Opini

Pesantren dan Kemanusiaan

Admin MSN | Minggu, 01 April 2018 - 07:20:13 WIB | dibaca: 176 pembaca

oleh: muhammad isbah habibii

 

Dikutib dalam "wasiat tarekat hadratus syaikh hasyim asy'ari" bahwa perkataan "pesantren" berasal dari kata “santri”, dengan awalan “pe-” dan akhiran “-an” berarti tempat tinggal para santri. Terlepas dari apa sebenarnya asal kata santri, dapat disimpulkan bahwa pesantren adalah sebuah tempat yang digunakan untuk menggembleng para santri untuk menjadi sebuah pribadi yang memiliki kriteria sebagai seorang santri.

 

Masih dalam kutipan yang sama, Profesor johns berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sedangkan, C.C. Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Namun jika kita melihat kenyataannya, kata santri lebih sering dipahami sebagai mereka yang mendalami agama dan menjalankanya, selai itu sering kali diartikan sebagai mereka yang belajar di pesantren.

 

Dalam beberapa forum diskusi, KH. Agus Sunyoto sering kali berpendapat bahwa pesantren lahir setelah adanya instansi pendidikan yang bernama padepokan, pedukuhan, dan peguron, ketiganya bertujuan mencetak anak didik yang memiliki budi pekerti luhur, kalau istilah cak nun, “menjadikan manusia sebagai manusia.” Karena tanpa adanya budi pekerti yang luhur manusia itu lebih seperti binatang yang mana segala tindak tanduknya didasari oleh hasrat dan nafsu belaka, maka tidak heran jika pesantren sebagai instansi pendidikan islam yang asli Indonesia menekankan pendidikannya pada penanaman budi pekerti (baca: ahlaq karimah) pada anak didiknya atau para santrinya. Diujung kepribadian manusia yang benar-benar telah menjadi manusia, ada sebuah prilaku khas yang dapat membedakannya dengan manusia pada umumnya, yakni memperlakukan manusia layaknya manusia dan gemar menebar perdamaian serta kasih sayang pada seluruh mahluk Tuhan.

 

Konsep menebar perdamaian dan kasih sayang pada seluruh mahluk Tuhan, rupanya selama ini hanya ada dalam hayalan dan angan belaka. Jangankan seluruh mahluk, kepada sesame manusia saja masih saling bertengkar, sampai-sampai seolah tidak ada alasan untuk tidak bertengkar. Sama-sama manusia tapi yang satu punya Tuhan yang satu tidak punya, lantas dijadikan alasan pertengkaran. Sama-sama punya punya Tuhan cuma beda agama, bertengkar lagi. beragama sama tapi yang satu berkeyakinan boleh bermadzhab, yang satu bilang bermadzhab itu tidak boleh, lalu bertengkar. Sama-sama membolehkan bermadzhab-nya, tapi beda madzhab bertengkar lagi. Madzhabnya udah sama cuma beda pilihan calon gubernur, berantem lagi. Kayaknya hidup kalau tidak bertengkar dirasa kurang asik, kurang berkesan, dan kurang rame.

 

Lalu apakah itu artinya pesantren gagal dalam usaha mengembalikan manusia menjadi benar-benar manusia? tertu jawabanya tidak sepenuhnya benar tuduhan itu, tapi juga tidak salah. karena dalam segala usaha, tidak terkecuali usaha pesantren diatas, pasti memiliki kemungkinan gagal, walaupun itu kecil. Namun jika boleh mengaku-ngaku tanpa hitungan statistik dan bukti data yang kredibel, pesantren sesungguhnya sudah sangat berhasil dalam usaha mengembalikan manusia menjadi benar-benar manusia, karena pada dasarnya mereka yang bertengkar hanya lah segelintir orang saja. Tentu Indonesia yang penduduknya jutaan ini jika bertengkar semua, maka negara ini bakal menjadi lautan api, tapi dalam kenyataanya Indonesia aman-aman saja, oleh karenanya dapat disimpulkan jumlah mereka yang bertengkar tidak lebih dari hitungan jari. Hanya saja, kadang ada kepentingan beberapa pihak yang ingin membuat kesan seolah di Indonesia isinya hanya pertengkaran saja, padahal kenyataan berkata lain.

 

Mungkin juga, adanya tuduhan kegagalan pesantren tadi disebabkan oleh banyaknya orang yang lupa atau tidak tahu bahwa santri adalah mereka yang tidak hanya sebagai orang yang mendalami agama dan menjalankanya, akan tetapi santri juga adalah seorang manusia yang memperlakukan manusia layaknya manusia dan gemar menebar perdamaian serta kasih sayang pada seluruh mahluk Tuhan. Oleh karenanya, dengan adanya hari santri yang jatuh beberapa hari lagi, mari lah kita ingat kembali siapa sejatinya siapa itu santri, sebagai usaha mengukuhkan kembali jati diri santri. (*shofwan)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)