Opini

Pupusnya Prinsip Kejujuran Pemuda Zaman Now

Admin MSN | Jumat, 08 Juni 2018 - 06:21:01 WIB | dibaca: 80 pembaca

Oleh: Dewi Khazanah

Dalam bahasa Arab صَدَقَ - يَصْدُقُ bermakna jujur. Jujur bukanlah semata-mata tidak berkata dusta. Nabi bersabda, "Katakanlah kebenaran itu walupun pahit." Tetapi zaman sekarang kata ini mencari orang yang jujur sama dengan mencari jarum di dalam sekam. Nabi memerintahkan kita untuk selalu berlaku jujur bagaimana dan seperti apapun keadaannya. Ketika Nabi bersabda, "andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya," sesungguhnya Nabi mengajarkan kita bahwa hukum tidak boleh pandang bulu, hukum tidak poleh tajam di bawah (masyarakat menengah ke bawah) dan tumpul di atas (masyarakat menengah ke atas) seperti pisau. Allah berfirman dalam Al-Qur'an "sampaikanlah amanat kepada yang berhak”, Allah memerintah kita untuk bersikap jujur dalam memegang amanah.

Tengoklah pemuda zaman now di era milenial ini. Masihkah tersedia kejujuran di dalam segala sikap dan perilakunya?. Minimnya sikap tasamuh yang tercermin dalam sikap enggan menolong rekan, dalam keadaan mampu adalah perilaku yang menodai kejujuran. Namun tidak demikian dengan memberikan contekan saat ujian berlangsung, hitu sama halnya dengan menggadaikan kejujurannya dengan pertemanan. Pun demikian dengan kebiasaan titip absen yang kerap kali dianggap wajar. Sifat jujur rasanya belum menjadi karakter yang membumi dalam prinsip pemuda zaman now.

Pemuda zaman now yang suatu hari nanti akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan negeri ini sudah selayaknya menjadikan jujur sebagai prinsipnya. Negeri ini tak akan bebas dari pejabat-pejabat korup jika penerapan kejujuran dalam hal yang sederhana saja belum mampu. Selain berprinsip, pemuda zaman now mesti lebih bijak dalam menanggapi berbagai isu social. Kenderungan bersikap reaktif dan bersikap gegabah merupakan karakter pemuda zaman now yang mesti dihilangkan.

Beginilah wajah pemuda di era milenial ini. Maraknya pemuda yang berguru pada arus media sosial menjadikan pemahaman Islam yang salah kaprah. Sehingga digitalisasi keilmuan pesantren yang sudah tidak perlu diragukan lagi sanadnya perlu digencarkan. Untuk menanggulangi maraknya pemahaman yang menyimpang dan jauh dari nilai-nilai luhur keberislaman. Indonesia butuh pemuda yang tidak hanya mampu membawa kebenaran, namun juga kedamaian. (Dewi Khazanah/Arina Nh)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)