Opini

Pengorbanan Cinta dalam Beragama

Admin MSN | Minggu, 27 Mei 2018 - 13:56:40 WIB | dibaca: 101 pembaca

Anugrah terindah di dunia yang fana ini adalah cinta. Cinta bisa berarti api yang ada dalam hati, api yang bisa membakar atau api yang menerangi hati pemiliknya. Ketika cinta membakar hati pemiliknya, hilang akal bahkan hati nuraninya. Dia akan melakukan kegilaan diluar batas logika. Berbeda dengan cinta yang menerangi hati pemiliknya, kebahagiaan yang akan selalu terpancar dari raut wajahnya. Santun perilakunya bahkan akan memberikan penerang bagi yang orang lain.

Keyakinan dalam beragama akan timbul dari ilmu yang ia peroleh. Karena tanpa ilmu maka orang yang mengaku beragama hanya akan melakukan amaliah keseharian berdasar dengan nafsu. Api hitam ini yang akan menggerogoti hati pemiliknya membakar hingga melenyapkannya. Tak kan pernah menerangi pemiliknya, yang ada hanya amaliah hitam berbalut label agama.

Dalam mencari ilmupun juga dianjurkan untuk mencari seorang guru yang benar. Guru yang memiliki sanad keilmuan bersambung sampai rasulullah. Memiliki kepribadian santun serta berperilaku sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Karena banyak yang mengaku al-ulama waratsatul anbiya, namun perilakunya yang tidak sesuai dengan ilmu. Ilmu yang diajarkan benar namun dalam amalnya masih tercampur dengan api hitam atau nafsu. Sehingga pengaruh terhadap pendengarnya juga akan berdampak tidak baik.

Ketika seorang telah memeroleh ilmu dari guru yang tepat, hal yang harus dilakukkannya yaitu berkorban. Bersama kita ketahui ketika manusia lawan jenis saling mencintai maka akan ada pengorbanan di dalamnya. Bahkan saat merasa tak mampu, ia akan melawan batas ketidakmampuannya. Berjuang lebih keras untuk memperoleh dan mempertahankan cintanya.

Begitupun dalam beragama, seorang muslim atau pemeluk agama yang lain, wajib mencintai agamanya. Berkorban dalam beragama khususnya agama islam, apapun yang diperintahkan allah akan dijalankannya dengan penuh cinta. Karena apapun itu, saat didasari dengan cinta maka ia akan melakukannya tanpa merasa berat. Agama merupakan jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka dari itu seorang muslim wajib mencintai agamanya lebih dari cintanya kepada yang lainnya. Sebagaimana firman Allah SWT:

Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9:24)” (at-Taubah | al-Bara’ah:24)

Seorang muslim yang menikmati hubungannya dengan pemiliknya yaitu Allah Swt. Maka cintanya akan semakin besar, saat bahagia maupun susah dia akan tetap senang. Karena cintanya lebih besar dari kebahagiaan dan kesusahan, cintanya murni untuk Allah Swt. Bahkan ketika dia diberi cobaan dia tetap senang dengan berucap alhamdulillah. Keridloan serta kerelaan tuhannya yang ia inginkan. Dan akan ia korbankan apa yang dimilikinya untuk sebuah cinta.

Di tengah perbenturan dalam kehidupan. Banyak yang memanfaatkan cinta atas nama agama. Mengajak berkorban dalam pemahaman yang kliru sehingga tak hanya ia yang merugi namun orang lain juga akan mendapatkan dampak buruknya.

Melihat kembali jas hijau, sejarah para santri selalu menebarkan islam dengan kesantunan perilakunya, keluwesan dalam dakwahnya. Berjuang tanpa pamrih tak pernah meminta apapun. Mengorbankan kepentingannya demi kepentingan agama yang ia cintai. Dan hanya keridloan Allah Swt yang ia harapkan lantaran ridlo gurunya. Ikut berkhidmah dalam dakwah serta mengajak orang lain menikmati keindahan Islam.(aghw)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)