Artikel

Puisi Terakhir Husain Manshur Al Hallaj

Admin MSN | Sabtu, 03 Agustus 2019 - 00:04:31 WIB | dibaca: 63 pembaca


Oleh: Rizky Muhammad F

اقتلونى يا ثقاتى

Bunuhlah aku, wahai Kasihku !

 إن فى قتلى حياتى

Sesungguhnya hidupku ada di dalam matiku

ومماتى فى حياتى

Dan kematianku ada didalam hidupku

 وحياتى فى مماتى

Juga kehidupanku, ada di dalam matiku

إن عندى محو ذاتى

Sungguh Ketiadaan diriku

من أجل المكرمات

Adalah sebuah kehormatan agung

وبقائى فى صفاتى

Dan kekekalan diriku/hidupku dalam sifat sifat ini

من قبيح السيئات

Adalah kejelekan terburuk

فاقتلونى واحرقونى

Bunuhlah aku ! bakarlah aku !

بعظام الفانيات

Dengan tulang belulang yang rapuh ini

 

 

الهى اصبحت فى دار الرغائب

Tuhanku aku berada di dalam rumah impian

أنظر الى العجائب

Aku melihat banyak sekali keajaiban

 

     Puisi diatas adalah puisi atau syair dari seorang yang legendaris, yang terkenal dengan cintanya yang gila kepada Tuhan, Maulanaa Syaikh Husain Manshur Al Hallaj, yang pergi memenuhi paggilan Tuhan di tiang gantungan pada tanggal 27 Maret 922 M. Beliau dihukum mati dengan alasan bahwa ajaran- ajarannya menyesatkan umat. Namun para ulama banyak pula yang menyangsikan bahwa itu alasannya. Muncul sebuah dugaan bahwa beliau dihukum mati karena dapat mengancam eksistensi pemerintah di masa itu. Semoga Allah Ta’ala memberikan tempat yang terbaik disisi Nya. Aamiin.

     Husain Manshur Al Hallaj adalah seorang Ulama Besar yang hidup di zaman Abbasiyyah, zaman kejayaan bagi sejarah perjalanan panjang umat Islam dunia. Tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Al Muqtadir Billah. Beliau lahir di perkampungan Tur, wilayah Baidha, Fars, Persia, pada tahun 858 M. Beliau anak tukang pemilah benang yang miskin. Kelahirannya amat di dambakan sangat lama oleh  kedua orang tuanya yang saleh lagi salehah itu. Beliau hidup satu zaman dengan Ulama Besar Syaikh Abu Bakar Asy Syibli dan Al Imam Junaid Al Baghdadi. Beliau sendiri adalah murid dari Al Imam Sahl At Tustari, seorang ulama terkemuka dan Sufi Besar di zamannya. Banyak sekali hal-hal yang menarik dari pemikiran beliau untuk dijadikan bahan kajian dan penelitian. Terutama ajaran tentang konsep ketuhanan dan konsep keber-agama-an yang beliau gaungkan. Banyak pula statement-statement janggal yang sering beliau lontarkan, seperti “ Ana Al Haqq “ yang artinya “ akulah kebenaran “.

     Syair ini mengambarkan situasi psikologis sang Penyair saat menghadapi situasi yang sangat mengenaskan dalam hidupnya, situasi saat beliau dibawa dan diseret menuju tiang gantungan, disaksikan mata puluhan ulama dan ribuan masyarakat dengan wajah memerah penuh kebencian kepada Sang Martir Rindu Tuhan ini. Dengan penuh rasa sendu dan pilu, Sang Imam dibawa menuju tempat gantungannya dan menjalani hukumannya yang sangat sadis itu. Mengapa hukuman yang begitu tragis harus dilalui Sang Imam ? Awal mulanya para penguasa pengetahuan keagamaan eksoterik, literal, konservatif dan ortodoks: para ahli fiqh dari segala aliran, para ahli hadits, terutama kelompok Hanbalian dan para teolog, meradang dan marah luar biasa.

Demonstrasi besar-besaran berlangsung di mana-mana, di seluruh negeri. Puluhan  otoritas agama eksoterik itu menghimpun tanda tangan dan berebut membubuhkannya, menuntut kematiannya. Mereka mengeluarkan fatwa: “Bunuh dia, Darahnya Halal ditumpahkan”. Beliau, keluarga dan para pengikutnya ditangkap dan dijebloskan di penjara. Peradilan terhadapnya kemudian digelar. Para jaksa menuduhnya dengan “telah melakukan kejahatan berlapis”. Secara politik beliau dianggap agen gerakan Qaramit, salah satu sekte Syi’ah Ismaili, sayap garis keras dan brutal. Gerakan Politik di bawah pimpinan Hamdan al Qarmathi ini telah lama menentang kekuasaan dinasti Abbasiyyah dan berusaha menggulingkannya. Mereka acap melakukan pemberontakan di mana-mana. Secara agama Sang Imam dituduh tukang sihir dan zindiq (Atheis). Pembelaan yang cerdas dan jujur tak mampu melawan tekanan masa emosional dan represi politik pencitraan. Pengadilan  akhirnya menjatuhkan vonis: Husain Manshur al Hallaj dihukum mati. Kekuasaan politik mendukung putusan ini. Khalifah Al Muqtadir Billah menandatangi vonis itu. Sang Imam tak gentar dengan putusan ini. Beliau sudah mengetahui dan sudah lama menginginkan kematian seperti ini. Meski gurunya Syeikh al Junaid memberi nasehat, dia tak surut, tak bergeming. Dia dengan lugas mengatakan :

وان قتلت او صلبت او قطعت يداى ورجلاى لما رجعت عن دعواى

“Biar pun aku dibunuh atau disalib atau dua tangan dan kakiku dipenggal, aku tak surut untuk mendakwahkan kebenaranku”.

     Akhirnya pada tanggal 27 Maret 922, eksekusi mati dilaksanakan di hadapan ribuan pasang mata merah yang terus meradang dan tak henti berteriak histeris. Yel-yel Allah Akbar, Allah Akbar menggelegar. Sejumlah ulama Fiqh, Hadits dan Kalam menjadi saksi. Faqih literalis ekstrim sekaligus orang yang paling bertanggungjawab atas fatwa mati dan pengadilan Hallaj : Muhammad bin Daud, pendiri mazhab fiqh Zhahiri, berdiri paling depan. Sejumlah sufi besar juga hadir, meski memperlihatkan sikap dan suasana batin yang berbeda, menyaksikan peristiwa paling dramatis ini. Mereka, untuk menyebut beberapa saja, adalah Al Imam Qasim Al  Junaid Al Baghdadi, Abu Bakar al Syibli, Ibrahim bin Fatik. Yang terakhir ini adalah sahabat setia yang selalu menemani Sang Imam di penjara.

     Tak jelas bentuk hukuman mati untuk Sang Imam itu, apakah di tiang gantungan, dipenggal atau disalib di pelepah kayu keras. Mungkin tak penting betul untuk dijawab. Tetapi beberapa menit menjelang kematiannya, meski tubuhnya dililit rantai besi, Sang Imam dengan riang, seperti akan bertemu kekasih, menengadahkan wajahnya ke langit biru yang bersih, seakan siap menyambut kedatangannya. Beliau menyampaikan kata-kata monumental yang indah beberapa detik sebelum nafasnya pergi :

“ Wahai Tuhan, lihatlah, hamba-hamba-Mu telah berkumpul. Mereka menginginkan kematianku demi membela-Mu dan untuk lebih dekat dengan-Mu. Wahai Tuhan, ampuni dan kasihi mereka. Andai saja Engkau menyingkapkan kelambu wajah-Mu kepada mereka sebagaimana Engkau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tak akan melakukan ini kepadaku. Andai saja Engkau turunkan kelambu wajah-Mu dariku, sebagaimana Engkau menurunkannya dari mereka, niscaya aku tak akan diuji seperti ini. Hanya Engkaulah Pemilik segala Puji atas apa yang Engkau lakukan. Hanya engkaulah pemilik segala puji atas apa yang Engkau kehendaki ”. Suasana senyap. Imam Al Hallaj diam. Abu al Harits al Sayyaf, sang algojo, melangkah gagah dengan wajah amat angkuh, mendekati Sang Imam. Ia menampar pipi beliau dan memukul hidung beliau begitu keras hingga darah mengaliri jubahnya.

Masih dalam suasana syahdu, Sang Imam menyenandungkan puisi rindu:

 

Aku menangis kepada-Mu
Bukan hanya untuk diriku sendiri
Tetapi bagi jiwa yang merindukan-Mu
Akulah yang menjadi saksi
Sekarang pergi kepada-Mu
Akulah Saksi Keabadian

 

Begitu kepala beliau terpenggal (atau terkulai) dan tubuhnya jatuh ke tanah atau diturunkan dari tiang salib, suara kegembiraan bergemuruh, membahana dan membelah langit: “Allah Akbar. Semua ini untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin”. Tak cukup puas dengan itu, menurut satu cerita, potongan kepala disiram minyak lalu dibakar. Lidahnya dipotong dan matanya dicungkil. Takbir terus menggema, bertalu-talu. Esoknya, abu dari tubuh jenazahnya ditaburkan ke udara dari puncak menara sungai Dajlah (Tigris), sementara kepala dan dua tangan beliau digantung di tembok penjara.

     Kisah tragedi kematian mistikus besar ini disampaikan berbagai sumber dengan beragam nuansa mitologis dan dongeng (Asthurah). Sebagian cerita yang berkembang kemudian: “ Al Imam Al Hallaj tidak mati. Dia naik ke langit seperti Isa dan akan kembali ke bumi, seperti Isa ”, “ Sungai Tigris subur makmur berkat abu  jenazah Imam Al Hallaj ”. Konon, pada hari ketiga kematian Imam Al Hallaj, Tigris memuntahkan kemarahannya dengan menenggelamkan bumi Baghdad. Pesan Hallaj sebelum mati kepada adiknya agar menghentikan bah dahsyat itu. Kuburannya di Bagdad sampai hari ini, menjadi tempat ziarah paling ramai dikunjungi beribu orang tiap hari dari berbagai penjuru bumi.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)