Berita

Pandu Indonesia di Negeri Thailand

Admin MSN | Jumat, 17 Agustus 2018 - 19:34:56 WIB | dibaca: 128 pembaca

Oleh: Moh. Yajid Fauzi   

          Perjuangan merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia tidaklah mudah, banyak rakyat Indonesia yang gugur dalam medan pertempuran. Perjuangan juga tidak hanya dilakukan oleh satu golongan saja,  oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi penerus Bangsa untuk mempertahankan dan mengisi Kemerdekaan di negeri ini. Salah satu hal  yang menarik di hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-73 tahun ini adalah Kemerdekaan tidak hanya dirayakan oleh seruluh masyarakat yang ada di  Indonesia, tetapi  mahasiswa dari Indonesia yang tergabung dalam keluarga besar PPL-KKN Universitas Negeri Malang di Konsultan Republik Indonesia Songkhla di Thailand juga ikut serta merayakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan mengadakan upacara bendera.

            Bangsa Indonesia yang kini sudah berusia 73 tahun memang akhir-akhir ini diguncang oleh berbagai gejolak perpecahan. Awal tahun 2018 sampai hari kemerdekaan ini banyak teror yang menghantui rakyat Indonesia, apalagi banyak yang terdoktrin bahwa pelaku mengatasnamakan agama. Hal ini telah menyebabkan phobia di masyarakat. Padahal pesan dari KH Hasyim Asy’ari ‘’Agama dan Nasionalisme dua kutub tidak berseberangan. Nasionalisme bagian agama, keduanya saling menguatkan.’’ Belum lagi kasus diskriminatif  yang dilakukan terhadap suku atau agama tertentu.

           Banyaknya gerakan radikalisme dan maraknya isu hoaks serta ujaran kebencian yang sengaja di paparkan pada generasi millenial, dan  bentuk gerakan radikalisme verbal, tindakan hingga sosial media tak bisa dipisahkan dari generasi millenial juga menjadi ancaman bagi Bangsa Indonesia. Sikap intoleransi yang mulai timbul di masyarakat  juga menjadi masalah yang kini perlu ditanggapi oleh seluruh rakyat Indonesia.

             Mengutip lirik lagu Indonesia Raya ‘’ Indonesia Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku.’’ Dari lirik tersebut kita bisa menarik aspek material yaitu tanah dan air. Lirik selanjutnya “Disanalah Aku berdiri Jadi Pandu Ibuku.’’ Siapa pandu dalam lirik tersebut ? Tentu saja tanah. Lalu apa tugas historis dari lirik lagu tersebut ? Kita harus menjadi Pandu. Itulah yang dicontohkan mahasiswa PPL-KKN Universitas Negeri Malang di Konsultan Republik Indonesia Songkhla Thailand untuk Bangsa ini, menjadi Pandu Indonesia. Mereka menujukkan betapa pentingnya  jiwa Nasionalisme, pentingnya rasa Kesatuan dan Persatuan, tidak perlu memandang meski mereka di negara lain, selama mereka masih memiliki rasa cinta  tanah dan air, disitulah mereka menjadi Pandu Bangsa Indonesia.  

           Merayakan kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-73 tahun ini mari kita menanamkan jiwa Nasionalisme dan mempertahankan Tunggal Ika dalam bingkai KeBhinneka. Jangan sampai kita seperti negara-negara Timur Tengah yang masih banyak terjadi perang saudara. Karena tingginya sikap egosentris antar kelompok atau golongan, dan menganggap apa yang tidak sejalan dengan mereka adalah salah, telah menyebabkan perang yang hingga kini belum juga selesai. Jika agama (Islam) sebagai Ideologis pragmatis yang berpihak pada teks dan formalitas, maka islam akan menampilkan ornamental yang stagnan dan berhenti.  Kurangnya rasa Nasionalisme, rasa  memiliki cinta tanah dan air  juga melatarbelakangi masih banyak terjadinya perang di negara Timur Tengah.

 

Penulis  Adalah Mahasiswa Universitas Islam Malang semester lima yang aktif di Himpunan Mahasiswa Progam Studi Ahwal Assyakhisiyyah. Tergabung dalam Media Santri N.U dan Komunitas GUSDURian Malang.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)