Opini

Ngalah Bukan Berarti Kalah

Admin MSN | Jumat, 29 Juni 2018 - 14:25:44 WIB | dibaca: 93 pembaca

Gambar diambil dari google

 Oleh: Silva Ahmad Faizudin

 

Dulu, orang Jawa hanya mengenal antara menang atau mati. Kemenangan adalah hal mutlak yang harus diperjuangkan. Jika tidak menang, maka akan berujung kematian, entah kematian jasad, atau kematian harga diri. Kemudian datanglah Wali Songo dengan membawa ajaran luhur yang ditanamkan menggunakan pendekatan bahasa, salah satunya dengan memperkenalkan kata ngalah.

 

Kata ngalah tak sama dengan kalah. Jika kalah identik dengan tidak menang, ngalah justru tak ada hubungannya dengan kalah dan menang. Ngalah, sepengetahuan penulis, terdiri dari dua kata, yaitu "nga" dan "Allah". "Nga" diartikan menuju atau mengarah, seperti nganan (ng + kanan) yang berarti menuju kanan, dan lain sejenisnya. Sehingga ngalah secara bahasa bisa diartikan "menuju Allah". Ngalah merupakan sebuah metode rohani untuk mendekatkan diri pada Allah dengan mengesampingkan ego dan nafsu berkuasa, mengembalikan kekuasaan tertinggi pada Zat yang Maha.

 

Dalam filosofi Jawa juga dikenal istilah "ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji, sugih tanpa bandha. Manusia sejati adalah ia yang mampu menaklukkan nafsunya sendiri. Jika sudah mampu menaklukkan dirinya sendiri, ia akan mampu menaklukkan dan mengambil hati siapa saja, tanpa bala bantuan (ngluruk tanpa bala) tanpa harus merendahkan, berarti ia menang tanpa ngasorake. Ia sejatinya sakti tanpa kedigdayaan dan kaya tanpa harus memiliki harta (sekti tanpa aji, sugih tanpa bandha).

 

Dengan menanamkan sifat ngalah, andaikan ia menang, maka ia menang tanpa ngasorake (merendahkan). Kemenangannya hanyalah menjadi bonus, bukan tujuan akhir, karena tujuannya tetap satu: Allah. Dengan begitu, ia takkan merendahkan yang kalah. Ia juga pasti akan mengingat posisi awalnya, bahwa kedudukan ini berasal dari rakyat dan akan kembali untuk rakyat. Andaikan ia kalah pun, takkan menjadi alasannya untuk tak bangun lagi, karena semuanya Lillah. Ia akan tetap berlapang dada atas segala keputusan yang ada.

 

Jadi mari berbesar hati. Karena siapapun yang akan terpilih, semuanya Qodarullah. Semoga semua calon pemimpin, jadi maupun tidak jadi, juga para simpatisan, tetap menanamkan sifat ngalah dalam diri mereka, sehingga tidak ada sakit hati dalam penantian ini. Wallahu a'lam










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)