Opini

Paham Extrimis Akar Radikalisme

Admin MSN | Sabtu, 04 November 2017 - 06:24:46 WIB | dibaca: 270 pembaca

oleh: Tri Efi

Dirilis oleh bbc.com pada tanggal 1 November 2017, bahwasanya satu dari empat pelajar Indonesia ‘siap berjihad’ untuk menegakkan khilafah atau negara Islam, dan satu dari enam peserta didik memilih negara Islam dibanding Pancasila dan NKRI.

Direktur Kemahasiswaan Kemeristekdikti, Dr Didin wahidin, mengatakan bahwa gejala dukungan ini muncul akibat pembiaran masuknya golongan radikal ke dalam institusi pendidikan, dimana salah satunya melalui masjid-masjid kampus. Dakwah dan transformasi gerakan yang dapat menyentuh anak muda berhasil diterima kalangan mahasiswa, akibatnya doktrinasi dengan cover islami tidak terdeteksi sebagai upaya radikalisasi.

Survei dari Alvara Research Centre yang melibatkan 4.200 siswa dan mahasiswa di Jawa dan sejumlah kota besar di luar Jawa juga menunjukkan hasil yang mencengangkan. Sejumlah 25% peserta didik 'siap berjihad' untuk tegaknya khilafah, kurang dari 20% memilih ideologi islam, hampir 20% peserta didik setuju bahwa khilafah sebagai bentuk pemerintahan yang ideal dibanding NKRI, dan 20% peserta didik menganggap perda syariah tepat untuk mengakomodir penganut agama mayoritas, serta hampir 25% setuju bahwa negara islam perlu diperjuangkan untuk penarapan Islam secara kaffah. Data tersebut menurut CEO Alvara Research Centre memperlihatkan bahwa kunci isu radikalisme terletak pada mahasiswa.

Hal tersebut dikarenakan mahasiswa memiliki peran strategis sebagai calon pemimpin di masa depan. Karakter menggebu dan masa transisi menuju kematangan pola pikir terjadi pada masa-masa ini. Tidak heran jika perubahan drastis dapat terjadi pada mahasiswa yang ketika masa sekolahnya tidak terlihat religius menjadi sangat islami.

Kecenderungan untuk mencari ketenangan dengan belajar agama bersama kelompok-kelompok yang menunjukkan dirinya syar'i bisa jadi muncul akibat booming-nya kalangan artis yang hijrah atau para muallaf yang tenar di media masa. Ditambah lagi dengan mudahnya mencari informasi dengan teknologi canggih mbah google yang dapat menemukan semua kata kunci yang dicari tentu memperluas kesempatan belajar agama dimanapun dan kapanpun.

Akan tetapi hal inilah yang mendatangkan bahaya berikutnya, kesalahan dalam pemahaman agama tanpa ada klarifikasi atas pemahamannya tentu menimbulkan efek tersendiri dalam kehidupan. Kecenderungan untuk mengikuti apa yang telah dibaca tanpa bertanya kepada guru yang jelas dapat mengarah kepada hal-hal yang radikal. Ibaratnya seperti membaca peta tanpa memiliki guide-nya, tersesatlah akibatnya.

Maraknya ustadz-ustadz impor dengan membawa gerakan transnasional mulai naik daun dengan semakin banyaknya peminat yang kebanyakan adalah kalangan remaja pengguna aktif sosial media.

Kondisi ini memang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan upaya dakwah ulama-ulama nusantara yang tidak perlu diragukan lagi kealimannya, dimana para ulama lebih memilih berdakwah secara dekat kepada masyarakat melalui pengajian-pengajian, dengan bertatap wajah secara langsung dan melalui ta'lim (pengajian) di pesantren. Para ulama juga mementingkan sanad keilmuan yang diajarkan kepada khalayak dengan bersumber dari Nabi Muhammad saw.

Penampakan Islam yang lebih ditonjolkan dengan penampilan fisik ketimbang nilai-nilai islam itu sendiri kini mulai meluas ditengah-tengah masyarakat. Proses doktrinasi dengan nalar dan logika sebagai tolok ukurnya kini lebih dimudah diterima, hal ini karena mayoritas generasi Indonesia yang menjadi sasarannya adalah pemuda.

Pendidikan kini memiliki peran utama menyangkut perkembangan paham terorisme dan radikalisme begitupun pencegahannya. Tugas negara dan agama adalah mentransformasi masyarakat untuk menghindarinya.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)