Artikel

Reformasi Manajemen Waktu Santri

Admin MSN | Kamis, 22 Februari 2018 - 10:25:09 WIB | dibaca: 191 pembaca

           Setiap orang mempunyai bagian waktu yang sama dalam sehari yaitu 24 jam, mulai dari santri, ustadz ataupun kyai melakukan aktivitas sehari-hari dengan kurun waktu yang sama. Semua itu tergantung apa yang bisa dilakukan setiap detiknya, apakah memilih menggunakan waktu untuk hal yang bermanfaat bagi diri sendiri atau digunakan untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain. Yang perlu diingat adalah jangan sampai waktu berlalu dengan penyesalan karena melakukan hal negatif yang merugikan diri sendiri atau merugikan orang lain.

            Bercermin kepada ulama pada zaman dulu, sebagaian dari mereka menggunakan waktu pagi sampai sore untuk aktivitas Habluminannas yaitu dengan memanfaatkan mayoritas waktunya untuk kegiatan bersosial, bekerja dan berkumpul bersama orang-orang selama kurang lebih 14 jam dari jam 06.00 - 20.00. Setelah itu malam harinya dimaksimalkan untuk aktivitas Habluminallah yaitu dengan menggunakan waktunya untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah SWT, melakukan ibadah sunnah dan amalan-amalan yang diistiqomahkan setiap hari untuk meningkatkan mahabbah kepada sang khaliq selama kurang lebih 10 jam dari jam 20.00 - 06.00. Tidurpun bisa menjadi ibadah ketika sebelum tidur berniat istirahat agar hari esok bisa kuat beraktifitas dan beribadah secara maksimal. Disisi lain kewajiban sholat lima waktu yang tidak bisa ditinggalkan.

            Fenomena pada zaman now, khususnya di pondok pesantren mahasiswa banyak santri yang tidak peduli dengan manajemen waktu. Mereka melewati hari hari seperti air yang mengalir mengikuti arus, hanya melakukan kegiatan rutinitas tanpa target untuk masa depan. Kegiatan seperti kuliah, makan, bermain game, mengaji, dan tidur sudah menjadi rutinitas harian tanpa pengaturan. Hal ini dapat berakibat pada tidak maksimalnya kegiatan yang kita lakukan, seperti telat berangkat mengaji dan kelelahan saat bangun. Perjuangan orang tua dirumah yang dengan susah payah mencari biaya untuk anaknya yang sedang merantau untuk mondok dan kuliah bisa dijadikan motivasi untuk mengatur waktu untuk hal-hal yang bermanfaat saja, memaksimalkan kegiatan menuntut ilmu di pondok dan di kampus. Orang-orang desa menitipkan harapan yang besar kepada mereka yang berstatus santri apalagi yang mampu melanjutkan pendidikan lebih lanjut agar kelak saat pulang ke kampung halaman bisa membangun desa dan mendidik masyarakat menjadi lebih baik.

            Pentingnya mengatur waktu dengan baik bisa menjadi salah satu indikator keberhasilan seorang santri di masa depan. Sebagai salah satu metodenya adalah dengan mengkotak kotakan waktu, contohnya

 

       Beribadah sholat wajib 10 menit setiap sholat fardu (maghrib, isya, shubuh, dzuhur & ashar) 50 menit

       Beribadah sholat sunnah & amalan-amalan yang diistiqomahkan 1 jam

       Mengaji, Hafalan & Membaca buku 5 jam (dengan manajemen waktu sesuai kesibukan masing-masing)

 

Dengan mengatur waktu seperti itu dalam sehari, aktivitas yang dilakukan akan sejalan dengan jalur yang kita tempuh untuk meraih cita-cita di masa depan. Kegiatan wajib diatas jika dikalkulasikan hanya 7 jam untuk aktivitas yang positif untuk meningkatkan integritas diri sendiri dan mahabah kepada Allah SWT sebagai seorang santri, 17 jam yang lain bisa digunakan untuk melakukan aktivitas apapun seperti kuliah, makan, tidur dll asalkan tidak untuk melakukan hal-hal yang negatif.

            Setiap orang mempunyai tanggung jawab dan kesibukannya masing-masing,  jangan sampai waktu yang memburu dan mengejar anda, tapi taklukan waktu dengan manajemen terbaik untuk mencapai target-target yang harus diselesaikan. Dengan demikian kesuksesan pasti akan datang dan kebermanfaatan akan dirasakan oleh orang-orang sekitar. (Febi/*Efi)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)