Opini

Pesantren dan Nasionalisme

Admin MSN | Selasa, 23 Oktober 2018 - 22:32:50 WIB | dibaca: 63 pembaca


    Bulan Oktober adalah bulan yang istimewa bagi seluruh santri nusantara, pasalnya sejak ditandatanganinya Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 2015, pada tanggal 22 Oktober resmi ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan pada tanggal 22 Oktober tidak lepas dari peran PBNU yang mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo bahwa pada tanggal tersebut pasca kemerdekaan KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad. Jika kita tarik ke belakang sebenarnya perjuangan santri dalam mempertahankan bangsa Indonesia dari kaum kolonial sudah sangat lama. Bahkan perang Diponegoro yang berperang melawan penjajah adalah para santri nusantara, termasuk Pangeran Diponegoro juga adalah seorang santri.

Sejarah Perjuangan Santri    
    Pasca 17 Agustus 1945, banyak negara di dunia yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Di mata dunia Indonesia adalah negara fasisme jepang atau negara boneka. Perspektif ini semakin kuat dengan dibuktikannya bahwa Soekarno sebelum kemerdekaan pergi ke Jendral Terauchi dan mengetik naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
    Hal ini membuat Soekarno khawatir karna bisa saja Belanda menguasai Indonesia kembali. Tak lama kemudian Soekarno sowan ke KH Hasyim Asy’ari untuk meminta fatwa bagaimana hukumnya membela negara yang bukan negara islam, KH Hasyim berfatwa bahwa membela negara yang bukan negara islam hukumnya Fardhu ‘Ain dan matinya mati Syahid. Kemudian pada tanggal 22 Oktober PBNU mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad. Resolusi Jihad ini adalah bentuk peneguhan komitmen NU terhadap NKRI.
    Berita ini pun langsung menyebar termasuk pada rakyat Surabaya. Tiga hari pasca tercetusnya fatwa resolusi jihad, Inggris datang ke Surabaya atas permintaan Soekarno untuk mengurusi tahanan jepang. Tentara Inggris membuat pos-pos untuk keamanan di Surabaya. Karena oleh rakyat Surabaya dikira sekutu Belanda, pada tanggal 26 sampai 29 terjadi pertempuran antara rakyat Surabaya dengan Pasukan Inggris. Semua pelaku dan saksi mata mengatakan  peristiwa tersebut bukanlah perang, tetapi tawuran karna tidak ada pemimpin perang dalam peristiwa tersebut. Hampir 2000 tentara Inggris mati, dan puncaknya pada tanggal 30 Oktober 1945 Jenderal besar Inggris tewas tertembak oleh Harun, santri dari Tebuireng. Tewasnya Jenderal Besar ini membuat Inggris menjadi marah. Dan peristiwa ini juga yang melatar belakangi terjadinya pertempuran 10 November di Surabaya.

Pesantren sebagai Penjaga Kearifan Lokal
    Tidak bisa dipungkiri pesantren ada karena adanya budaya masyarakat yang diakulturasikan dengan ajaran agama. Santri dididik untuk menjaga tradisi dan kearifan lokal seperti tahlilal, dhiba’an, sekaten, sedekah laut dan lain sebagainya yang sering disebut dalam dunia pesantren adalah “Nguri-Nguri Warisan Walisongo”. Di pesantren selain dituntut untuk belajar hidup mandiri, santri diajarkan untuk hidup gotong royong seperti contohnya kegiatan ro’an rutin setiap minggu. Pendidikan dengan sistem kekeluargaan ala pesanten masih sangat relevan untuk diterapkan agar para santri ketika pulang ke daerahnya masing-masing bisa berguna bagi masyarakat sekitar. Dan tanpa disadari hal-hal kecil seperti itu adalah cara bagaimana pesantren melestarikan dan mempertahankan identitas bangsa Indonesia.

Pesantren  sebagai Budaya Literasi
    Hal yang menarik di pesantren adalah budaya literasi. Setiap hari santri diwajibkan untuk  mengaji, membaca kitab dan memaknai isi kitab. Di era millenial santri juga diajarkan literasi media. Bagiamana di era 4.0 santri dituntut melek media, memiliki kemampuan membuat konten kreator seperti video, meme, infografis yang barmuatan keagamaan dan kebangsaan. Dan yang paling penting santri harus siap proxy war di media sosial untuk menghadapi berita-berita hoaks. Dari budaya literasi, ajaran-ajaran kebangsaan dan cinta tanah air biasanya disampaikan melalui ngaji oleh kiai atau ustadz di pondok pesantren. Tentu saja santri dididik agar memiliki jiwa nasionalisme yang kuat, rasa memiliki yang besar akan tanah air sebagai tempat mereka menimba ilmu. Agar para santri ketika keluar dari pondok tidak terpengaruh oleh gerakan-gerakan radikal yang mengatasnamakan agama untuk mengubah sistem pemerintahan.

Mengamini Hubbul Wathon Minal Iman
    Santri millenial dalam mengamalkan ilmunya dapat mengikuti berbagai komunitas perdamaian salah satunya Gusdurian. Dengan nilai-nilai Tawassuth (Moderat), Tasamuh (Toleransi), Tawazun (Keseimbangan), Ta’adul (Keadilan) yang didapatkan santri di pesantren, maka sangat relevan dengan komunitas Gusdurian yang dalam pergerakannya dilandasi oleh sembilan nilai pemikiran Gus Dur yaitu Ketahuidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Kesederhanaan, Persaudaraan, Kesaktriaan dan Kearifan Lokal. Sehingga santri ketika keluar dari pesantren dan berkumpul dengan orang yang berbeda suku, ras dan agama  tidak ada lagi rasa ragu dan takut untuk berinteraksi serta berbagi. Nikmat Tuhan mencipkan bangsa Indonesia Tunggal Ika di bawah pelangi Bhinneka
    Dan pesantren sebagai pondasi kebangsaan yang tetap eksis menjaga budaya dan kearifan lokal yang diakulturasikan dengan nilai-nilai agama wajib hukumnya mengamini Hubbul Wathon Minal Iman bahwa Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman. Pesantren harus menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Bahwa NRKI harga mati. Dan bagi santri ‘’Tidak ada alasan santri untuk tidak cinta NKRI’’.

Penulis Adalah Moh Yajid Fauzi Mahasiswa Ahwal Syakhshiyah semester lima  Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang. Aktif di Media Santri NU, komunitas GUSDURian dan Gubuk Tulis.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)