakan adik kandung dari Ibu Gus Dur (Nyai Solihah). Adapun Kiai Mahfudh, -ayah kandung dari mbah Sahal- adalah sepupu Kiai Bisri Syamsuri, kakek Gus Dur. Mbah Bisri (KH Bisri Syamsuri) menikah dengan Nyai Chodidjah -adik pendiri NU KH Wahab Hasbullah- yang kelak melahirkan enam anak. Yaitu Ahmad Bisri, Muassomah (nenek Menakertrans Muhaimin Iskandar), Solihah (ibu kandung Gus Dur), Musyarofah (ibu kandung Nafisah,istri mbah Sahal), Abdul Aziz Bisri dan Sohib Bisri.

Sang Maestro Fiqh Sosial

Karena kecerdasan dan keahliannya di bidang Ushul Fiqh, mbah Sahal lebih dikenal sebagai ulama yang getol menyuarakan fiqh bernuansa sosial sesuai dengan kondisi islam Indonesia. Bagi mbah Sahal, fiqh merupakan produk hukum islam yang bersifat fleksibel, sesuai dengan konteks zamannya. Pola transformasi dari qoul madzhab (tekstual) kepada manhaji (metodologis) merupakan salah satu upaya aktualisasi fiqh yang sangat ditekankan oleh Mbah sahal. Cara manhaji yang disebut terakhir ini lebih menekankan aspek maslahat dalam bidang aplikasi hukum Islam kekinian.

Teori maslahat, yang jauh sebelumnya sunter disuarakan oleh ulama pendahulu, yakni Imam Syatibi dan Najmudin At-Thufi menjadi perhatian tersendiri bagi Mbah sahal dalam mengaplikasikan hukum islam (baca: fiqh) yang relevan  bagi Umat Islam Indonesia. Sebagai bukti atas kuatnya komitmen Mbah Sahal akan pentingnya Fiqh Sosial, beliau menuangkannya pemikirannya itu melalui beberapa tulisan yang kini bisa kita nikmati keberadaaanya, diantaranya adalah buku Nusansa Fiqh Sosial, Wajah Baru Fiqh Pesantren, Telaah Fiqh Sosial, Pesantren Mencari Makna, Dialog Dengan Mbah sahal, Dialog Problematika Umat dan sebagainya.

Karya tulis Mbah Sahal yang berjudul “Dialog Problematika Umat” yang diterbitkan LTN PBNU dan beberapa karya tulis lainya memberikan sinyalemen nyata bahwa konstruk nalar fiqh mbah Sahal sangat memperhatikan kemaslahatan sosial (maslahah ‘amm) bagi keberlangsungan beribadah kaum muslimin tanah air, terutama kalangan islam tradisional. Gagasan mbah Sahal tentang fiqh sosial ini, juga berhasil memecah kebekuan kalangan pesantren yang bagi sebagian orang “dituduh” sebagai sarang kejumudan dan kemunduran gairah intelektual islam. Kemampuan berijtihad Mbah Sahal ini, hemat penulis, diperolehnya melalui pengalamannya selama menjadi santri  kelana yang “hobi” berpindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya guna mencari kekayaan keilmuan islam dari berbagai sumber yang variatif. Intensifitas dialektika intelektual dengan para kiai di Pare Kediri dan Kiai Bisri Syamsuri di Jombang, mampu memberikan modal dasar yang kelak dibutuhkan dalam memecahkan problematika keummatan kontemporer, yang belakangan digaungkan mbah Sahal melalui fiqh sosialnya. Jika Gus Dur dikenal dengan Bapak Pluralisme, maka tak berlebihan jika Mbah Sahal kita perkenalkan sebagi bapak Fiqh Sosial.

Pemberdayaan Masyarakat berbasis Fiqh

Gagasan Mbah Sahal tentang Fiqh Sosial lebih banyak dilatarbelaknangi karena melihat kondosi sosial yang jauh dari realisasi fiqh sesuai konteks zamannya, realitas semacam ini menimbulkan kegelisahan sekaligus  tantangan tersendiri dalam mengkontektualisikan produk hukum islam dalam dinamika kehidupan dan kebutuhan ummat islam dewasa ini. Dari sini kemudian, muncul usaha-usaha beliau dalam memperdayakan masyarakat melalui gerakan fiqh-isasi kehidupan umat islam. 

Pertama, dibidang zakat Mbah sahal bukan sekedar menganjurkan zakat sebagai tanggungjawab agama, namun juga sebagai tanggungjawab sosial. Karena didalam makna zakat terkandung spirit pemberdayaan bagi fakir miskin yang sedang merasakan kesusahan hidup. sehingga, zakat menurut Mbah Sahal menjadi jembatan penghubung “bridges/ wasilah” agar kaum miskin diberbagai pelosok desa dapat terentaskan kesulitan hidupnya, bahkan entitas zakat -menurutnya- mampu menjadi penopang utama perekonomian nasional. Melihat celah inilah, Mbah sahal kemudian berinisiatif mendirikan BPPM (Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat). Kemudian dari eksistensi BPPM inilah mbah  Sahal juga membentuk semacam NGO (non Govermental Organization) yang dikemas dalam wadah KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yang diafiliasikan dengan pemerintah dan lembaga swasta. Selain itu dalam bidang peningkatan kesehatan masyarakat, mbah Sahal membangun sebuah rumah sakit Islam dan BPR Artha Huda Abadi yang melayani simpan pinjam bagi masyarakat kecil. Program-program seperti inilah yang secara konkrit direalisasikan Mbah sahal sebagai wujud komitmennya dalam mengusung gagasan fiqh sosial ditengah kondisi riil masyarakat. 

Kedua, Fiqh sosial yang digagas oleh Mbah Sahal juga termanifestasikan melalui pelestarian lingkungan. Beliau juga menggagas konsep hukum islam yang memperhatikan secara khusus mengenai kondisi lingkungan sekitar yang diistilahkannya dengan fiqh al-bi’ah (fiqh lingkungan) yang belakangan mampu memberikan injeksi spiritual kalangan pesantren dalam mengkampanyekan penyelamatan bumi dan rsponsif terhadap kelestarian lingkungan. Ide cemerlang mbah Sahal ini sekaligus mendobrak stigma bahwa teks-teks fiqh yang terdapat dalam kitab kuning belum “dibenturkan” secara optimal dengan berbagai problem sosial lingkungan, seperti tanah longsor, tsunami, banjir, gempa bumi, dan yang sedang sunter digaungkan yaitu  pemasanan global (global warming). Isu-isu sensitif ini, dicarikan alternatif solusinya melalui usaha strategis mbah Sahal dalam formulasi pemikiran nalar fiqh-nya, sehingga perjuangan beliau secara otomatis mampu menganulir bahwa para ulama tidak boleh “alergi” dalam menjawab krisis sosial dan lingkungan yang terus menggelayut pada kehidupan masyarakat. Selamat jalan Mbah Sahal, jasamu takkan pernah kami lupakan.

*Dosen Universitas Islam Lamongan, Mahasiswa Doktoral UNISMA Malang dan Pengurus Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)