Tokoh

Potret Gus Dur dalam Novel Peci Miring

Admin MSN | Sabtu, 28 Oktober 2017 - 00:25:58 WIB | dibaca: 100 pembaca

Judul: Peci Miring
Pengarang: Aguk Irawan MN
Penerbit: Javanica
Cetakan: 1, September 2015
Tebal: 389 Halaman
ISBN: 978-602-72793-1-5                    

Gus Dur merupakan sosok fenomenal sekaligus kontroversial. Ada berbagai persepsi yang lahir dari setiap lapisan masyarakat tentang guru Bangsa satu ini. Gus Dur melebur dalam masyarakat, seorang pemikir, Kiai, dan juga aktivis kemanusiaan yang dekat dengan semua kalangan. Sangat dicintai tetapi juga banyak dibenci.

Dalam novel Peci Miring, Aguk Irawan menggambarkan perjalanan Gus Dur mulai dari lahir hingga pengembaraannya ke Eropa dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna. Menurut KH. Mahfudz Ridwan, bahasa yang digunakan begitu hidup dan menjiwai setiap cerita yang dituturkan dalam beberapa bab.

Di halaman awal novel, kita akan disuguhi bagaimana Gus Dur kecil hidup di Pesantren Tebuireng dan bagaimana interaksinya dengan sang Kakek, Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy`ari. Dipaparkan juga bahwa semasa kanak-kanak, Gus Dur adalah anak kecil yang bandel sehingga tangannya pernah 2 kali patah karena jatuh dari pohon. Secara tidak langsung, novel ini juga menggambarkan betapa besarnya kharisma yang dimiliki KH Hasyim Asy`ari, serta sepak terjang Beliau dalam memperjuangkan NKRI.

Karya Aguk Irawan ini memberikan cara yang luwes dalam mengisahkan biografi tokoh ternama seperti Gus Dur. Cerita yang dikemas dalam bentuk Novel, membuat kita bisa merasakan emosi yang hendak disampaikan oleh Aguk yang pernah dialami oleh Gus Dur. Semisal ketika membaca halaman di mana KH Hasyim Asyari wafat, perasaan kita akan terbawa dalam keadaan sedih, atau ketika Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, mengalami kecelakaan di Bandung dan meninggal dunia ketika tengah dalam perjalanan bersama Gus Dur, kita akan dibuat merasakan perasaan kalut dan duka.

Selesai dengan masa kecil Gus Dur yang erat kaitannya dengan dunia pesantren, di bagian lain novel kita akan menemukan fakta menarik bahwa Gus Dur adalah sosok yang gemar sekali membaca dan sangat dekat dengan buku. Dalam usia yang dapat dikatakan Dini, Gus Dur bahkan telah mengkhatamkan Marxisme, Leninisme, dan bacaan berat lainnya yang notabene berbahasa asing.

Di luar itu, Gus Dur dengan kecerdasannya mampu menguasai kitab-kitab kuning dan pelajaran-pelajaran lainnya dalam waktu yang relatif singkat, sehingga ia cenderung bosan lantas mengabaikan pembelajaran formal di dalam kelas.

Hal lain yang membuat novel ini menarik adalah banyak hal tak terungkap tentang Gus Dur yang dmuat dalam novel ini, antara lain tentang kecerdikannya dalam membuat taktik, hubungannya dengan teman-temannya di pesantren Tegalrejo, dan persinggungannya dengan beberapa orang-orang komunis di Yogyakarta.

Tetapi sangat disayangkan, bahwa kisah pengembaraan itu usai diceritakan ketika Gus Dur mulai menginjakkan kaki di Eropa. Tentu akan lebih menarik jika novel ini juga berisi bagaimana perjalanan Gus Dur di Eropa sehingga bagaimaa sepak terjangnya di sana dan dengan siapa saja ia berinteraksi di Benua yang terkenal dengan modernitasnya tersebut. atau mungkin novel lanjutan dari Peci Miring ini akan terbit dengan mengisahkan perjalanan Gus Dur yang lebih panjang, di mulai sejak ia mengembara di Eropa. (Red)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)