Pesantren

Penyakit yang Membawa Berkah

Admin MSN | Kamis, 04 Juli 2019 - 13:44:22 WIB | dibaca: 100 pembaca

Oleh: Silva Ahmad Faizudin

 “Belum afdhol bagi seseorang yang nyantri di pondok pesantren jika belum terkena gudik.” Istilah ini seringkali didengungkan oleh para santri senior untuk menghibur santri-santri baru yang mulai mengalami gatal-gatal yang biasa disebut gudik. Para santri percaya bahwa gudik merupakan stempel khusus pondok yang menandakan bahwa mereka sudah menjadi santri sejati, atau tanda bahwa ilmu yang mereka dapat benar-benar telah masuk dalam diri mereka. Istilah lainnya, santri sudah mendapatkan barokah jika sudah pernah gudiken.

Gudik (kudisan) atau scabies adalah penyakit yang disebabkan oleh tungau, yang hampir pasti dialami oleh sebagian besar bahkan semua santri tanpa pandang bulu, tak peduli santri baru atau santri lama. Penyakit kulit ini sering menyerang bagian punggung tangan dan di sela-sela jari. Kalo sudah parah, gudik bisa berada di selakangan. Yang lebih dahsyat lagi, katanya, jika gudik sampai di bagian alat vital, gatalnya berada di level puncak. Jika sampai lecet karena digaruk, maka tergores kain sedikit saja, rasanya luar biasa sakitnya. Sang penderita biasanya mengalami Pruritus Nokturna (gatal pada malam hari), ini bisa dilihat dari kebiasaan santri menggaruk lebih parah ketika malam hari, bahkan ketika tidur terlelap.

Penyakit ini sangat rentan menular dengan tungau (kutu/mite) Sarcoptes Scabei yang berukuran sangat kecil, hanya bisa dilihat dibawah lensa mikroskop dan mudah sekali beramburan di udara, selain itu juga menempel di beberapa orang. Faktor utama yang membuat gudik mudah menjangkiti para santri adalah sanitasi santri yang lumayan lemah. Santri yang baru mondok, biasanya masih benar-benar baru mengenal dunia kemandirian. Pakaian yang jika di rumah biasa dicucikan, ketika di pondok harus nyuci sendiri. Biasanya karena kaget dengan tuntutan itu, pakaian pun dibiarkan tercecer dimana-mana. Menumpuk dan kotor.

Kamar atau tempat tidur yang biasanya bersih, siap dan sudah rapi, ketika di pondok harus dibersihkan dan dirapikan sendiri dulu. Seringkali dalam proses pendewasaan ini mereka masih merasakan malas yang luar biasa, jadilah kamar jadi kotor dan membawa berbagai kuman.

Belum lagi sampah bekas makanan atau jajanan yang biasanya dibeli santri, seringkali tercecer tak karuan karena tak terbiasa membuang sampah di tempatnya. Semisal sampahnya kering, mungkin masih lumayan aman. Bagaimana kalau sampah basah semisal gorengan berminyak, bumbu cilok, kuah bakso, piring kotor sehabis makan dan lain sebagainya? Di samping menimbulkan bau tak sedap, juga sangat memungkinkan menjadi media penyaluran kuman-kuman penyakit.

Kemalasan-kemalasan pada aspek sanitasi inilah yang kemudian menjadi masalah terbesar sekaligus menjadi faktor utama yang melatarbelakangi mewabahnya penyakit kudis atau gudik ini di kalangan para santri.

            Bagi penderita gudik, ada istilah khusus dan konyol –bagi penulis– yang digunakan untuk menyebut aktivitas garuk-garuk mereka: gitaran yang kemudian menerima gelar satria bergitar. Mungkin karena gatal-gatal yang mereka alami itu lebih banyak berada di bagian perut ke bawah, sehingga jika dilihat sekilas, seperti mempraktikkan gerakan gitaris profesional, itu sebabnya istilah gitaran menjadi populer untuk mewakili aktivitas garuk-garuk ini.

Manfaat filosofis, psikologis dan sosial

            Meskipun gudik merupakan sebuah penyakit yang merugikan, namun jika ditelaah secara mendalam, ada beberapa manfaat yang penulis temui dan bedakan dalam beberapa aspek, yakni manfaat filosofis, psikologis dan sosial.

            Gudik, disadari atau tidak, lambat atau cepat, telah membuat santri memahami hakikat dari kehidupan pesantren dan hidup yang serba susah. Makna santri secara filosofis mulai mereka pahami sedikit demi sedikit. Mereka jadi terbiasa untuk hidup rekoso (prihatin) dan tetap semangat berjuang meskipun keadaan begitu berat.

            Pada aspek psikologis, santri yang terkena penyakit ini akan berlatih lebih dewasa dan sabar menghadapi penyakitnya. Menjadi lebih awas dan menjadikannya proses instropeksi pada kesehatan dan kebersihan pribadi. Umumnya, santri yang sudah lama tinggal di pondok tidak terjangkit masalah penyakit gudik sebagaimana santri baru, misalkan kena pun, mereka jadi lebih siap karena sudah terdidik bermental baja.

            Sedangkan pada aspek sosial, santri yang pernah gudiken akan memiliki relasi yang lebih luas dibanding mereka yang belum pernah mengalami. Apa pasal? Mereka memiliki mental yang lebih tahan banting dan lebih bijak karena gudik. Mereka tak lagi sungkan untuk berbaur dengan sesama santri untuk menceritakan pengalaman gatal-gatal mereka, bahkan terkadang sampai memotivasi dan menyarankan obat yang pernah dipakai saat menderita gudik.

            Ketiga aspek ini melatarbelakangi mental santri yang semakin kuat ketika sudah menderita penyakit gudik. Jika boleh mengistilahkan, gudik bagi penulis adalah guru yang mengajarkan tentang hidup yang keras, sehingga santri yang pernah gudiken benar-benar terbentuk baik secara mental, sehingga semakin siap untuk terjun di masyarakat luas. Wallahu a’lam










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)